
Rendra pergi keluar mencari udara segar. Dia seorang pria jadi harus bisa menerima apapun keputusan Clara dan Rendra bukanlah pria lemah. Jadi, ia harus bangkit dan tidak boleh larut dalam masa lalu.
Berharap waktu akan menyembuhkannya. Clara tidak bisa di raih, dan sampai kapanpun tak akan bisa.
" Aku melepas mu, Ca. Aku akan membuka hatiku untuk yang lain. Kau dengan hidupmu begitupun denganku," pandangan Rendra menuju ke depan. Angin senja yang sedikit kencang menyapu wajah tampannya.
Seolah ia sedang melepaskan semuanya. Satu nama yang selalu mengisi ruang hati Rendra kini harus di lepas. Tak ada rasa cinta lagi untuknya. Bukankah terpuruk pada masa lalu hanya akan lebih melukai dirinya.
Tidak akan mendapat wanita yang sama persis dengan Clara. Tapi, ia akan membuka hati untuk wanita di masa depannya. Masa lalu biarlah jadi sejarah hidup dan tidak akan terulang lagi.
***
"Mel, aku akhir-akhir ini suka senja. Entahlah aku suka memandang warnanya yang indah dan aku merasa nyaman. Senja itu sepi dan sunyi. Aku tidak suka kesepian tapi aku merasa nyaman saat memandang senja. Seolah mengingatkan diriku bahwa aku sendiri dan aku hanya boleh mengandalkan diri sendiri," ucap Clara lirih. Cairan bening lolos dari sudut mata indahnya.
Hanya dirinya yang tahu apa sebab air mata itu jatuh. Wanita yang di paksa kuat dalam kondisi apapun. Tidak ada tempat bergantung tidak ada tempat mengadu kesenangan ataupun kesedihan.
__ADS_1
"Besok akan ada matahari terbit, kau lebih suka langit fajar kan?" tanya Meli.
"Iya, aku suka. Tapi, aku sekarang lebih suka senja."
"Sepi, sunyi sendiri yang banyak kurangnya dan tidak layak buat siapapun. Baikku tak terlihat, tulus ku tak bermakna apapun Mel."
"Kau jangan seperti itu. Akan ada saatnya kau di hargai Clara. Akan ada saatnya ada untukmu tempat bersandar."
"Aku capek banget Mel. Mau tidur sedikit lama. Aku mau bermimpi yang indah."
" Aku percaya kau kuat Clara. Bukankah sejauh ini kau baik-baik saja."
Meli merasa iba melihat sahabatnya. Clara menunjukkan sisi rapuhnya kepada Meli. Pernikahan yang dibina selama tujuh tahun harus kandas. Saat kehadiran yang di tunggu semua pasangan hadir di antara keduanya. Saat kondisi Clara sedang hamil, ia harus mengambil jalan perpisahan. Keputusan yang tidak mudah untuk semua wanita.
Clara menunduk, ia terisak. Rasanya sudah tidak sanggup untuk menahan air matanya. Tangisnya tidak mengubah apapun. Tapi setidaknya akan menjadikan ia lebih baik. Hatinya akan sedikit membaik.
__ADS_1
"Aku kuat, dan aku akan baik-baik saja. Aku ada anak yang harus aku rawat dan aku didik dengan baik Mel. Aku bukan wanita lemah yang hanya bisa bergantung pada pria," jawab Clara dengan tangan kanan menyapu cairan bening yang lolos dari kedua sudut mata indahnya.
"Inilah Clara yang aku kenal. Ada anak-anak yang akan menjadikanmu lebih kuat lagi."
***
Tangisan bayi menggema di sebuah kamar berukuran 3mx3m. Suaranya setiap pagi selalu memberi semangat untuk wanita yang sedang menyiapkan asi untuk buah hatinya tersebut.
" Oh, anak-anak mama sudah lapar ya?" ucap Clara.
Iya, wanita tersebut adalah Clara. Dua minggu yang lalu ia melahirkan dua buah hati berjenis kelamin laki-laki dengan cara operasi caisar. Senyum tak lepas dari wajah cantik Clara. Ia lelah tapi juga sangat bahagia dengan kehadiran kedua buah hatinya.
Dimas akan datang di sore hari saat ia pulang kerja. Hanya melihat dan menjaga kedua anaknya. Tidak terhitung berapa kali Dimas membujuk Clara, tapi hati wanita itu seolah sudah mati jadi tidak sedikitpun tergerak untuk kembali kepada Dimas.
Waktu mengubah segalanya, cinta bisa jadi benci begitupun sebaliknya. Tidak bisa mempertahankan suatu hubungan. Jalan salah namun baik adalah berpisah.
__ADS_1