
Clara berjalan beriringan dengan Meli. Sementara Dimas, Rendra dan Riza mengikuti dari belakang. Mereka saling diam tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut.
" Aku pamit ya! Dan sampai bertemu lagi ya, Ren. Maaf aku melibatkan mu dalam masalah. Pertemuan kita setelah sekian lama malah jadi seperti ini. Aku berharap nanti kita bertemu menjadi teman baik. Kita ngobrol dan minum segelas kopi hitam tanpa gula. Kita tidak akan membutuhkan gula, karena pertemuan kita yang akan datang akan terasa manis."
Rendra tersenyum, ingin rasanya ia merengkuh wanita yang ada di hadapannya saat ini. Ingin ia peluk dan belai rambutnya. Ingin menjadi sandaran untuk wanita rapuh yang ada di hadapannya saat ini. Tapi, status diantara keduanya dan ada suami Clara yang menjadikan ia menahan keinginannya.
"Tidak ada masalah apapun yang kau buat Ca. Aku akan selalu ada untukmu," tangan Rendra mengelus pundak Clara.
"Ayo! Kita nanti bisa ketinggalan pesawat," ucap Dimas dengan keris sambil menggandeng tangan Clara untuk menjauh dari Rendra.
Mereka sudah ada di bandara. Segala sesuatu sudah Dimas urus tadi malam. Mulai pesan tiket dan lainnya. Ia menuruti permintaan Clara yang ingin segera pulang Yogyakarta. Dan Clara juga sudah berpamitan kepada rekan kantor nya melalui sampingan telepon. Karena pekerjaan Clara dan Meli sebenarnya sudah selesai dari tiga hari yang lalu.
"Makasih ya, Pak Rendra dan Riza aku akan kesini lagi kapan-kapan ya?" Meli memundurkan langkah. Ia melambaikan tangan kepada dua pria yang ada di hadapannya. Sesaat kemudian ia balikkan badan dan berjalan cepat. Mata nya berkaca-kaca. Seolah ada perasaan berat untuk ia meninggalkan Surabaya.
"Mbak, Meli tunggu!" teriak Riza sambil mengejar Meli yang sudah berjalan cukup jauh.
Ada suara yang tidak asing di telinga Meli. Suara pria yang menemani nya semalaman di kamar hotel. Tanpa melakukan apa-apa. Hanya menunggu nya yang sedang tidur, sedangkan Riza hanya duduk di sofa yang ada di kamar hotel. Meli berpikir, kalau Riza pria jahat bisa saja ia akan celaka tadi malam. Tapi, kenyataannya tidak seperti itu. Riza menjaganya pria yang baru ia kenal. Anggapan semua pria itu jahat sudah patah tadi malam dengan adanya Riza di sampingnya.
Keduanya saling pandang saat Riza berhasil mengejar langkah Meli. Mulutnya terkunci rapat semua kata yang ada di pikiran Riza hilang begitu saja. Rasa gugupnya dan debaran jantung yang semakin kencang menjadikan ia bungkam.
"Kenapa, Mas?" tanya Meli.
"Eh... emm, itu aku mau bilang."
"Bilang apa?" Meli kembali bertanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku akan ke Yogyakarta untuk mengunjungi mu."
"Iya mas, aku tunggu kapanpun Mas Riza datang."
"Kamu manggil aku mas?" Riza memastikan lagi, ia takut salah dengar. Karena Meli selalu memanggil nya dengan nama.
"Iya," Meli segera berlari meninggalkan Riza. Dia sangat malu dan gugup sekali.
Riza tertawa melihat tingkah Meli yang menurutnya sangat lucu. Galak-galak seperti Meli bisa juga bertingkat imut seperti itu. Pikiran Riza dipenuhi bayangan wajah Meli. Dan senyum tidak surut dari bibirnya.
"Udah, orangnya udah jauh. Jangan senyum-senyum sendiri dikira nanti gila lo," Rendra geleng-geleng kepala. Ia tahu betul apa yang di rasakan Riza. Karena pria mulai menyukai Meli.
"Ngga, lah pak."
🍁🍁🍁
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam menggunakan pesawat. Kini Clara, Dimas dan Meli sudah sampai di kota Yogyakarta. Meli sudah pulang lebih dulu menggunakan ojek online. Karena tadi ia menolak tawaran Clara yang akan mengantar nya. Sementara Clara masih menunggu jemputan dari adik iparnya Ardi.
Di sepanjang perjalanan Clara tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya duduk melamun sambil pandangan kosong ke arah luar.
"Mbak Clara sakit?" tanya Ardi memecah keheningan di dalam mobil. Sambil ia melihat Clara dari tampilan kaca spion yang ada di dalam mobil.
"Ngga."
Ardi sedikit kaget mendengar respon dari Clara. Tidak seperti biasanya Clara seperti itu. Wanita yang selalu ceria tiba-tiba bungkam seribu bahasa. Siapapun pasti akan heran melihat apa yang terjadi kepada Clara.
__ADS_1
Clara turun lebih dulu dari mobil. Ia tidak perduli dengan Dimas ataupun teriakan Ardi yang terus memanggilnya. Langkah nya semakin ia percepat karena Clara sungguh lelah rasanya. Bukan fisiknya yang lelah, tapi hati nya yang lelah.
Pintu ia buka dengan pelan. Jantungnya berdegup kencang. Ia benci perasaan ini, ia benci rasa takutnya. Ia benci dengan tatapan yang memandang ia dengan tatapan tidak suka. Ia mengambil oksigen sebanyak mungkin, tapi sayangnya sebanyak apapun ia mengambil oksigen, rasa sesak tidak bisa ia hindari. Dan sekarang rasa sesak itu sudah mulai memenuhi rongga paru-paru nya. Tangannya mengepal erat. Mata nya mulai berkaca-kaca, Clara tidak dalam kondisi baik.
"Kau baru pulang nak?" tanya bapak mertua yang sedang menonton tv di ruang tengah.
"Iya, pak. Maaf Clara ke atas dulu ya pak?" pamit Clara. Ia segera berjalan cepat menaiki tangga.
"Pulang sendiri mana Dimas? Istri tidak pengertian terhadap suami."
Langkah Clara terhenti. Ia tahu betul suara ini. Suara yang sejak dari dulu selalu merendahkan dirinya. Suara yang dari dulu membuat Clara merasa takut saat masuk rumah.
"Mas Dimas masih di luar sama Ardi bu," Clara menjawab tanpa menoleh ke belakang. Ia segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Air mata wanita ini sudah tumpah saat ia menaiki tangga. Rasanya ia tidak tahan lagi berada disini. Seandainya sang suami lebih peka. Clara tidak pernah minta sesuatu secara berlebihan. Cukup sedikit perhatian dari suami yang ia butuhkan. Bukan soal materi, tapi rasa perduli yang sedikit saja dari suami pasti akan membuat Clara lebih nyaman di rumah ini.
Clara menutup pintu kamar dengan keras. Ia kunci dari dalam agar Dimas tidak bisa masuk. Tubuhnya ia sandarkan pada daun pintu berwarna coklat tersebut.
"Aaakhhhhh... Rumah mana yang nyaman untukku Tuhan? Apa tidak ada orang yang bisa melihat ketulusanku? Kenapa kau dulu memilihku? Apakah tidak ada cinta dan sayang untukku disini?" teriak Clara. Ia memukul dadanya yang begitu sesak. Napasnya sudah tidak beraturan.
Rumah mana yang nyaman untuknya? Ia merasa dibuang, ia diabaikan. Tidak dianggap dan makian yang selalu ia dapatkan. Rumah, yang katanya tempat paling nyaman sepertinya tidak berlaku untuk Clara. Bukan rumahnya yang tidak nyaman. Tapi, suasana di dalamnya lah yang membuatnya sesak. Karena tidak ada sayang dan cinta untuknya.
Terima kasih telah menyempatkan diri membaca karyaku 🙏
Jangan lupa like dan komen ya 🙏❤️
__ADS_1