With You Again

With You Again
Bonchap ( Aku rindu dia)


__ADS_3

Aku kehilangan, aku kesepian dan jiwaku rapuh. Aku merindukan wanita yang memberiku sejuta warna. Aku ingin mengulang cerita, tapi yang pergi sudah tak mau kembali.


- *Dimas*-


Flash back.


Dimas berjalan dengan langkah gontai. Ia baru saja pulang dari tempat kos Clara. Usahanya tidak membuahkan hasil. Ia tidak bisa membujuk istrinya untuk berdamai. Clara yang begitu mencintai dirinya sekarang tidak ada lagi. Benarkah, Clara sudah pergi dari hidupnya? Apakah cinta Clara sudah tidak ada lagi untuknya?


Dimas duduk di lantai kamar sambil melipat kedua kakinya, ia bersandar pada ranjang. Tangis nya pecah, nasi sudah menjadi bubur. Wanita baik yang begitu setia mendampingi dirinya kini benar-benar sudah pergi. Dia merasa menjadi manusia paling bodoh. Kenapa ia tidak menjaga istrinya dengan baik. Kenapa ia sering berkata kasar pada Clara. Dan ia tidak pernah membela Clara saat Mama nya melontarkan kata-kata pedas untuk istrinya. Istrinya menangis setiap saat tapi, ia tidak peka.


Dimas mengingat lagi beberapa bulan lalu saat ia menuduh Clara selingkuh. Saat ia benar-benar mengabaikan istrinya. Saat ia mengatakan Clara murahan. Padahal dia lah pria yang paling tahu Clara seperti apa. Pria bodoh yang tidak mensyukuri apa yang dia punya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Clara. Aku menyesal. Bisakah aku mengulang lagi cerita kita?" ucap Dimas lirih sambil menjambak rambutnya.


Pria itu di selimuti penyesalan. Wanita yang dulu begitu penurut sudah berubah. Hati Clara sudah lelah. Mencintai tapi tidak dicintai. Dari awal dirinya tidak diterima. Beberapa tahun Clara mengambil hati Mama mertua nya tidak cukup. Kebaikan Clara tidak terlihat.


Dimas bangkit dari duduknya. Ia rebahkan dirinya di ranjang king size tempat biasanya dia dan Clara memadu kasih. Ia miringkan tubuhnya ke tempat biasanya Clara tidur. Ia membayangkan kembali celotehan wanita yang selalu memberinya kehangatan. Wanita yang selalu melayani dirinya sepenuh hati. Wanita yang selalu menghubungi dia dulu, wanita yang selalu tidak pernah ia perhatikan, wanita yang selalu menangis dalam diam dan gelapnya malam. Wanita yang ia abaikan sudah benar-benar pergi dari hidupnya.


Tok... tok...


"Siapa?" tanya Dimas.


"Ini aku mas. Bukalah sebentar! Ada yang ingin aku bicarakan," pinta seseorang dari balik pintu.

__ADS_1


"Masuk, lah!"


Ardi membuka pintu, ia masuk dengan perlahan.


"Mas, kau belum makan dari kemarin. Mama khawatir. Kalau seperti ini, kau bisa sakit mas," Ardi mendudukkan tubuhnya di samping ranjang. Ia ikut sedih melihat kakak nya terpuruk.


Tidak bisa Ardi pungkiri. Kakaknya yang salah dalam hal ini. Tapi, melihat kondisi kakaknya yang terpuruk ia menjadi tidak tega. Berkali-kali Ardi menghela napas panjang.


"Aku kehilangan dia, Ardi. Dia tidak mau kembali lagi padaku. Dia ingin bercerai. Aku merindukan dia, aku menyesal Ardi."


"Sekarang kau baru menyesal Mas. Tidak ada yang bisa mengubah semuanya. Hati mbak Clara sudah mengeras. Rasa kecewanya terlalu dalam mas. Kemarin banyak waktu yang mbak Clara beri untukmu merubah sikap. Tapi, kau tidak mengubahnya. Malah kau semakin meragukan istrimu. Kau melukai nya terlalu dalam mas. Orang yang pergi dengan diam nya, tidak akan kembali lagi mas. Hati mbak Clara sudah kau robek sedemikian rupa hingga tidak berbentuk lagi. Aku sudah mengingatkan mu dari lama mas. Kau tidak mendengarkan ucapan ku."

__ADS_1


"Aku merindukan dia. Aku ingin memeluknya lagi. Aku ingin mengulang semua nya lagi, Ardi," suara Dimas nyaris tak terdengar. Pria yang sering meninggikan suaranya, hari ini nyaris tidak bisa mengeluarkan suaranya. Tangisnya nyata, dan rindu yang ia rasakan untuk wanita yang menemani ia saat suka dan duka begitu menusuk jantung dan merobohkan jiwanya.


__ADS_2