Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)

Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)
BAB 39. Nggak Fokus


__ADS_3

Valdes dan Bobby sudah sampai di kota Jakarta. Setelah lepas landas, Valdes dan Bobby langsung menuju tempat pembangunan proyek baru miliknya. Setelah 2 jam lamanya mereka berkendara, akhirnya mobil Valdes dan Bobby sampai di suatu lahan begitu luas. Lahan itu juga di kelilingi seng menjulang tinggi ke atas. Kalau dari jauh terlihat ada beberapa paku Bumi dan cor-coran besar sudah menjulang ke atas.


Tin!!


Bobby memberi isyarat.


Krekkk!!! krekk!!


Seng tersebut terlihat bergerak, dan ada 5 orang karyawan memakai helm keselamatan membuka pintu gerbang seng tersebut.


Bobby segera masuk ke dalam. Bobby juga menghentikan mobil tak jauh dari gerbang seng.


Dari kejauhan terlihat ada 2 pria memakai kemeja rapih (Bos proyek), dan helm keselamatan berlari mendekati mobil Valdes.


"Silahkan tuan," ucap Bobby membuka pintu mobil.


"Tuan kenapa repot-repot datang kemari?" tanya Bos proyek satu.


"Kenapa baru ini saja yang siap. Bukannya aku sudah lama memberikan dana ke kalian berdua?" tanya Valdes menyelidik.


"Anuuu...."


"Oh, itu karena kami kemarin mencari Karyawan dari kota Jawa," sela Bos proyek satu.


"Kenapa harus dari sana?" tanya Valdes dingin.


"Ka-karena pekerjaan mereka sangat rapih tuan," sambung Bos proyek satu.


"Ada alasan lain yang perlu kalian tambahkan tidak?" tanya Valdes menekan nada suaranya.


'Sial. Apa tuan Valdes mengetahui tentang perbuatan kami. Jika benar siapa orang yang berani mengadukan hal itu kepadanya?' tanya dalam hati Bos proyek dua.


"Kenapa diam!" bentak Valdes.


"Anuu...kami..."


"Bobby cepat tunjukkan bukti-buktinya kepada kedua manusia tidak tahu bersyukur ini!" ucap Valdes memberi perintah kepada Bobby.


"Siap!" Bobby mengambil tab. Menunjukkan sebuah bukti video berisi tentang transaksi kedua Bos proyek sedang menggelapkan untuk membeli mobil mewah atas nama selingkuhan mereka berdua, kepada kedua Bos proyek tersebut.


"Sa-saya bisa jelaskan. Ini semua bukan...."


"Bobby tunjukkan juga bukti transaksi mereka!" tegas Valdes kembali memberi perintah.


"Baik!" sahut Bobby patuh. Bobby segera mengambil bukti kertas dari dalam saku jas bagian dalam dan menunjukkan bukti-bukti tersebut. Bobby juga mengeluarkan sedikit rekaman percakapan kedua Bos proyek dengan selingkuhan mereka.


Isi rekaman:


^^^"Sayang apa kamu benar ingin membelikan aku satu buah mobil listrik keluaran baru?" ^^^


^^^"Kenapa tidak. Om sudah mendapatkan proyek besar dari seorang pengusaha muda cukup kaya, terkenal dan juga sangat tampan. Jika uang pembangunannya habis. Om akan segera meminta uang kembali. Lagian mana mungkin dia akan datang ke Jakarta untuk melihat pembangunan ini."^^^

__ADS_1


^^^"Benarkan! Dede jadi sayang banget sama Om."^^^


Bobby segera menyimpan kembali bukti rekaman suara ke dalam saku jas miliknya.


"Apa ada perlu bukti penting lagi yang harus aku tunjukkan?!"


Bos karyawan satu angkat tangan, "A-ampun!"


Kedua Bos pemilik proyek langsung bersujud di depan Valdes. Air mata buaya juga terus menyertai ucapan mereka.


"Kami janji akan segera mengembalikan uang tersebut kepada Anda tuan. Tapi kami berdua mohon jangan sebar bukti tersebut kepada Istri atau anak kami!"


"Mulai hari ini kalian berdua aku pecat. Dan soal uang yang sudah kalian berdua pakai. Aku tidak menginginkannya kembali," Valdes membungkukkan tubuhnya, "Karena aku tidak sudi menerima uang kotor dari orang yang kotor!" sambung Valdes meninggikan nada suaranya.


Bos pertama langsung berdiri, "Jangan sok suci kamu. Bukannya kamu juga sedang menyimpan seorang gadis belia di rumah kamu yang ada di kota Jogja!" tuduh Bos pertama kepada Valdes.


"Benar, apa kamu kira kami tidak tahu!"


Bam!!


Bam!!!


Kedua kepalan tinju mendarat di masing-masing wajah.


"Akh! breng-sek!" keluh kedua Bos pemegang proyek merasa sakit di tulang hidung. Masing-masing tangan kanan menyeka kasar darah yang keluar.


"Jangan pernah katakan gadis itu sebagai simpanan ku! jika sekali sempat aku mendengar hal itu dari mulut kalian berdua. Maka..." Valdes sengaja menggantung ucapannya. Tangan kanan menggaris di jenjang tenggorokannya.


"Untuk selanjutnya bagaimana tuan?" tanya Bobby menyinggung tentang proyek bangunan Valdes.


"Aku sudah mengurusnya, dan bakal ada yang menggantikan mereka jauh lebih jujur dengan kesederhanaan nya," ucap Valdes datar.


"Jadi selanjutnya kita kemana?" tanya Bobby penasaran.


"Ke rumah Paman dan Bibi, Yuka!" tegas Valdes sambil berbalik badan, kedua kaki melangkah cepat menuju mobil.


"Baik," sahut Bobby patuh.


.


.


✨ POV VALDES ✨


3 Minggu lalu Valdes sempat di telpon oleh salah satu perusahaan milik mobil tempat kedua Bos proyek membeli mobilnya.


Valdes dan Bobby pun segera meluncur ke tempat pertemuan sudah ditentukan. Sesampainya di sana, Valdes dan Bobby disuguhkan oleh Vidio dan rekaman milik mereka dari pemilik perusahaan showroom mobil.


"Anda kenapa bisa mengetahuinya?" tanya Valdes datar, tangan kanan mengembalikan kembali ponsel milik Bos showroom.


"Aku tidak sengaja melayani mereka dan berpura-pura sebagai karyawan di sana."

__ADS_1


"Kalau gitu terimakasih," ucap Valdes berterimakasih kepada Bos showroom.


Namun saat Valdes hendak pergi ke Jakarta, Yuka mendadak hilang. Valdes pun di sibukkan dengan pencarian keberadaan Yuka.


.


.


✨ POV SINGKAT END ✨


.


Mobil Valdes dan Bobby terus meluncur ke rumah milik Paman dan Bibi Yuka. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Paman dan Bibi, Valdes terus bertanya-tanya dalam hati.


'Apa yang harus aku tanyakan dan apakah mereka akan jujur dengan semua pertanyaan ku nanti. Hal ini sungguh membuat aku pusing.'


Melihat Valdes terus berwajah suram, Bobby terus melirik dari kaca spion tengah. Hatinya bertanya-tanya, 'Sepertinya ada hal besar yang disembunyikan oleh Tuan Valdes. Tapi apa ya? aku tanya tidak ya!'


"Kenapa kamu terus melirik ke arahku?" tanya Valdes menangkap basah lirikan Bobby.


"Eh, ketahuan deh!" ucap Bobby menggaruk rambut tak gatal.


"Kamu kenapa?" tanya Valdes datar.


"Justru saya yang bertanya, tuan kenapa?"


"Aku lagi bingung," ucap Valdes memijat kedua pelipisnya.


"Kenapa tuan bingung?" tanya Bobby penasaran.


"Ini masalah Yuka," ucap Valdes membuat Bobby semakin penasaran.


"Kenapa dengan nona muda?"


"Nanti saja. Aku mau tidur sejenak," putus Valdes. Kepala ia sandarkan di badan kursi, kedua mata ia pejamkan.


"Baik," sahut Bobby patuh.


Bobby pun melakukan mobilnya dengan cepat menuju rumah Paman dan Bibi Yuka. Karena Valdes tidak mau memberitahu, Bobby hanya bisa menunggu jawaban dari Valdes.


Kurang lebih 1 jam mereka berkendara akhirnya mobil mereka sampai di depan gerbang tinggi.


Bobby melirik ke belakang, "Tuan, kita sudah sampai," ucap Bobby membangunkan Valdes.


"Kalau gitu mari kita turun, karena aku sudah tidak sabar dengan segudang pertanyaan buat mereka berdua," ucap Valdes membuka seatbelt miliknya.


"Baik," sahut Bobby ikutan membuka seatbelt miliknya.


Valdes dan Bobby segera membawa kedua kaki mereka melangkah memasuki gerbang kediaman milik Paman dan Bibi.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2