With You Again

With You Again
Janji yang terlupakan.


__ADS_3

Tidak bisa dipaksa, tidak bisa di cegah kalau sudah timbul rasa. Dan susah pergi kalau sudah menyatakan iya, aku cinta.


#Hati dan sebuah rasa.


Rasa sakit di pipi Clara tidak seberapa. Tapi hatinya jauh beribu kali lebih sakit. Dimas sudah menyakiti dirinya tidak hanya hati, fisik pun ia sakiti. Janji mencintai sampai akhir hanya omong kosong belaka. Satu persatu kata yang keluar dari mulut Dimas membuat hati Clara patah. Goresan luka lewat kata-kata yang selalu Dimas ucapkan mampu mematahkan hati wanita yang begitu tulus mencintai Dimas. Memberi namun tidak menerima. Hanya punya cinta yang sederhana selalu menjaga setianya dan menemani saat susah ternyata tidak cukup puas untuk pria seperti Dimas.


Langkah Clara tidak tentu, dan pandangan nya kosong. Mata indahnya sudah sembab karena terlalu lama menangis. Ia hanya berjalan tidak tentu arah. Kalau saja dirinya tidak sedang mengandung, mengakhiri hidup adalah jalan terbaik yang akan ia tempuh. Matanya melihat jalanan yang begitu ramai saat ada mobil melintas, ingin rasanya ia berlari ke tengah jalan untuk mengakhiri hidup. Lagi-lagi di sadarkan dengan ada nyawa yang harus ia jaga. Ada titipan Tuhan yang sangat berharga yang harus ia lindungi.

__ADS_1


" Tuhan baik, maha baik. Kau yang membuat mama kuat sayang," ucap Clara lirih. Sambil tangan memegang perut nya yang masih rata. Hanya itu kata yang ia ucapkan. Ya, masih ada Tuhan yang selalu ada bersamanya.


Langkah Clara berhenti di sebuah taman kecil di dekat komplek perumahan sang mertua. Ia melihat banyak anak yang berlarian. Hatinya sedikit menghangat, tiba-tiba ia tersenyum. Membayangkan akan ada seorang anak hadir di hidupnya. Karena ia sudah menunggu dari lama. Bahagia dan juga sedih dua hal yang datang bersamaan di hidup Clara. Bahagia karena akan punya anak, dan juga sedih akan perlakuan suaminya.


***


"Sudah berapa batang yang kau hisap?" tanya Mama Rendra sambil mendudukkan tubuhnya di kursi ya g berhadapan dengan Rendra.

__ADS_1


"Entahlah, Ma," Rendra segera mematikan rokoknya. Ia tahu betul sang Mama tidak tahan dengan asap rokok.


"Itu jalan hidup Clara dan kau tidak boleh hadir di antara mereka. Kalau kau berjodoh dengan Clara dengan cara apapun atau kapanpun pasti kalian akan berjodoh."


"Aku tahu, Ma. Tapi bayangan Clara selalu hadir di pikiran ku. Aku sendiri tidak tahu bagaimana mengusir bayangan Clara. Aku terkadang berpikir ini adalah opsesi. Tapi aku yakin ini adalah rasa ingin melindungi. Aku masih saja berharap dari dulu dan sampai detik ini."


" Itu opsesi Ren."

__ADS_1


" Bukan, Ma. Ini hanya rasa cinta yang selalu ada. Dan ingin menjaga dia memberinya banyak cinta. Aku hanya ingin bersama dia ma."


__ADS_2