Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)

Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)
BAB 40. Fakta Paman dan Bibi


__ADS_3

Ding! Dong!


Berulangkali Bobby menekan tombol bel rumah Paman/Bibi, tapi pintu rumah tidak kunjung terbuka. Bobby melirik, "Sepertinya mereka tidak ada di rumah tuan. Apa sebaiknya kita pulang saja?"


"Aku sudah cukup lama menunggu untuk hal yang sopan," ucap Valdes mendekati pintu. Kaki kanan Valdes melayang ke pintu.


Brakk!!


Hanya sekali tunjangan pintu rumah tersebut terbuka lebar.


Tatapan Valdes mendadak suram saat melihat Paman dan Bibi duduk santai di sofa tamu. Kedua kaki Valdes pun ia bawa melangkah, "Kenapa kalian tidak membuka pintu?" tanya Valdes dingin.


"Bukannya kita sudah tidak ada urusan lagi," ucap Paman santai.


Tangan Bibi melambai, "Sudah sana pergi. Apa kamu pikir karena kamu orang hebat bisa datang sesuka hati di rumah kami?" tanya Bibi meninggikan suaranya.


Valdes tidak memperdulikan ucapan Paman dan Bibi. Valdes terus membawa kedua kakinya mendekati sofa dan duduk berhadapan dengan Paman dan Bibi.


"Saya harap kalian berdua harus bersikap sopan dengan tuan Valdes!" tegas Bobby berdiri di samping sofa.


Brak!!


Paman menggebrak meja sembari mengarahkan tangan kanannya ke arah pintu, "Berani sekali mengatakan hal seperti itu kepadaku. Sekarang aku minta kalian berdua pergi dari rumahku! ucap Paman meninggikan nada suaranya di kalimat terakhir untuk mengusir Valdes dan Bobby.


"Benar, pergi kalian sana dari rumah kami. Bukannya Yuka sudah menghilang dari Dunia ini. Jadi kalian berdua buat apa repot-repot datang ke mari," sambung Bibi dengan senyum tipis terukir di wajahnya.


Ucapan Paman dan Bibi seakan mewakili sejuta pertanyaan Valdes selama ini. Ada apa dengan Paman dan Bibi? kenapa sepertinya mereka berdua terlihat senang melihat Yuka tiada?


"Baik, kami akan segera pergi dari rumah kalian. Tapi dengan satu syarat," ucap Valdes sengaja menggantung.


Dengan santainya Paman berkata, "Katakan saja, kami akan menjawab semua pertanyaan Anda dengan singkat, jelas dan padat."


"Kalau gitu tidak ada yang perlu di sembunyikan dari aku. Jika ketahuan jawaban kalian berdua berbohong. Maka akan ada satu bagian tubuh yang hilang," ucap Valdes datar, tangan kanan mengeluarkan pisau lipat dan menus-uknya ke meja.


Krek!


Glekk!!!


Paman dan Bibi saling tatapan, sembari menelan saliva dengan susah payah.


"Ce-cepat, katakan saja!" ucap Paman gugup.


"Bagi kalian apakah Yuka itu penting?" tanya Valdes datar.

__ADS_1


Bibi melambai, "Hakh! penting dari mana," ucap Bibi seperti tidak suka.


"Yuka itu adalah anak pembawa sial. Kedua orang tuanya meninggal, dan usaha milik kedua orang tuanya bangkrut saat Yuka sudah terlahir di Dunia ini," sambung Paman dengan santainya.


"Hal apa saja yang pernah kalian lakukan kepada Yuka saat masih kecil?" tanya Valdes datar.


"Tentu saja menginginkan dia tiada di Dunia ini," sahut Bibi tanpa bersalah.


Grepp!!


Valdes mulai menggenggam erat tangan kanan tersembunyi di balik pahanya.


Melihat wajah Valdes mulai berubah, jantung Bobby seakan mau lepas, 'Gawat. Ternyata tuan datang ke sini hanya ingin mengungkit masa lalu nona muda. Dan...jawaban mereka terdengar sakit.'


"Apa lagi yang mau Anda tanyakan?" tanya Paman.


"Apa kalian berdua pernah melakukan hal lain ke Yuka?" tanya Valdes saat kedua mata mengenang kembali beberapa bekas luka di tubuh Yuka saat pertama kali masuk di kehidupan Valdes.


"Tentu saja. Anak nakal pantas mendapatkan perbuatan itu," ucap Bibi berbohong.


Grep!!


Genggaman tangan semakin kuat. Rasa emosi dan sesak di dalam hati berusaha Valdes redam.


"Apa maksudnya?!"


"Soalnya aku pernah melihat sikap Yuka jauh berbeda dari Yuka sebelumnya, dan dia juga pernah mengatakan jika dia bukanlah Yuka," Paman melambaikan tangannya, "Akh, sudahlah. Hal itu tidak perlu di bahas lagi. Lagian Yuka sekarang sudah tiada. Apa untungnya membahas orang yang sudah tiada. Ha ha...bodoh!"


"Jaga bicara Anda. Nona muda tidak gila, dia baik-baik saja. Bahkan dia sangat aktif dalam melakukan hal apa pun," sela Bobby ikut tersulit emosi, tangan kanan mengepal, urat-urat di bagian dahi seperti hendak keluar.


"Nah, itu-tuh maksudnya. Yuka yang kami kenal hanya bisa menangis dan meringkuk seperti boneka," ucap Paman dengan senyum tipis penuh makna.


"Jadi maksud kalian, Yuka sekarang bukanlah Yuka yang dulu?" tanya Valdes penasaran.


"Iya, tapi bodoh dan polosnya masih sama," sambung Bibi.


Valdes melonggar dasinya, "Jadi berapa kali sehari kalian memberi tubuh mungil itu pukulan?" tanya Valdes perlahan berdiri, bola mata hendak lepas terus mengarah ke Paman dan Bibi.


Dengan santai Paman menjawab, "Tiga kali atau bisa lima kali dalam satu hari..."


"Tergantung kekesalan kami," sambung Bibi dengan santainya.


"Apa kalian pernah berpikir jika Yuka akan meninggal karena perbuatan kalian?" tanya Valdes perlahan melangkahkan kedua kakinya mendekati Paman dan Bibi.

__ADS_1


"Tentu, kami juga tidak memberikan Yuka makan. Tapi entah kenapa tubuh gadis itu masih bisa ber.....akkhhh!"


Krekkk krekk!!!


Ucapan Paman terhenti saat Valdes mulai menggaris lurus di lengan kanan Paman.


Valdes mengarahkan bola matanya ke Bibi, "Terus hal apa lagi yang kalian lakukan kepada Yuka?" tanya Valdes dingin.


"Ti-tidak tahu!" ucap Bibi ketakutan, kedua tangan melambai.


Bam!


Satu sikut Paman mendarat di punggung kiri Valdes.


Valdes melirik, "Apa tadi barusan kamu mencolek punggungku?" tanya Valdes merasa pukulan itu seperti colekan.


"Kamu sudah berjanji tidak akan menyakiti kami. Tapi kenapa kamu melakukan hal itu kepadaku?" tanya Paman sembari menutup darah mengalir di lengannya.


"Apakah itu sakit?" tanya Valdes dingin.


"Tentu saja ini sangat sakit. Aku akan melaporkan kalian berdua ke pihak yang berwajib," ucap Paman hendak melangkahkan kaki kanannya. Tapi Valdes dengan cepat meraih baju bagian belakang Paman.


"Anggap saja ini adalah harga yang harus di bayar untuk semua kesalahan kalian berdua kepada Yuka," ucap Valdes sembari menahan baju bagian belakang Paman. Tangan kanan Valdes kembali melayang, dan menu-sukkan pis-au ke punggung. Dan menariknya kembali.


Jluub!!!!


"Akh!" teriak Paman memegang punggungnya.


"Hentikan!" teriak Bibi berusaha melerai perbuatan Valdes.


"Apa dulu Yuka pernah berkata seperti itu. Atau... apakah dulu Yuka pernah mengemis di kedua kaki kalian untuk berharap tidak disakiti?" tanya Valdes dingin. Kedua matanya terus mengenai semua bekas luka di tubuh mungil Yuka. Rasa sesak dan emosi di dalam dalam semakin memuncak saat mendengar Yuka tidak pernah di kasih makan karena Paman dan Bibi menginginkan Yuka tiada di Dunia.


"Pe-pernah...ta-tapi sekarang Yuka kan sudah hidup tenang di sana. Jadi dia tidak akan tersiksa lagi. Jadi aku mohon jangan sakiti suamiku!" ucap Bibi mengeluarkan air mata buaya dan menggenggam erat tangan kiri Valdes.


Valdes menepis tangan Bibi, kedua kaki berdiri menghadap Bobby, "Selanjutnya aku serahkan ke kamu. Buat mereka merasakan apa yang dirasakan Yuka dulu," perintah Valdes kepada Bobby.


"Baik," sahut Bobby patuh.


"Aku tunggu kamu di mobil," Valdes pun melangkahkan kedua kakinya meninggalkan rumah Paman dan Bibi


"Hei...pria pembohong! berhenti kau!"


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2