
Sudah 7 hari lamanya Yuka tidak kunjung kembali. Kemana hilangnya Yuka, dan kenapa sampai detik pagi ini tidak ada satu kabar pun sampai di telinga Valdes.
Makan tidak enak, minum terasa pahit, tidur selalu dihantui Yuka. Datang dalam mimpi dengan tubuh bersimbah darah. Ada apa ini? kenapa orang sehebat Valdes tidak bisa menemukan Yuka! jangankan namanya, jasadnya saja Valdes tidak dapat menemukannya.
Tentu saja Valdes tidak bisa menemukan Yuka. Karena Yuka sudah pindah alam, dan tahun. Semua Yuka lakukan untuk membalaskan dendam nya kepada Bangsawan Caprio.
"AAAAAA" teriak Valdes membuang semua Dokumen di atas mejanya. Tangannya menarik rambut kanan/kiri, kepala menengadah, "YUKA!!"
Bobby keluar perlahan dari ruang kerja. Membiarkan Valdes terus berteriak agar hati dan ukiran Valdes tenang. Bobby berdiri di depan pintu, ia terus menghirup oksigen dan melepaskannya ke seluruh tubuh dan pikiran. Bobby memijat pelipisnya, "Anda ke mana nona muda?" gerutu Bobby bertanya sendiri.
3 pelayan dan 3 penjaga mendekati Bobby. Masing-masing wajah mereka terlihat cemas saat menatap wajah kusut Bobby.
"Nona muda masih belum ketemu juga?" tanya pelayan satu.
Bobby menggeleng.
"Apa ada seseorang yang membenci tuan Valdes, dan sebagai sasaran amarahnya adalah menculik nona muda?" tanya pelayan kedua.
Bobby menggeleng.
"Jangan-jangan nona muda kita di ambil sama mahkluk halus. Bukannya mahkluk halus seperti itu!" sambung pelayan ketiga.
Bobby menatap suram, "Kamu mahkluk halus nya!" kedua tangan melambai, " Sudah sana pergi. Kalian membuat pusing saja!" sambung Bobby memijat lembut dahinya, melangkah pergi meninggalkan pelayan dan juga penjaga.
.
.
✨✨Di alam lain (1968)✨✨
Jika di tempat Valdes pagi, di sini menjadi malam.
Sudah 2 hari Yuka belum sadarkan diri. Kini kedua tangannya sedang dibelenggu rantai besi. Rantai besi menggantung dari atas lorong gelap. Karena kedua tangan di belenggu ke atas, Yuka hanya mampu berdiri dengan tubuh tidak bertenaga, dan kedua kaki menggantung.
Wajah lebam, ada darah kering menempel di hampir seluruh wajah, dan bagian lainnya. Baju hitam melekat di tubuh Yuka kini sudah sangat berantakan.
"Yuka...Yuka! kenapa kamu belum bangun juga?! terdengar suara Adair memenuhi ruangan.
Karena Yuka tak kunjung memberikan respon, Adair kembali memanggil nama Yuka. Bukan hanya memanggil tapi Adair menyebut nama Valdes.
"Yuka, kamu harus segera sadar. Ingat ini adalah hari terakhir kamu. Mana janji kamu yang akan pulang sebelum 7 hari. Katanya kamu adalah gadis yang hebat, kuat dan seorang pembunuh tanpa bayangan. Masa baru mendengar suara tembakan kamu langsung lemah. Yuka...kenapa kamu tidak memanggil aku. Bukannya aku sudah katakan jika kamu membutuhkan bantuan ku, hentakkan kedua kaki kamu sebanyak 3 kali di atas tanah, lalu sebut namaku. Ayo..lakukan itu Yuka. Apa kamu ingin mati sia-sia, dan kamu tidak ingin bertemu dengan Valdes. Apa kamu tidak kasihan dengan pria baik itu? apa kamu tahu sekarang bagaimana nasibnya di sana! pria baik ( Valdes ) di sana sedang depresi memikirkan kamu. Ayo....Yuka bangunlah Yuka. Waktu kamu tinggal 3 jam lagi!"
"Berisik!" sahut Yuka perlahan menengadah.
"Kamu sudah bangun?" tanya Adair semangat.
"Nggak aku hantunya," sahut Yuka ketus.
"Cepat hentakkan kedua kaki kamu ke atas lantai dan sebut namaku tiga kali. Maka aku akan segera ke sana dan membantu kamu!"
"Apa kamu buta! kedua kakiku saja tidak bisa menyentuh ke lantai. Jadi bagai...." ucapan Yuka terhenti saat melihat ada cahaya lampu dengan bayangan seorang pria mengarah ke ruangannya. Tidak ingin menambah masalah, Yuka berpura-pura tidur.
Benar saja, cahaya lampu dan bayangan orang masuk ke dalam ruangan milik Yuka. Salah satu dari mereka adalah Caprio.
"Sepertinya gadis itu sudah mati!" ucap Caprio, berdiri menghadap Yuka.
"Jadi mau kita apakah gadis ini Bos?" tanya penjaga satu.
"Turunkan dia, dan buang!" sahut Caprio dengan entengnya.
'Yes, cepat turunkan aku agar aku bisa membalas kamu!'
__ADS_1
Dua orang penjaga menarik besi katrol. Menurunkan belenggu terhubung dengan kedua pergelangan tangan Yuka.
Krekkk!!! krekkk
Seperti permen mencair. Yuka turun ke lantai seperti permen mencair. Kedua penjaga itu juga membuka kunci belenggu.
"Yuka cepat panggil namaku!" ucap Adair mengingatkan Yuka.
Yuka segera berdiri, kedua kaki menghentak ke tanah sebanyak 3 kali, "Adair...Adair....Adair!" teriak Yuka memanggil nama Adair sebanyak tiga kali.
Bam!!
Bam!!!
Bam!!!
"Sial kita di kelabui lagi!" jari telunjuk Caprio mengarah ke Yuka, "Cepat hab-isi gadis Iblis itu!"
Penjaga baru saja melangkahkan kedua kakinya ke depan. Tiba-tiba angin kencang berhembus masuk ke dalam ruangan.
Wuuushh!!!
Wuushhh!!!
"Akh...apa ini?"
"Bodoh kalian semua! kenapa bisa ada angin di tetap tertutup seperti ini!" teriak Caprio menghalau angin menerpa wajahnya.
Beshhhh!!!
Angin menghilang. Adair berdiri tepat di depan Yuka, kedua tangan berkacak pinggang.
"Siapa kamu?" tanya Caprio mengarahkan jari telunjuknya ke Adair.
"Ha ha ha" tawa renyah seperti sedang menyepelekan terdengar dari mulut Caprio dan juga penjaga lainnya.
"Jangan bercanda kamu Adair. Cepat kita selesaikan tugas ini. Aku ingin segera berjumpa dengan Valdes," sambung Yuka datar.
Adair melirik ke belakang, "Kamu duduk saja dulu. Pulihkan tenaga kamu, biar mereka aku yang urus," ucap Adair sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran buat Caprio dan penjaga.
"Sombong sekali kamu.... Iblis yang gagal," sambung Caprio.
"Mau kita apakan mereka berdua Bos?" tanya penjaga satu.
"Seperti biasa!" sahut Caprio santai.
"Baiklah. Mari kita bermain," ucap Adair melentikkan jari kanannya tepat ke penjaga secara bergantian.
Bam!
Bam!
Tidak kurang 5 menit, Adair mampu melumpuhkan 10 penjaga sekaligus.
Melihat semua penjaganya tergeletak dengan bagian tubuh terluka. Caprio berbalik badan, kedua kaki berlari tunggang-langgang meninggalkan ruang tahanan Yuka.
"Tunggu pembalasan ku!" terdengar teriakkan Caprio menggema di koridor ruang bawah tanah.
"Sudah beres bukan!" ucap Adair berbangga diri, dan merasa jika semua ini sudah berakhir.
Karena tenaga sudah kembali pulih, Yuka berdiri, tangan kanan memukul bahu kiri Adair, "Pantang pulang sebelum musuh di lumpuhkan!" kedua kaki Yuka berlari mengejar Caprio menuju Vila.
__ADS_1
"Woy, jangan tinggalkan aku di sini. Woy.....Yuka!" panggil Adair berteriak.
Karena Yuka tak kunjung kembali, Adair ikut berlari mengejar Yuka menuju Vila. Di tengah gelapnya malam Yuka dan Adair terus berlari dan berlari. Sampailah mereka di depan teras. Yuka dan Adair saling menatap satu sama lain saat melihat Caprio bersembunyi seperti seorang pengecut di balik tubuh kekar penjaganya.
Yuka melangkah dengan santai, senyum tipis, dan kedua mata indah melihat Caprio sedang berdiri dengan wajah ketakutan, "Ke mana sikap sombong kamu?" tanya Yuka menghentikan kedua kakinya di depan penjaga.
"Cepat hab-isi gadis Iblis beserta Iblis nya!" perintah Caprio kepada penjaga dan anak buah lainnya.
"Hiakkh" teriakan indah dengan serentak menyerang Yuka.
Wuushhh!!!
Wuushh!!!
Blam!!
Bug!!
Tang-tang!!!
Kretak!!
Hanya memainkan jari, Adair mampu melakukan hal apa pun. Dan Adair juga mampu melumpuhkan musuh dalam sekejap.
"Aakkhh"
"Ampuni saya.."
"Kenapa tubuhku seperti rengginang?"
Keluh para penjaga dan anak buah sudah tertumpuk seperti bukit di depan teras. Melihat semua anak buah dan penjaga lumpuh seketika. Caprio berlari ke dalam dengan wajah di selimuti ketakutan.
"Tinggal satu jam lagi untuk kembali. Cepat selesaikan misi balas dendam kamu, Yuka!" tegas Adair.
Yuka mengangguk sekali. Kedua kaki berlari mengejar Caprio ke dalam Vila. Melihat jam terus berjalan, Yuka segera mengambil pisau belati miliknya, "Mika-mika.... Wik-wik!" ucap Yuka membaca mantra, mengarahkan pi-sau tersebut mendarat tepat ke titik sasaran tubuh Caprio.
Jlubb!!!
Jlubb!!!
Swwiiisshhh!!!
"Uhuk!! Arqhhh!!" batuk darah menyembur dari mulut.
Langkah kaki Caprio terhenti. Kedua lututnya kini melemah, dan jatuh ke atas lantai.
Blam!
Yuka menepuk kedua tangannya seperti dipenuhi debu, "Akhirnya selesai juga!" ucap Yuka senang. Yuka merasa puas karena dendamnya telah terbayarkan.
"Jangan senang-senang dulu kamu Yuka. Waktu kita tinggal 20 menit lagi. Cepat masuk ke dalam portal!" sambung Adair berlari ke arah Yuka. Tangan kanan mengelus ke depan, "Buka portal ke rumah Valdes!"
Wuungg!!!
Wuungg!!!
Blam!!
Adair langsung memeluk tubuh Yuka dan masuk ke dalam portal.
"Jauhkan kedua tanganmu dari tubuhku Adair!" teriak Yuka sepanjang masuk ke dalam lorong portal.
__ADS_1
...Bersambung ...