
Yuka terus meluncur menelusuri lorong waktu. Bukan lorong waktu di penuhi dengan gelombang kegelapan. Lorong waktu milik Yuka di buat sedemikian sama seperti kehidupan dirinya di masa lalu, semua dinding berisi dengan memori semua kejadian tentang Yuka. Waktu namanya masih bernama Estella, gadis remaja berusia 17 tahun, sang pembunuh tanpa bayangan.
“Aaaa” teriak Yuka, kedua mata melirik semua perbuatan dirinya semasa lampau. Yuka kembali berteriak sambil mengumpat kesal, “Akan aku habisi kamu, Adair. Tunggu saja ke pulangan ku nanti. Kamu memang sengaja membuat lorong waktu ini mengenai semua kejahatan buruk ku. Haaa…untung saja di dunia yang sebelumnya aku belum pernah melakukan hal mesum, kalau tidak. Mau taruh di mata muka ku!”
Saat tubuh terus meluncur ke bawah, sampai di ujung lorong waktu terlihat ada cahaya terang menyilaukan kedua mata Yuka. Yuka menghalau sinar cahaya terang tersebut sampai tubuhnya melewati sinar tersebut dan berakhir jatuh ke tanah.
Bam!
“Auuw” kedua tangan mengelus bokongnya.
Bokong Yuka mendarat mulus tepat di tepian jurang. Jurang tersebut adalah tempat dimana jasad Estella dicampakkan, setelah dirinya dihabisi oleh Bangsawan Caprio. Yuka menatap sekeliling jalan raya, “Ternyata aku sudah sampai,” Yuka merenggangkan kedua tangannya, “Ahh..sejuknya kota ini. Tahun 1968, dimana semua para petinggi lagi….ah..masa bodoh dengan para orang kaya yang memiliki jabatan tinggi. Yang terpenting bagiku uang!” sebelum melangkah dirinya menatap jalan sekitar, jari telunjuk mengarah ke kanan/kiri, “Dimana jalan rumahku, ya?” kedua kaki berbelok ke kiri sesuai bisikan hati, “Mungkin saja jalannya lurus ke sana.”
.
.
✨✨3 jam kemudian✨✨
Sesuai dugaannya, rumah miliknya memang melewati jalan tersebut. Sambil bertanya ke semua orang, Yuka akhirnya sampai di sebuah rumah memiliki gerbang hitam cukup tinggi. Yuka menghentikan langkah kakinya, kedua mata Yuka menatap sekeliling tempat, sudut bibirnya naik sedikit ke atas saat melihat ada salah satu penjaga rumah mendatangi dirinya.
Penjaga rumah membuka gerbang sedikit, tatapan suram menatap Yuka dari atas sampai bawah, “Mau apa?” tanya penjaga meninggikan nada suaranya.
__ADS_1
Melihat dirinya seperti di bentak, Yuka langsung menggenggam baju kemeja bagian depan, tatapan sinis ia arahkan ke penjaga tersebut sambil berkata, “Aku ini adalah Bos kamu! Jadi kamu harus lebih sopan sedikit kepada Bos.”
“Ha ha ha” penjaga tertawa renyah, jari telunjuk tangan kanan mengarah ke wajah Yuka, “Hei gadis kecil. Bos kami adalah wanita tangguh, dirinya juga sangat ahli dalam hal apa pun!” jari tangan mengarah ke ujung kaki sampai ujung kepala, “Kamu bocah ingusan berani sekali ngaku-ngaku sebagai Bos kami!” penjaga tersebut mendorong tubuh Yuka, “Pergi sana!”
Yuka melihat tubuhnya dari atas sampai bawah. ‘Kenapa aku pakek lupa segala lagi kalau tubuh asliku kan sudah hancur lebur di dasar jurang. Dan tubuh ini adalah tubuh gadis protagonis wanita, sih gadis lemah yang ada di Novel Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam) yang sudah meninggal 1 jam akibat Paman dan Bibinya. Barulah ruh aku yang menyedihkan ini masuk ke dalam novel. Aahhh…sangat-sangat menyedihkan.’
“Heeeee!” kenapa kamu masih di sini?” tanya penjaga rumah tersebut kepada Yuka.
Jika penjaga rumah tidak mempercayai dirinya adalah Estella, maka pekerja lainnya pasti juga berpikir seperti itu kalau melihat tubuh mungilnya. Karena pintu gerbang hanya terbuka sedikit, dengan lihai Yuka memanjat gerbang seperti monyet. Kedua kakinya juga mendarat di atas trotoar halaman rumahnya.
"Weuuy....maling kamu!"
“Aku bilang jika aku ini adalah Bos kamu! Estella, gadis berusia 17 tahun, pembunuh tanpa bayangan. Apa kamu tidak ingat sebutan itu?” tanya Yuka menatap serius wajah penjaga.
Yuka memukul dadanya sebanyak tiga kali, “Aku ini beneran Estella. Aku hanya bereinkarnasi saja. Kamu masih belum percaya juga?” kedua kaki Yuka memasang kuda-kuda, jari-jemarinya seperti sedang melambai, “Mari aku kasih kamu sedikit pelajaran,” ucap Yuka ingin menunjukkan kekuatan tersembunyi nya.
“Kamu yakin bisa mengalahkan ku bocah?” tanya penjaga sedikit menantang Yuka.
Yuka mengangguk, sudut bibir mengulas senyum tipis.
“Hiakk” kedua kaki Yuka berlari ke arah penjaga.
__ADS_1
Bam!!
Bugh! Bugh! Bugh!!
Belum sempat memberikan perlawanan, penjaga rumah sudah di buat lemir oleh Yuka. Yuka membersihkan kedua tangannya seperti ada debu menempel di kedua telapak tangannya. Tangan kanan mengusap kasar keringat di dahinya, “Sudah mengerti siapa aku?”
Penjaga merangkak, kedua tangan seperti membuat permohonan maaf, “Maafkan saya Bos Estella. Bukan mak….”
Belum saja siap berbicara Yuka berjongkok di depan penjaga tersebut. Senyum manis sepeti gula terpancar di raut wajah cantik dan imutnya, “Jangan panggil aku Estella, panggil aku, Y-U-K-A” Yuka berdiri, mata kanan menyipit dengan bibir tersenyum manis, “Jangan bilang siapa-siapa jika aku adalah Estella. Kalau ada yang bertanya aku siapa, tolong bilang kepada mereka aku adalah anak yang pernah di asuh oleh Estella. Kini aku datang hanya untuk mengambil beberapa baju dan peralatan buat aku bertugas. Apa kamu sudah paham?” tegas Yuka.
Penjaga rumah segera berdiri, tubuh sedikit membungkuk, “Saya paham Bos!” jari telunjuk tangan kanan mengarah ke dalam, “Mari saya temani Bos ke dalam,” ajak penjaga tersebut kepada Yuka berjalan masuk ke rumah.
Penjaga rumah masih terus mengawasi Yuka, kedua matanya terus menatap waspada tubuh Yuka dari atas sampai bawah. Sampai akhirnya penjaga rumah mulai memberanikan diri untuk bertanya kembali, “Kalau boleh tahu kenapa Anda bisa di bunuh Bos?”
Dengan serentak kedua kaki Yuka dan penjaga rumah terhenti di depan pintu rumah. Yuka tersenyum manis, jari telunjuk tangan kanan ia tempelkan di bibir miliknya, “Ssssttt! Rahasia Sang Pencipta. Kamu saja tidak tahu kapan kamu akan mati,” Yuka menggantung ucapannya, jari telunjuk tangan kanan mengarah ke dadanya, “Apa lagi aku. Sih wanita tidak tahu jam terus berdetak, hujan panas, dan angin badai pada waktu itu!" ucap Yuka mengenang kembali masa-masa kelam dirinya dipenuhi semua kasus pembunuhan atas ulah kedua tangannya. Hanya demi mendapatkan uang, dulu dirinya bisa berbuat apa pun.
Penjaga rumah menundukkan kepalanya, “Maaf jika saya lancang,” tangan kanan membuka pintu rumah, “Silahkan masuk Bos!” ucap penjaga rumah menyuruh Yuka masuk ke dalam rumah cukup suram, dengan ruangan hampa.
Yuka membulatkan kedua matanya melihat rumah besarnya sudah tidak memiliki satu barang apa pun di dalamnya. Yuka menatap penjaga rumah masih berdiri di belakang, “Ke-kemana semua barang-barang milikku?” tanya Yuka sedikit panik.
Penjaga berlutut, kedua tangannya memegang kedua tangan Yuka. “Maafkan para karyawan, Bos. Semenjak Bos tidak pernah kembali selama 3 tahun ini, dan para karyawan sudah mulai lelah menunggu kepulangan Bos tanpa upah. Mereka semua akhirnya memutuskan untuk mengambil semua barang koleksi milik Bos. Kecuali barang-barang berharga milik Bos!” ucap penjaga rumah memberitahu Yuka.
__ADS_1
Yuka tercengang, bibir bergerak, “T-tiga tahun!”
...Bersambung...