
Clara tak bergeming. Apalagi ini, kenapa dia bisa bertemu Rendra.
"Halo, Ca! Kau makan apa?" tanya Rendra.
Pria tersebut adalah Rendra. Ia tadi tidak sengaja melihat Clara sedang menikmati makannya.
Clara diam. Ia tidak ingin membalas sapaan Rendra yang menurutnya itu hanya basa basi saja.
"Kau kenal sayang?" tanya Dimas tiba-tiba. Sambil menatap Clara dan Rendra bergantian.
"Kenal mas."
Dimas memandang ke arah istrinya. Ia merasa heran melihat istrinya. Karena pandangan Clara berubah menjadi tidak suka akan kehadiran pria yang ada di hadapan mereka saat ini.
"Halo! Saya Rendra teman Clara Mas," ucap Rendra tiba-tiba. Serta mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan suami Clara.
__ADS_1
Dimas menerima uluran tangan Rendra. Tidak ada kecurigaan sedikitpun.
"Halo, saya Dimas. Suami Clara," balas Dimas.
Pandangan Clara berubah tajam ke arah Rendra. Ia berpikir kalau Rendra sengaja melakukan ini.
"Kalian sedang makan apa?" tanya Rendra basa-basi.
"Nggak makan apa-apa. Ayo, Mas kita ke sana?" ajak Clara sambil menggandeng tangan Dimas agar menjauh dari Rendra.
Dimas sedikit heran dengan sikap Clara yang tiba-tiba berubah. Siapakah laki-laki bernama Rendra yang di hindari istrinya tersebut. Dimas melirik sekilas ke belakang dimana Rendra berdiri. Laki-laki tersebut masih terus memandang ke arah dirinya dan Clara.
"Kau kenapa melamun disini Ren!" ucap Mama Rendra sambil menepuk pelan pundak Rendra.
"Iya, Ma. Kenapa?" tanya Rendra balik. Sambil pandangan mengarah ke mamanya.
__ADS_1
"Kau melamun tadi. Lihat siapa?" jawab Mama Rendra mengarahkan pandangan ke arah Rendra tadi melamun.
"Aku lihat Ca."
"Apa! Clara? Dia di sini? Kau nggak bilang sama mama."
Rendra geleng-geleng kepala. Mamanya dari dulu tidak berubah. Ia sangat menyukai Clara. Itulah juga kenapa ia semakin mencintai Clara. Mamanya sesuka itu karena sifat dan sikap Clara yang memang baik. Sampai dalam waktu lama pun Rendra tidak bisa melupakan Clara. Pesona wanita yang sekarang sudah menjadi milik orang lain tersebut tidak pernah hilang. Ada terlintas sebuah kata jelek di pikiran Rendra. Kalau ia berdoa kepada Tuhan agar Clara bercerai dengan suaminya. Apakah Clara bisa menjadi miliknya? Tapi ia tidak akan sejahat itu. Kalau Clara bahagia dirinyalah pria yang paling bahagia. Walaupun tidak bersamanya.
Bukan soal siapa yang memiliki. Tapi cinta itu menerima. Menerima kekurangan kelebihan dan juga kekalahan. Simpan rasa yang memang perlu di simpan. Buang yang tidak diperlukan. Dan bertahanlah walaupun pun kau terpuruk sekalipun. Bukankah ini hanya luka? Luka sesaat sakit tapi tidak nampak. Hanya bisa menangis dalam diam menyesali keadaan. Hidup terlalu berharga untuk kita hanya diam di tempat dan menyesali keadaan yang lalu.
Rendra tidak bisa jalan di tempat lagi seperti dulu. Ia harus bangkit dari rasa cintanya kepada Clara yang tidak akan pernah terwujud. Lagi dan lagi kata sabar dan ikhlas yang harus Rendra jalani. Entahlah sampai kapan, hanya waktu yang akan menjawab.
"Sayang! Kau ini kenapa? Siapa laki-laki tadi? Apakah dia alasan kau ke Surabaya. Kau selingkuh Clara?" tanya Dimas dengan nada yang meninggi.
*Halo guys... maaf baru update ya 🙏
__ADS_1
Terima kasih telah menyempatkan diri membaca karyaku. Jangan lupa like dan komen ya sayang...
Salam sayang dariku ❤️*