With You Again

With You Again
Maafkan aku yang banyak kurangnya.


__ADS_3

Aku rindu dirimu yang memandangku penuh cinta. Aku rindu kau menggenggam tanganku seperti dulu dan kau bisikkan kata cinta dengan mesra. Dan saat itu aku akan membalas mu dengan kata cinta di serta nada manja dan sebuah pelukan. Tapi kini semua tidak bisa terulang lagi karena kisah kita sudah usai. Bukan dirimu yang salah, tapi aku lah yang kurang memberi. Aku kalah aku menyerah dan sayap patah.


- Clara -


Ardi masih berusaha menghentikan langkah kakak iparnya. Sementara yang di bujuk tidak sedikitpun bergeming. Ia hanya berjalan menuruni tangga dengan pelan sambil tangan kanan nya menarik koper. Rasanya langkah wanita itu ringan dan tanpa beban. Benarkah keputusan nya untuk berpisah? Atau dia terlambat mengambil keputusan untuk berpisah yang seharusnya ia lakukan dari lama. Rasa sakitnya sudah tidak bisa di ungkapkan, air matanya sudah kering dan kini sudah mati rasa.


"Mbak pikirkan lagi. Semua bisa di bicarakan baik-baik."


"Ngga ada yang perlu di bicarakan, Ardi. Mau baik yang bagaimana?" Clara menoleh ke arah adik iparnya sambil melepaskan tangan Ardi dari kopernya.


"Clara tunggu! Kau jangan seperti ini. Ayo kita pindah rumah. Ayo kita mulai lagi dari awal," panggil Dimas yang menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.


"Maaf, Mas tidak ada yang perlu di ulang dari hubungan kita," jawab Clara sambil fokus pada benda pipih yang ada di tangannya.


"Sudah Dimas biarkan dia pergi. Lagian buat apa bertahan dengan wanita seperti itu. Tidak akan ada gunanya. Tidak berpendidikan tidak bisa punya anak juga. Masih banyak perempuan lain di luar sana yang mau sama kamu Dimas."

__ADS_1


Seseorang dengan nada suara yang sedikit tinggi menghentikan langkah Clara. Ucapan yang sering ia dengar dulu, saat ia mendengar kata-kata ini Clara hanya diam dan hanya bisa menangis dalam diam. Tapi, tidak untuk hari ini.


" Tadi, Mama bilang apa?" Clara berbalik badan dan berjalan ke arah mertuanya yang sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya.


"Mama jangan membuat suasana menjadi keruh ma." Dimas yang melihat sang Mama menghina istrinya menjadi tidak terima akan perlakuan sang Mama.


"Tidak bisa punya anak, tidak berpendidikan dan apalagi Ma? Rasanya aku seperti manusia tidak berguna saja," ucap Clara sambil tersenyum sinis ke arah Mama mertuanya.


"Sudah ayo kita naik ke atas Clara," ajak Dimas. Ia berusaha mencegah pertengkaran antara mama dan istrinya.


" Ma, aku minta maaf tidak bisa menjadi seperti apa yang mama harapkan. Aku juga tidak tahu kenapa aku menjadi manusia sebodoh ini. Mama benar, itu karena aku tidak berpendidikan. Aku miskin dan sebatang kara di dunia ini. Aku tidak punya apapun yang aku banggakan di diriku selain cinta yang tulus untuk anak Mama. Dan aku juga sayang kepada keluarga suamiku. Aku menerima semua kekurangan dan kelebihan semua yang ada pada suamiku. Tapi, kenapa Mama tidak bisa melihat baikku?" tanya Clara dengan lirih sambil memandang mertuanya.


" Itu saja tidak cukup."


" Yang mama bilang cukup bagaimana? Anak kah masalahnya atau ada yang lain Ma?" tanya Clara.

__ADS_1


" Itu salah satunya."


" Sejak awal mama tidak suka padaku. Dan bodohnya diriku yang tidak menyadari dari awal. Aku hanya percaya kepada satu nama yang aku yakini sangat mencintai ku yaitu Dimas. Ku pikir semua baik-baik saja waktu itu. Ternyata aku lah yang tidak peka. Aku tahu pandangan mama tidak suka padaku setiap saat, tapi aku masih selalu dan selalu berharap suatu saat mama menerima ku dengan tulus dan aku ingin mama memandangku dengan penuh kasih. Bisa di hitung berapa kali mama tersenyum lepas saat bersamaku selama aku menjadi menantu mama selama tujuh tahun. Tapi, hari ini aku sudah tidak berharap hal itu lagi. Aku sudah kalah dan sekarang aku menyerah. Maafkan aku yang banyak kurangnya, Ma," ucap Clara sambil mengulurkan tangan kanan ke arah mertuanya.


Tangan Clara menggantung di udara. Sang mama mertua tidak mau menyambut uluran tangannya. Selama tujuh tahun pernikahan dengan Dimas hampir tidak pernah Clara menjabat tangan mertuanya. Bukan ia tidak mau melakukannya, tapi sang mertua yang selalu menolak. Hanya jabat tangan sebagai tanda menghormati saja menolak bukankah ini sangat keterlaluan.


"Jaga kesehatan ya, Ma dan terimakasih untuk semua nya."


Clara segera berjalan keluar rumah dengan cepat. Taksi online yang ia pesan sudah menunggu di luar. Panggilan Dimas tidak lagi ia hiraukan begitupun dengan Ardi. Clara sudah memutuskan pergi maka ia tidak akan kembali lagi. Tempat nya bukan disini sejak awal.


"Sesuai aplikasi ya, mbak?" tanya sopir taksi.


" Iya pak ke jalan Malioboro," ucap Clara saat mendudukkan tubuhnya di kursi belakang."


" Siap mbak."

__ADS_1


Clara hanya tahu tempat itu. Karena dulu ia kos di daerah tersebut. Berharap semoga ada kamar kosong karena ia tidak tahu harus kemana. Ia juga tidak akan mendatangi tempat Meli. Biarlah ia rasakan sendiri sakitnya, harus berjuang sendiri karena memang kita hanya bisa mengandalkan diri sendiri.


__ADS_2