
Dimas masih menyesali perlakuannya kepada Clara. Terlalu mengandalkan emosi, kasar dengan omongan tidak mau tahu perasaan istri dan akhirnya Clara pergi. Hancurnya hubungan pernikahan tidak semata hanya melulu soal hadirnya orang ketiga. Hubungan Clara dan Dimas berakhir tanpa adanya orang ketiga di antara mereka. Dimas lah yang membuat runtuh semuanya.
Kata maaf tidak sekalipun terucap saat Dimas melakukan kesalahan. Wanita sederhana yang tidak punya apa-apa selain cinta yang tulus. Namun berakhir dengan sejuta luka. Tujuh tahun menggenggam bara api tapi tidak dirasa. Bukan tidak merasakan, tapi Clara terlalu menganggap dirinya baik-baik saja. Baik-baik saja dalam waktu yang lama dan menyimpan luka.
***
Seorang wanita duduk di depan televisi. Ia hanya melamun sambil terus memperhatikan gambar yang bergerak di televisi tersebut. Matanya memandang, tapi pikirannya terbang entah kemana. Lamunan, tangisan sudah biasa menghiasi harinya. Sedang hamil bukankah tidak boleh sang ibu bersedih. Tapi Clara tidak bisa menutupi rasa sedihnya.
__ADS_1
Apakah ia menyesal? Apakah ia ingin mengulang cerita lagi dengan Dimas? Jawabannya tidak. Justru Clara menyesal kenapa tidak dari dulu ia mengambil jalan berpisah. Harapan ia diterima sang mertua dengan tulus hanya ada di angan Clara. Harapan suaminya bisa menghargai dirinya juga hanya harapan yang semu. Wanita yang tulus mencintai dan mengasihi sepenuh hati segenap jiwa dan raga ternyata semua hanya sia-sia.
Bahkan ia sendiri tidak tahu kenapa bisa bertahan begitu lama. Rasa takut yang setiap hari menghantui dirinya. Takut pulang ke rumah dan takut kalau ada cacian dan makian. Tak terhitung berapa kali ia ingin mengakhiri hidup. Tidak ada yang tahu, hanya dirinya dan Tuhan yang tahu. Bukankah Clara menjadi wanita yang bodoh karena tidak mengambil keputusan berpisah dari dulu.
Tok... tok...
Senyum terbit dari bibir pria yang sedang berdiri di depan pintu rumah Clara. Baru satu minggu Clara pindah ke rumah barunya. Ia mengambil perumahan tipe 21 dan membayarnya dengan di cicil ke pihak bank.
__ADS_1
Ia merasa butuh rumah untuk anaknya. Karena tidak mungkin ia akan kos terus sampai melahirkan nanti.
"Mau apa kesini?" tanya Clara sambil menatap pria tersebut.
"Clara, ayo kita bersama lagi! Kita didik anak kita bersama. Ayo kita mulai lagi hidup yang baru. Aku tidak akan mengabaikan dirimu lagi," ujar Dimas sambil memegang tangan Clara.
Clara menarik napas dalam-dalam. Pria yang ada di hadapannya saat ini sungguh tidak tahu malu. Tak terhitung berapa kali Clara mengeluarkan kata pedas untuk Dimas. Bukan Clara ingin berkata kasar, tapi itu adalah cara Clara untuk menolak ajakan Dimas.
__ADS_1
"Bukankah nasi yang sudah menjadi bubur, tidak akan bisa menjadi nasi lagi mas. Tak terhitung berapa kali aku memelas padamu dulu. Tak terhitung juga berapa banyak aku mencintaimu. Aku memberimu utuh. Semua apapun yang ada padaku aku serahkan semua untukmu. Kata cinta ku bisikkan lembut di telingamu, perhatian dan semua nya aku berikan padamu. Tapi, kau balas dengan kata-kata kasar. Aku sudah buta karena cinta, aku terluka tapi tidak merasakannya. Bukan kau yang salah, tapi aku. Dan juga aku yang sudah kalah dalam perjuangan keutuhan rumah tangga kita. Aku kalah, mas. Dan aku menyerah."