With You Again

With You Again
Aku hanya malu.


__ADS_3

Kandasnya hubungan itu tidak hanya semata dari orang ketiga di antara kalian. Bisa juga itu dari dirimu sendiri. Jadi, jangan abaikan pasanganmu.


~***Clara***~


Riza spontan menutup telinganya. Teriakan Meli sungguh membuat telinganya berdengung nyeri. Bagaimana mungkin seorang wanita bicara sekelas itu. Sampai mereka menjadi sorotan tamu hotel yang sedang berlalu lalang.


Perdebatan Meli dan Riza masih saja berlanjut. Tidak ada yang mau mengalah diantara mereka.


"Apa maksudmu bicara seperti itu! Kau pikir kami wanita selalu berpikiran paling benar. Kita juga melihat akar masalahnya, kita juga ngomong itu nggak asal ngomong tahu," ucap Meli sambil menatap Riza dengan tajam.


Riza semakin tertawa mendengar ucapan Meli yang tanpa jeda tersebut. Wanita di hadapannya saat ini sungguh lucu sekali menurut Riza.


Clara yang melihat tingkah sahabatnya itu hanya menggelengkan kepala. Meli kalau sudah seperti ini selalu lupa tempat. Dirinya tidak akan peduli dengan pandangan orang lain.


"Udah, Mel marahnya?" tanya Clara.


" Eh, udah. Aku nggak marah kok," Meli berucap sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Udah, lah Mel, Riza kan tadi juga tidak sengaja. Dia juga sudah minta maaf kan?"


Meli menganggukkan kepalanya. Ia juga tidak ingin bertingkah seperti tadi. Tapi saat mengingat apa yang di lakukan Riza kepadanya. Seketika ia naik pitam.


" Mbak! Aku beneran tidak sengaja tadi. Maaf ya mbak?" pinta Riza dengan penuh penyesalan.


Meli membuang muka kearah lain. Ia menghindari tatapan dari Riza. Bukan dia sombong atau tidak bermaksud memaafkan Riza. Tapi, dirinya malu. Ia malu menatap pria yang telah mencuri ciuman pertamanya tanpa sengaja tersebut. Rasanya ia ingin segera masuk kamar hotel dan menutup semua bagian tubuhnya dengan selimut tebal.


"Mbak?" Riza berucap dengan lembut.


Meli masih tak bergeming. Bagaimana mungkin Riza bisa bersikap biasa saja seperti itu. Sementara dirinya malu sekali bertemu dia. Laki-laki yang selalu berpikir logika. Dan perempuan yang selalu mengedepankan perasaannya. Dan saat ini Meli hanya berpikir soal perasaannya saja.

__ADS_1


"Mbak, Meli mau maafin aku kan?" Riza mengulangi ucapannya. Sambil memandang ke arah Meli.


Meli menghembuskan napas kasar. Ia juga tidak bisa menghindari Riza terus. Mereka akan masih bertemu terus suatu hari nanti. Karena masih bekerja di satu perusahaan yang sama.


" Iya, maaf juga ya?" Meli mengarahkan pandangannya ke Riza.


Alhamdulillah mbak, aku pikir mbak Meli nggak mau maafin aku,"


" Nggak lah Mas Riza. Lagian juga tadi kan nggak sengaja."


Riza menganggukkan kepala. Lega rasanya akhirnya selesai juga masalah dengan Meli. Ternyata Meli tidak susah untuk dibujuk seperti apa yang ia takutkan.


" Udah selesai kan masalahnya?" tanya Clara.


" Iya, mbak. Makasih ya? Kalau bukan karena mbak Clara mungkin mbak Meli masih marah sampai tahun depan," Riza berucap sambil tertawa.


"Kau ngajak ribut lagi?" teriak Meli sambil menatap Riza tajam.


"Terus aja gombalnya jangan kasih ke dor siapa tahu Meli kecantol." Dimas ikut bicara menimpali pembicaraan mereka.


"Iya, ya Mas. Siapa tahu mau. Lagian aku juga jomblo."


"Nggak akan mempan," Meli berucap dengan tegas sambil melotot ke arah Riza.


Clara hanya diam menyaksikan perdebatan antara Meli dan Riza. Meli bukan tidak mau menjalin hubungan dengan pria. Banyak yang menyukai sahabatnya tersebut. Tapi, karena trauma nya di masa lalu itu membuat dirinya susah untuk membuka hati.


Tidak ada luka yang tidak bisa sembuh. Semua hanya soal waktu. Dan Clara berharap Riza lah yang akan menyembuhkan Meli.


"Udah ayo kita keluar saja gimana?" ucap Dimas mengalihkan pembicaraan agar Meli tidak melanjutkan pertengkaran nya dengan Riza.

__ADS_1


"Mau kemana mas?" tanya Clara.


" Kita jalan-jalan."


"Aku ganti pakaian dulu sebentar ya?" ucap Meli.


"Iya, aku tunggu," jawab Clara sambil menganggukkan kepala.


Kini mereka sedang di dalam mobil bersama. Dimas yang menyetir. Riza duduk di samping Dimas. Sementara Clara dan Meli di belakang.


Hati Dimas sedikit nyeri. Ia melihat istrinya yang tertawa lepas bersama sahabatnya. Sepertinya ia harus sering mengajak Clara untuk liburan. Selama ini ia terlalu sibuk bekerja dan terkesan tidak memperdulikan istrinya. Bukan Dimas tidak mencintai Clara. Tapi, dengan sifat dan sikap Dimas yang terkesan cuek itulah yang membuat Clara sering sedih. Dimas sering mengabaikan permintaan Clara, karena Dimas selalu melihat istrinya baik-baik saja tanpa mengeluh. Tapi, akhir-akhir ini Clara sering menangis dan ingin punya rumah sendiri. Itu masih menjadi pertimbangan untuk Dimas.


Di suatu tempat seperti pasar malam. Menjajakan berbagai makanan khas dari Surabaya. Mereka berkeliling dari stand makanan satu ke yang lainnya. Mencicipi semua makanan yang mereka mau.


"Hem... ini enak mas," sambil menyuapkan makanan ke mulutnya Clara berucap dengan senang.


"Kau suka?" tanya Dimas. Hatinya kembali dipenuhi dengan rasa bersalah. Istrinya terlihat semakin cantik kalau ia tertawa lepas seperti ini.


Dimas merasa dia adalah suami yang gagal. Clara tidak pernah minta sesuatu yang mahal. Dia hanya ingin punya rumah sendiri. Tapi, Dimas selalu menolak dengan alasan orang tuanya. Setelah dari Surabaya Dimas akan mencari rumah untuk mereka tinggali bersama dengan anak-anak mereka nanti.


"Clara! Kau disini juga?" panggil seseorang sambil menepuk pelan pundak Clara.


Clara menoleh ke arah sumber suara tersebut. Ia menghentikan kunyahan makanannya. Jantung nya terpacu lebih cepat. Clara diam tanpa menjawab orang tersebut.


Hayo... tebak siapa yang menepuk pundak Clara๐Ÿ˜„


Nanti yang benar aku kasih hadiah mobil ya...


mobil yang ada di dalam brosur tapi ๐Ÿ˜…

__ADS_1


Catatan author : Maaf baru update ๐Ÿ™๐Ÿ™Terimakasih telah menyempatkan diri membaca karyaku ๐Ÿ™ jangan luka like dan komen ya sayang โค๏ธ๐Ÿ™


Suka membaca, menulis dan bercanda. Dan, mungkin suka kamu... iya, kamu ๐Ÿ˜‰


__ADS_2