
Dimas masih duduk termenung di sofa depan tv. Hatinya tidak tergerak sedikitpun untuk menghampiri Clara. Padahal sudah lebih dari dua jam ia duduk sendiri. Entah apa yang ia pikiran hanya dirinyalah yang tahu. Pria itu memang tidak peka, atau memang sudah tidak ada rasa cinta kepada istrinya? Seharusnya ia rayu istrinya, iya bujuk dengan mesra dan kata-kata indah. Tapi, tidak dengan pria berusia tiga puluh tahun tersebut.
Ardi yang sedari tadi diam di kamar menjadi tidak fokus. Pikirannya tertuju kepada kaka iparnya. Tidak biasanya kakak iparnya seperti itu.
"Ada apa dengan mbak Clara ya?" gumam Ardi pada dirinya sendiri. Ia segera bangkit dari tempat tidur.
Rasa penasaran Ardi semakin menjadi saat ia lihat ada koper di depan pintu kamar. Dan beberapa kali ia mencoba mengetuk pintu kamar tidak ada jawaban dari dalam. Ia segera turun ke bawah mencari keberadaan kakak nya. Ia yakin sekali sang kakak pasti masih di bawah.
"Mas Dimas ngapain disini?"
Dimas membuka matanya. Ia menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.
"Ada apa, Di?"
"Kenapa mbak Clara mengunci diri di dalam kamar, Mas?"
"Entahlah," jawab Ardi sambil menghela napas panjang. Ia segera membenarkan posisi duduknya.
"Kau ini suaminya, Mas. Kau tidak tahu apa yang terjadi pada istrimu," ada getaran emosi di setiap nada suara Ardi. Ia tidak habis pikir dengan kakak kandung nya tersebut. Bagaimana mungkin tidak tahu keadaan istrinya. Dan lagi kakaknya terlalu cuek sebagai suami. Ia sendiri merasa tidak terima atas perlakuan kakaknya kepada Clara.
Dimas berdiri ia berjalan meninggalkan Ardi. Rasanya ia sendiri pusing. Istrinya sedang marah, dan sekarang adiknya menanyakan hal itu.
"Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku, Di."
"Aku tidak ikut campur mas. Tapi perlakuan mas dan mama selama ini ke mbak Clara sudah keterlaluan sekali menurutku. Ingat mas! Tidak selamanya orang sabar itu akan selalu sabar, akan ada masa dimana ia berada di titik paling lelah. Dan jangan kau menyesal kalau itu sampai terjadi."
" Aku tahu bagaimana sifat istriku," saut Dimas. Ia menoleh ke arah Ardi kemudian melanjutkan langkahnya.
"Semoga saja mas, kita lihat saja nanti. Dan biasanya orang sabar itu marahnya lebih menakutkan mas."
__ADS_1
Wanita yang selalu terlihat kuat sedang terlelap. Ia ingin tidur yang lama, dan begitu bangun ia akan melupakan lagi apa yang terjadi pada dirinya. Membiarkan sakitnya, dan seolah semua baik-baik saja. Mata indahnya sering sembab karena terlalu sering menangis. Tidak banyak yang tahu kesedihannya. Karena ia selalu menutupi semua luka itu dengan sifat nya yang ceria. Padahal hampir setiap hari di sepanjang jalan menuju ke kantor ia selalu menangis. Dan saat ia bersama temannya, seolah semua baik-baik saja.
Dimas mendekati istrinya yang sedang terlelap. Tangannya terulur menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Clara. Hatinya sedikit nyeri melihat keadaan Clara.
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Kau pasti lelah," ia mendekatkan wajahnya. Lalu mencium kening Clara dengan lembut.
Clara perlahan membuka matanya, tidurnya terusik dengan ciuman Dimas.
"Kau mau apa? Jangan sentuh aku!" ucap Clara tegas.
"Aku suamimu, tentu saja aku berhak menyentuhmu."
"Tidak lagi untuk sekarang. Kau selalu membuatku kecewa. Kau selalu mengabaikan aku."
"Mengabaikan bagaimana? Jangan di bahas lagi Clara!" ancam Dimas.
"Itu benar kan, coba saja kalau waktu itu kau tidak sakit. Aku tidak akan izin dari tempat kerja dan aku tidak akan di pecat. Semua salahmu Clara! Kau membuat hidupku seperti ini. Waktu itu selangkah lagi aku naik jabatan."
"Aku sudah minta maaf mas. Dan bukankah sekarang semua baik-baik saja. Kau bekerja dengan Papa. Dan kehidupan mu sejauh ini baik-baik saja. Aku sakit mas, sakit!" suara Clara bergetar. Ia sudah tidak bisa menahan air mata yang sudah membasahi wajah cantik nya.
" Aku juga kecelakaan waktu itu, dan aku tidak bisa berjalan. Kau memperlakukan aku seperti manusia yang tidak bisa apa-apa."
Clara tertawa. Bukan tawa bahagia, tapi ia tertawa dengan disertai tangis pilu. Suaminya yang tidak ingin di perlakukan penuh cinta dan sayang, atau dirinya yang salah dengan perbuatan nya. Sembilu yang tajam sedang mengoyak jiwa dan hatinya. Perasaannya hancur, hati dan jiwanya lelah dan kini ia menyerah.
" Dengar ya, Dimas! Aku memperlakukan mu seperti itu karena aku mencintaimu. Aku cinta dan sayang kepadamu. Aku menerima semua kekurangan dan kelebihan mu. Aku tulus kepadamu dan aku rela bersusah-susah juga demi kita. Demi kita!" teriak Clara sekencang mungkin.
" Aku tahu, Clara. Tapi khawatir mu berlebihan."
" Apa aku harus membiarkan suamiku yang sedang sakit melakukan semua hal sendiri?" tanya Clara sambil tersenyum ke arah Dimas.
__ADS_1
Clara mengangkat tangannya, lalu ia arahkan ke depan. Lalu ia melanjutkan ucapannya.
" Aku yatim piatu, aku miskin aku tidak berpendidikan. Banyak hal yang aku tidak tahu di dunia ini. Tapi, aku selalu belajar setiap hari. Aku tidak mau terlihat bodoh di hadapan keluargamu. Aku hanya wanita biasa yang mencintai mu dengan tulus dari hati. Aku juga tidak pernah meminta lebih, kan? Aku tidak pernah mendengar kata maaf dari mu saat kau berbuat salah padaku. Dan aku selalu memaafkan mu lebih dulu. Sekarang katakan aku harus bagaimana?" Clara berucap lirih suaranya tertahan, ia sudah tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
" Sudah jangan di bahas lagi. Ayo! kau tidur lagi, " pinta Dimas.
" Aku tidak mau! Aku harus apa sekarang? Kau menyesali semua peristiwa yang menimpamu. Kau selalu menyalahkan keadaan dan seolah itu adalah aku sebabnya. Apa kau tidak bisa merasakan tulus ku? Kalau aku jahat sudah dari dulu aku meninggalkanmu Dimas! Saat kau sakit dan tidak bekerja bisa saja aku pergi ke lain hati. Tapi aku tidak melakukannya, aku selalu bersama mu. Aku merawat mu dan semua itu aku tulus padamu. Kau selalu menyalahkan aku, hilang pekerjaan? Bukankah sampai sekarang kau masih bisa menghasilkan uang dari bekerja bersama Papa? Lalu dimana salahku? Apa aku harus pergi selamanya agar kau puas?" teriak Clara sekencang mungkin. sambil memukul lengan Dimas.
" Jangan begini Clara!" bentak Dimas.
" Aku akan begini, aku memeng seperti ini sekarang kau mau apa Dimas?" tantang Clara.
" Diam!"
" Tidak mau! Aku akan semakin teriak lebih kencang lagi."
Plak...
Tangan kanan Dimas mendarat di pipi mulus Clara. Rasanya Dimas tidak bisa menahan kesabarannya. Teriakan Clara membuatnya murka. Sehingga ia layangkan pukulan di pipi Clara.
"Maaf kan aku Clara, aku ak-"
"Jangan lanjutkan lagi, Dimas. Kata maaf darimu sudah terlambat," Clara memotong ucapan Dimas. Sambil tangan mengarah ke depan.
Catatan author : Halo semua aku menyapa lagi. Hanya tinggal beberapa chapter saja sudah akan tamat cerita ini. Aku sedikit terharu chapter ini lumayan panjang menurutku . Karena dari chapter sebelumnya selalu pendek. Dan ada satu paragraf yang aku pas nulis benar-benar ikut sedih banget.
Terimakasih untuk kalian yang luar biasa selalu mendukung ku 🙏 memberi semangat lewat komen ataupun ke GC big thanks kaka² baik semoga kalian selalu diberi kesehatan dan kelancaran rejeki Aamiin.
Aku sayang kalian ❤️🙏
__ADS_1