With You Again

With You Again
Bonchap ( Tak berarti lagi)


__ADS_3

Napas Clara masih naik turun, ia tidak menyangka Dimas akan seperti ini. Sangat sulit baginya untuk melepaskan diri dari Dimas. Waktu yang mereka lewati bersama. Serta hati Clara yang berkali-kali sempat goyah. Terlalu ingin menjaga hati orang lain sampai tidak terasa hatinya sendiri lah yang paling terluka.


"Maaf kan aku Clara. Aku janji tidak akan mengulangi lagi. Hidupku jadi berantakan tanpamu."


"Aku sudah pernah bilang kepadamu berkali-kali jangan katakan maaf kalau kau tidak paham apa makna kata maaf itu. Dan kau tadi bilang janji? Kau berapa kali bilang aku wanita murahan? Kau berapa kali janji tidak akan mengulangi lagi mengucapkan kata murahan itu. Kau memandang hina kepada istrimu sendiri. Serendah itukah aku dimata suamiku? Kau yang lebih tahu bagaimana aku menjaga diriku. Dan asal kau tahu tidak ada seorang pria pun yang menyentuh seujung rambutku sekalipun kecuali kau suamiku. Aku selalu menjaga semua nya untukmu. Aku menjaga cintaku, diriku, perhatian ku untukmu semua untukmu. Tapi kau masih berkata kasar kepadaku," teriak Clara dengan penuh emosi.


Dimas menunduk cairan bening sudah menetes dari kedua sudut matanya. Ia membenarkan semua perkataan Clara. Sebagai suami dirinya selalu di kuasai emosi. Sering mengabaikan sang istri dan tidak mah tahu perasaan Clara.


" Kau menangis mas? Simpan air matamu! Dulu kau pernah seperti ini dan kau lagi-lagi menyakitiku. Hati yang mati tidak akan hidup lagi. Bukan aku yang membunuhnya, tapi kau sendiri lah penyebabnya."

__ADS_1


"Maaf."


"Pulanglah! Ngga ada yang perlu kita bicarakan," usir Clara. Tangan kanannya menunjuk ke arah pintu.


"Apa tidak bisa kita mengulang kisah kita?" tangan Dimas menyentuh tangan Clara.


Clara menangis, bohong kalau dirinya tidak ikut merasakan sakit saat melihat Dimas seperti ini. Rasanya Clara ingin goyah. Bagaimana pun waktu tujuh tahun bukan waktu sebentar. Dan Clara mencintai Dimas tulus dari hati.


Clara memundurkan langkahnya. Genggaman Dimas masih terasa di tangan nya karena Dimas tidak mau melepaskan tangan Clara. Tapi, tidak ada debaran di hati Clara. Wanita itu benar-benar mati rasa. Air mata nya hanya kasian melihat Dimas yang menangis seperti itu.

__ADS_1


Kenapa kadang manusia tidak perduli dengan apa yang di miliki? Apa arti pernikahan? Apa arti cinta yang sesungguhnya? Semua pertanyaan itu muncul di benak Clara. Memberi dan menerima? Yakin dan percaya? Semua sudah ia lakukan. Ternyata masih kurang dan semua tidak bermakna apa-apa.


Clara lupa cara menghargai dirinya sendiri. Wanita itu lupa terakhir kali suaminya bilang cinta padanya. Pandangan penuh mesra yang selalu ia rindukan tak ada lagi dari lama. Bahkan sudah lama Dimas tidak pernah menggenggam erat tangan wanita itu. Dan Clara si bodoh yang terlambat menyadari itu. Hingga batas kesabarannya mencapai batasnya. Kecewa tidak di anggap, kecewa tidak dihargai. Memberi utuh mendapatkan separuh. Perpisahan dari suatu hubungan tidak semata hanya orang ketiga.


Bosan kah, dengan pasangan? Tidak ada komunikasi? Atau cinta sudah tidak ada lagi di antara keduanya?


Semua pertanyaan yang harusnya bisa di jawab dan bisa diselesaikan dengan baik oleh pasangan suami istri. Untuk Clara sudah tidak ada lagi cinta untuknya. Sehingga suami nya selalu dengan gampangnya menyakiti Clara. Jalan salah, namun baik untuk semua berpisah.


"Aku sudah mati rasa. Aku ngga mau mengulang lagi cerita. Aku tetap pada keputusan ku."

__ADS_1


"Clara lihat aku! Aku masih mencintaimu."


"Cintamu tak ada artinya lagi untukku. Hatiku sudah mati rasa."


__ADS_2