With You Again

With You Again
Sudah mati rasa.


__ADS_3

Rendra membuka laci meja kerjanya. Ia mengambil kotak berwarna biru. Ia ambil dan meletakkan nya di atas meja. Amplop warna coklat menjadi tujuan utamanya untuk membuka kotak tersebut. Sebuah surat dari almarhum sang Papa. Dan sampai sekarang Rendra tidak berani membuka surat tersebut.


"Aku selama ini tidak pernah penasaran dengan surat yang Papa berikan karena memang aku boleh tidak membukanya. Dan aku pikir ini tidak penting. Tapi hari ini aku akan membukanya."


Rendra membaca setiap kata yang tertulis di dalam surat tersebut. Tangannya mencengkram erat isi surat itu. Ada rasa tidak terima dan sakit di hati Rendra. Pesan yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Tapi, Papanya juga tidak memaksa ia melakukan permintaan nya.


" Papa aneh-aneh saja. Mana mungkin aku menuruti permintaan Papa. Tapi, ini juga tidak mengharuskan aku melakukan itu. Jadi aku tidak akan melakukannya."


Rendra meletakkan surat tersebut di atas meja kerjanya. Ia berdiri dari tempat duduknya dan segera berjalan keluar ruangan. Kini tujuannya adalah ke tempat dimana ia bisa menenangkan diri.


***


Clara masih sama seperti biasanya. Ia diam seribu bahasa. Tidak ada lagi nada manja penuh perhatian yang sering ia lakukan kepada suaminya. Sore ini ia sedang tiduran di atas ranjang king size miliknya sambil tangan sibuk berselancar di akun media sosialnya. Memang sudah lama ia tidak membuka akunnya. Sesekali ia tertawa melihat komentar lucu dari Rendra. Entahlah pria masa lalu yang selalu menunggu nya.


"Kenapa senyum-senyum seperti itu?" tanya Dimas.


"Ngga apa-apa."


" Kau ini kenapa ha? Aku selalu bertanya kepada mu. Kau kenapa sekarang berubah? Dan itu di meja obat apa?" tunjuk Dimas ke arah meja yang ada beberapa butir obat.


"Itu vitamin, bukan obat."


"Kau kenapa Clara?" suara Dimas melunak. Rasanya ia harus lebih memperlakukan istrinya dengan baik. Ada rasa khawatir dan penasaran kenapa istrinya meminum vitamin tersebut.


"Ngga apa-apa, aku hanya lelah saja."


"Selalu itu yang kau ucapkan. Aku sudah minta maaf tapi kau selalu menghindar dari ku selama hampir empat bulan. Kau kenapa Clara?" tanya Dimas dengan nada suara serendah mungkin.

__ADS_1


"Kau tanya aku kenapa? Kau tidak bisa berpikir apa yang telah kau lakukan selama ini mas. Tahu arti kata lelah tidak?" tanya Clara masih dengan nada suara serendah mungkin.


"Apa maksudmu lelah? Aku sudah minta maaf Clara."


"Jangan katakan maaf kalau kau benar-benar tidak tahu makna sebenarnya kata itu."


"Entahlah, aku semakin tidak mengenal dirimu. Bukankah aku sudah minta maaf dan artinya semua sudah selesai."


"Iya, selesai. Ayo kita selesaikan semuanya. Kau selalu seperti ini tidak perduli kepadaku selalu mengabaikan aku. Kau selalu diam saat aku ajak bicara, kau merasa aku baik-baik saja. Mengertilah aku sedikit saja, Mas."


"Aku sudah cukup mengerti dirimu. Dan janganlah membesarkan masalah Clara."


"Mas, kau bilang aku membesarkan masalah. Dari mana? Kau yang selalu tidak menghargai aku kau tidak tahu betapa aku selalu menahan sakit saat aku lihat pandangan ibu mu yang penuh kebencian terhadap ku. Dan waktu di Surabaya, kau menuduhku selingkuh dengan Rendra."


" Aku seorang pria dan aku bisa melihat kalau Rendra menyukaimu."


" Bagus kalau begitu, itu artinya kau menjalin hubungan bersama nya waktu di Surabaya dan apa bedanya dirimu dengan perempuan murahan di luar sana."


" Kau yang paling tahu aku seperti apa. Tidak ada pria lain yang menyentuhku selain kau yang berstatus suamiku, kau pertama dan sampai detik ini hanya kau. Harusnya kau lebih tahu dari siapapun Mas. Apa aku begitu rendah di matamu. Mana hatimu yang dulu mencintaiku? Mana Dimas yang aku kenal dulu. Kenapa kau berubah?" teriak Clara sekencang mungkin sambil tangannya terkepal erat.


" Satu lagi, aku pernah pacaran dengan Rendra. Tapi sedikit pun dia tidak pernah menyentuh ku. Walaupun itu hanya kecupan di kening, ia tidak pernah melakukan itu."


" Aku tidak percaya."


"Itu hak mu tidak percaya, aku tidak butuh kepercayaan mu lagi. Karena sekarang kisah kita sudah usai. Terima kasih semua baiknya, bahagianya, perhatian nya selama ini. Maaf kan aku yang menjadi manusia banyak kurangnya," Clara berdiri ia berjalan ke arah lemari.


Tidak ada sedikit pun air mata yang menetes di pipi Clara. Ini bukan Clara yang sebenarnya, dimana wanita yang cengeng itu. Dimana Clara yang selalu menangis. Apakah air matanya kering? Atau hatinya terlalu sakit hingga menjadi mati rasa.

__ADS_1


"Kau mau kemana?" Dimas mendekat ke arah lemari dimana Clara sedang mengemasi pakaiannya.


"Aku sudah bilang kisah kita sudah usai."


"Kau mau pergi menemui Rendra?"


"Anggap saja seperti itu. Yang jelas aku akan pergi dari tempat ini, dan juga dari hidupmu."


"Kau jangan main-main Clara?" bentak Dimas.


"Aku tidak main-main dengan ucapan ku Mas. Apa yang kau miliki harusnya kau genggam dengan baik. Kau sayang kau perlakukan dengan penuh kasih dan cinta. Tapi apa yang aku dapat? Cacian, makian makanan ku setiap hari. Kau tidak mau tahu apa yang terjadi padaku. Kau terlalu sibuk sendiri, kau tidak mencintai aku lagi Dimas," teriak Clara penuh dengan amarah.


"Aku mencintaimu."


" Cinta? Benarkah? Satu kata yang begitu dalam maknanya. Kau memberiku satu, aku memberikan dua, kau memberi dua aku memberi tiga. Selama hampir tujuh tahun kita bersama apa aku pernah minta sesuatu secara berlebihan Mas? Apa kurang semua rasa cinta dan perhatian ku untukmu? Kau tidak bisa merasakannya atau aku yang memang kurang memberikan nya. Entahlah anggap saja aku yang tidak peka dan aku yang bodoh karena sudah bertahan dengan hubungan yang seperti ini."


" Aku tidak mau pisah Clara. Semua bisa kita bicarakan baik-baik. Kita liburan bersama lagi, kita cari rumah," pinta Dimas, masih membujuk Clara sambil tangan menggenggam tangan Clara.


Clara tidak menanggapi ucapan Dimas. Ia berjalan dengan pelan sambil membawa koper miliknya. Rasanya memang ia tidak pantas untuk dicintai siapapun. Hatinya sudah mati rasa. Air matanya sudah tidak bisa keluar. Hatinya sudah tidak berbentuk dan sayapnya patah.


" Mbak Clara mau kemana?" tanya Ardi.


"Akan pergi kemana tempat ku berada. Akan pergi ke rumah yang bisa menerimaku dengan tulus. Tapi, dimana itu Ardi, apakah ada?"


"Mbak lihat aku!" pinta Ardi. Kedua tangan Ardi mencengkram erat bahu Clara.


Ardi tahu kakak iparnya sedang tidak baik-baik saja. Tidak ada buliran bening sedikitpun yang keluar dari mata Clara. Rasanya Ardi ikut merasakan sesak. Kakak ipar yang begitu ia kagumi selama ini. Wanita yang ada di hadapannya sedang rapuh. Bolehkah ia egois sebentar. Ingin rasanya Ardi memeluk Clara dengan erat.

__ADS_1


"Aku akan pergi dari sini. Aku akan pergi ke tempat di mana aku bisa di hargai. Tapi, aku tidak tahu apakah aku layak mendapatkan itu semua. Dan kalau ada, dimana kah tempat itu?"


__ADS_2