
Sayup terdengar suara memanggil nama Clara. Wanita itu masih mendengar dengan jelas tapi mata sudah mulai ingin terpejam. Suara yang bukan dari suaminya. Suara dari pria di masa lalunya. Seandainya dulu ia tidak berpisah dengan Rendra, mungkin Clara tidak mengalami semua hal yang menyakitkan.
"Ca! Jangan membuatku takut," Rendra memeluk Clara dengan erat. Teriakan serta air mata lolos begitu saja dari kedua sudut matanya.
Melihat wanita yang di cintai sedang tidak baik-baik saja. Adalah pukulan bagi Rendra. Mungkin, pria itu akan menggantikan Clara kalau seandainya bisa.
Dimas berlari membelah kerumunan. Ia mematung melihat istrinya yang sedang tidak sadarkan diri dan sedang di dekap oleh pria lain.
Rendra segera menggendong Clara. Ia setengah berlari membawa Clara ke mobilnya. Mulutnya tidak berhenti memanjatkan doa agar wanita yang ia gendong tersebut tidak apa-apa.
"Mama! Tolong buka kan pintu mobil," teriak Rendra kepada sang Mama.
Dengan cepat Rendra membawa masuk Clara ke dalam mobil.
"Ada apa ini Ren?" tanya Mama Rendra dengan panik karena melihat anak nya membawa Clara dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Nanti Rendra jelaskan di rumah sakit, Ma."
Rendra segera masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hanya butuh sekitar dua puluh menit Rendra sudah sampai di rumah sakit terdekat.
"Dokter tolong? Suster tolong?" dengan langkah yang cepat Rendra berteriak memanggil dokter dan suster.
"Ren! Itu kenapa ada darah yang mengalir ya? Apa jangan-jangan Clara sedang hamil," tunjuk Mama Rendra ke arah Clara yang sedang di bawa petugas medis ke ruangan IGD.
Rendra diam, ia tidak bisa berkata apa-apa. Rasanya ini lebih sakit dari perpisahan dirinya dan Clara beberapa tahun lalu. Dan tadi Mamanya bilang Clara hamil. Rendra tak henti memanjatkan doa untuk wanita yang ada di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Di tempat lain Dimas masih diam mematung. Pikiran buruknya kepada Clara semakin menjadi. Ia yakin kalau istrinya sedang selingkuh.
"Mas Dimas kenapa diam disini? Mana Clara mas?" tanya Meli sambil matanya melihat ke segala arah mencari keberadaan Clara.
"Eh, iya. Clara tadi...," Dimas tidak sanggup meneruskan ucapannya.
"Kenapa Mas?" Meli bertanya sambil mengguncang lengan Dimas.
"Tadi Clara kecelakaan. Dan sekarang dia di bawa selingkuhannya," jawab Dimas.
"Kecelakaan?" ucap Meli.
Dimas menganggukkan kepala. Rasa cemburu membutakan hatinya. Bahkan ia tidak tergerak sedikit pun untuk mengejar istrinya. Tidak ingin melihat bagaimana kabar istrinya.
"Clara di bawa ke rumah sakit kau hanya diam saja? Dimana hatimu Dimas. Kau menuduh Clara selingkuh? Kau itu suaminya, harusnya lebih tahu bagaimana istrimu. Kau tega sekali Dimas. Aku berdoa semoga Clara meninggalkan orang seperti dirimu," Meli berucap dengan keras di sertai air mata yang mengalir begitu saja tanpa permisi.
Tanpa menjawab Riza menggenggam tangan Meli. Ia berjalan meninggalkan Dimas tanpa sepatah kata pun. Riza tidak tahu bagaimana kehidupan rumah tangga Clara. Tapi, menurutnya sikap Dimas sudah keterlaluan. Bukan kah tadi mereka masih bersama dan terlihat mesra. Kenapa sekarang sikap Dimas berubah seperti itu. Sekalipun Clara melakukan kesalahan bukankah harusnya ia peduli dengan istrinya.
Meli dan Riza sudah tiba di rumah sakit. Karena tadi Rendra sempat menghubungi Meli untuk menyusul Clara ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Clara, Ren?" tanya Meli yang baru sampai di depan kamar tempat Clara di rawat.
"Dia baik-baik saja. Hanya perlu istirahat. Dan anak dalam kandungan nya juga baik-baik saja," jawab Rendra sambil pandangan melihat ke dalam kamar lewat kaca kecil yang ada di pintu.
"Clara hami?"
__ADS_1
"Iya, dan syukurlah semua baik-baik saja. Clara dan juga anak yang ada di dalam kandungan nya."
"Dasar Clara bodoh. Aku akan memarahi mu kalau kau sadar nanti. Aku akan memaksamu bercerai dari suami yang tidak tahu malu itu. Aku akan membawamu pergi jauh dari kehidupan Dimas," Meli berucap sambil memukul dadanya pelan. Rasanya ia sakit melihat Clara di perlakukan seperti ini oleh suaminya sendiri.
Rendra menoleh ke arah Meli.
" Apa maksudmu bicara seperti itu? Clara tidak bahagia bersama suaminya? "
Meli tidak menjawab. Ia hanya menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Seorang wanita sedang tidur pulas di ranjang rumah sakit. Wajah pucat tanpa polesan tidak mengurangi kecantikannya. Seolah enggan untuk bangun. Mungkin ia sedang bermimpi indah dan tidak ingin bangun dari tidurnya.
Serang pria duduk di kursi sambil menggenggam tangan Clara. Ia cium tangan wanita yang ia cintai dari lama. Cairan bening lolos begitu saja dari kedua sudut mata pria tersebut. Sungguh ini adalah dimana ia berada di titik paling lemah. Melihat wanita yang ia cintai sedang sakit. Jika Tuhan mengizinkan biar dirinya lah yang ada di posisi Clara saat ini.
"Apa yang kau alami selama ini, Ca? Bolehkah aku ikut merasakannya juga. Cukup kau pura-pura tegar Ca. Kenapa kau selalu menanggung semua sendiri. Berikan sedih dan susah mu padaku. Aku lebih sakit saat melihatmu sakit Ca," Rendra berucap pelan sambil terus menggenggam tangan Clara.
Mama Rendra, Meli dan Riza hanya diam melihat apa yang di lakukan Rendra kepada Clara. Mereka melihat ketulusan dari diri Rendra.
Perlahan Clara menggerakkan jarinya. Ia bangun dari tidurnya. Pandangan nya menyapu ke setiap sudut rumah sakit. Seolah dia sedang mencari seseorang.
" Dia mengabaikan aku lagi?" ucap Clara lirih.
*Catatan author : Terima kasih telah menyempatkan diri membaca karyaku 🤗
Jangan lupa like dan komen ya 🙏
__ADS_1
Salam sayang dariku ❤️*