With You Again

With You Again
Diam adalah puncak dari amarahku.


__ADS_3

Meli merutuki tindakan bodohnya. Kenapa ia mengajak Riza masuk ke kamar hotel. Sedih bukanlah alasan besar untuk dirinya mengajak Riza.


"Kau, pulang lah Riza!" pinta Meli tiba-tiba sambil pandangan nya menyapu ke segala arah. Perasaannya campur aduk, ia malu dan juga takut sekaligus. Bagaimana mungkin ia bisa mengajak Riza masuk ke dalam kamar hotel.


"Mbak Meli, menangis lah kalau itu akan membuatmu lebih baik mbak!" Riza merengkuh tubuh ramping Meli. Ia dekap dengan erat. Wanita yang ada di hadapannya sekarang ini begitu rapuh.


Meli tidak menolak pelukan Riza, kedua tangannya membalas pelukan Riza dengan erat. Air matanya tumpah, tangannya semakin mencengkram erat baju yang Riza gunakan. Seolah ia sedang melampiaskan kemarahannya.


"Aku tidak habis pikir dengan Clara, kenapa dia bisa tahan dengan pria seperti itu. Mertua nya tidak pernah menyukai Clara. Dan suaminya terlalu cuek sebagai suami. Dia tidak pernah mau mendengar keluhan Clara. Dan bodohnya lagi, Clara selalu merasa dirinya baik-baik saja," Meli berucap lirih, sambil sesenggukan. Seolah tenaganya telah habis.


Inilah yang di namakan sahabat yang sesungguhnya. Meli ikut merasakan sakit seperti yang Clara alami saat ini. Bahkan wanita itu tidak hentinya menangis mengingat apa yang Clara alami. Dia paling tahu dari siapapun, semua yang Clara alami. Dan yang paling ia benci dari sahabatnya adalah Clara selalu terlihat baik-baik saja, padahal hatinya sudah hancur dan sayapnya patah. Clara yang sekarang pasti akan menjadi pribadi yang berbeda. Itulah yang di takutkan Meli.

__ADS_1


"Mbak Clara akan baik-baik saja, mbak," sambil mengusap punggung Meli, Riza terus memberikan semangat dan kata-kata menenangkan untuk wanita yang di dekap nya saat ini.


Terkadang memang kita tidak harus banyak kata untuk menghibur seseorang, cukup dengan pelukan mungkin bisa menenangkan. Karena orang yang sedang bersedih dan hancur tidak butuh banyak kata dari siapapun, sekalipun itu orang terdekat.


Riza menuntun Meli ke ranjang. "Ayo, tidurlah! Aku akan menunggu mbak Meli sebentar.


Meli menurut apa yang di katakan Riza. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang empuk hotel. Ranjang yang empuk dan nyaman sepertinya tidak cukup memberikan Meli kenyamanan dan tidur yang nyenyak malam ini. Hatinya gelisah pikirannya tidak tentu. Sedih, marah, kecewa semua yang di alami sahabatnya seolah Meli juga merasakan.


🍁🍁🍁


Clara terlihat sibuk merapikan tas barang miliknya setelah Meli tadi sampai di rumah sakit dan membawakan barang miliknya. Pagi ini dia akan keluar dari rumah sakit dan siang akan segera pulang ke Yogyakarta.

__ADS_1


"Kau yakin pulang sekarang, Clara?" tanya Dimas.


Hanya anggukan kepala dari Clara sebagai jawaban akan pertanyaan dari Dimas.


Meli, Riza dan Rendra hanya diam. Tatapan tidak suka berkali-kali Rendra layangkan kepada Dimas. Rasanya ia ingin sekali menghajar Dimas. Suami yang tidak tahu malu dan tidak punya hati menurut Rendra.


"Clara! Kau ini kenapa? Dari tadi malam kau mendiamkan aku."


Clara segera keluar dari ruangan. Ia berjalan cepat tanpa memperdulikan suaminya. Seolah hatinya sudah beku. Jangankan bicara, menatap suaminya saja ia sudah tidak sanggup. Napas Clara terasa sesak setiap kali berhadapan dengan Dimas. Dan diam adalah puncak dari amarah Clara.


Terima kasih telah menyempatkan diri membaca karyaku 🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya 🙏❤️


__ADS_2