Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)

Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)
BAB 54. Awal Balas dendam buat Paman dan Bibi


__ADS_3

Sesampainya di depan teras rumah, Valdes, dan Yuka di sambut oleh 3 orang pelayan dan penjaga.


“Selamat datang tuan dan nona muda,” sambut mereka serentak.


“Terimakasih,” ucap Valdes berhenti di depan 3 pelayan dan penjaga. Valdes mengarahkan tangannya ke Paman dan Bibi, “Aku ingin memperkenalkan kepada kalian jika sepasang suami-istri ini adalah Paman dan Bibi Yuka. Paman dan Bibi ini juga akan tinggal untuk sementara waktu di sini,” ucap Valdes.


“Selamat datang Paman dan Bibi dari nona muda Yuka,” sapa 3 pelayan dan penjaga serentak.


“Terimakasih,” sahut Bibi.


“Karena perkenalan sudah cukup, aku mau kamu antar mereka ke kamar tamu,” perintah Valdes ke Bobby.


“Baik,” sahut Bobby.


“Jangan lupa berikan tempat tidur yang layak buat Paman dan Bibi ya,” sambung Yuka.


Bobby menunjukkan jempol tangannya.


“Yuka, mari kita pergi ke kamar,” ajak Valdes mengulurkan tangannya ke lift.


“Kamar?!” tanya Bibi histeris dengan pikiran kotor.


Yuka mengangguk, “Iya, bukannya kami harus mandi karena sudah satu harian di luar. Dan aku juga sudah main panas-panasan di luar tadi. Membuat baju dan ketiak ku bau,” sahut Yuka polos.


Bibi mendekati Yuka, “Yuka, kamu ini masih kecil. Dan kamu juga belum cukup umur untuk melakukan hal itu,” ucap Bibi mulai berfantasi liar.


“Apaan sih Bi! Kenapa pula aku belum cukup umur. Aku saja bisa melakukannya sendiri, kenapa aku tidak boleh melakukan hal itu!” sahut Yuka tidak senang.


“Sudah berapa kali kalian melakukannya?” tanya Bibi mengarahkan bola matanya ke Valdes.


“Maksud Anda apa ya?” tanya Valdes bingung.


“Iya..bercocok tanam. Apa lagi kalau tidak melakukan hal itu!” ketus Bibi.


Valdes menepuk dahinya, “Untung aku masih waras,” gumam Valdes pelan.


Yuka melirik ke Valdes, “Emang yang bilang kamu tidak waras siapa?” tanya Yuka polos.


Valdes menggenggam erat pergelangan tangan Yuka, “Sudah jangan hiraukan omongan tidak bermanfaat dari orang yang tidak bermanfaat. Sekarang mari kita ke kamar,” ajak Valdes.


Valdes menggenggam tangan Yuka dan membawanya pergi seperti seorang Ayah sedang mengajak putrinya berjalan-jalan ke Mall.


Yuka melirik ke belakang dan melambai, “Daa…Paman dan Bibi. Tunggu aku di ruang makan ya!” ucap Yuka sedikit meninggikan nada suaranya karena Valdes dan Yuka sudah jauh di depan mereka.


“Jangan larang tuan Valdes untuk tidak melakukan hal itu kepada nona muda. Bukannya kamu yang sudah menjual nona muda. Hanya demi uang. Dasar manusia tamak!” gumam Bobby menyindir Bibi dan Paman.

__ADS_1


“Apa maksud kamu?” tanya Bibi tidak senang.


Bobby membungkukkan sedikit tubuhnya untuk menatap jelas wajah Bibi, salah satu jari menutup mulutnya, dan berkata, “Ups! Maafkan saya jika ucapan saya telah menyindir Anda.”


Tidak ingin membuat kegaduhan di hari pertama. Paman segera menggenggam erat tangan Bibi, dan berbisik, “Apa kamu lupa dengan tujuan kita. Dan apa masalahnya jika itu terjadi dengan Yuka. Bukankah kamu juga sudah setuju di awal kita menjual dirinya.”


“Aku cuman pura-pura saja. Iya kali aku memikirkan hal itu,” ucap Bibi ikutan berbisik.


Karena tidak ingin menambah percakapan dan berlama-lama dengan Paman dan Bibi. Bobby langsung memutus percakapan mereka.


“Mari ikut saya,” ajak Bobby melangkahkan kedua kakinya terlebih dahulu.


Bobby terus melangkah dan masuk ke koridor gelap dan ujungnya terdapat sebuah pintu berwarna merah.


"Kok jalanya seram ya?" tanya Bibis berbisik ke Paman.


"Diam saja kenapa!" ketus Paman ikutan berbisik.


Bobby menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu warna merah.


Karena tidak tahan melihat koridor kamar cukup gelap. Bibi mulai mengeluarkan uneg-uneg nya, “Kenapa kamarnya seram amat?!”


Bobby langsung menekan tombol lampu di dinding.


Ctak!


“Kok tidak dari tadi juga Anda bertanya?” tanya Bobby datar.


“Jadi ini kamar kami?” tanya Bibi mengarahkan tangannya ke pintu.


“Iya,” sahut Bobby singkat.


Paman mengulurkan tangannya, “Kuncinya mana,” pinta Paman dengan sombong.


Bobby menunjuk ke pintu, “Rajin-rajin makan wortel agar bisa melihat jelas jika kunci sudah tersangkut di pintu,” ucap Bobby datar.


Merasa malu akan kesombongannya, Paman langsung berbalik badan, tangannya menggeret koper menuju pintu.


Bobby juga berbalik badan, kedua kakinya melangkah meninggalkan koridor sembari berkata, “Hati-hati, kamar itu dulunya bekas meninggalnya seorang gadis remaja tanggung.”


Tadinya Paman dan Bibi sudah mendorong handle pintu. Setelah mendengar ucapan Bobby, Paman kembali menarik handle pintu.


“Kenapa dari tadi pria itu seperti menyindir kita?” tanya Bibi.


“Sudahlah biarkan saja,” ucap Paman berusaha mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Kita masuk nggak?” tanya Bibi panik.


“Masuk!” tegas Paman mendorong handle pintu kembali.


Saat pintu kamar terbuka, Paman dan Bibi tercengang melihat kamar hanya mendapatkan 1 ranjang berukuran 4 kaki. Tempat tidur juga terbuat dari kasur keras, dan rangka ranjang sudah berkarat atau tidak layak pakai lagi. Bibi dan Paman saling menatap satu-sama lain.


“Kenapa kamar ini persis seperti kamar Yuka dulu?” tanya Bibi.


“Kamu benar. Aku rasa bocah ini sudah menjebak kita dan sepertinya ia ingin balas dendam dengan kita,” sahut Paman.


“Jadi kita harus apakan Yuka?”


“Apa lagi, tetap kembali ke rencana awal kita. Kamu harus ingat kalau kita ke sini sudah memakai uang terakhir kita, dan kita sudah tidak ada uang lagi. Jadi aku mau kita harus berhasil dan pulang mendapatkan uang banyak,” ucap Paman.


“Kalau begitu aku setuju. Sekarang mari kita masuk kamar dan cepat bereskan semua barang-barang tidak berguna yang ada di sini,” ajak Bibi.


Bibi dan Paman berjalan masuk ke dalam kamar. Mereka juga membereskan barang-barang tidak terpakai di dalam kamar tersebut.


.


💫Di dalam kamar Valdes💫


Sambil melihat Valdes mengeringkan rambutnya, Yuka duduk di tepian ranjang. Kedua kaki menggantung ia ayunkan dengan bebas. Sesekali senyum puas terukir di raut wajah cantik Yuka.


Valdes sedang berdiri di depan cermin curi-curi pandang melihat senyuman manis itu.


Yuka melompat dari ranjang, ia berdiri di menghadap Valdes, dan sedikit membungkukkan tubuhnya, “Terimakasih tuan Valdes yang paling tampan dan paling kaya di muka bumi ini,” ucap Yuka.


Valdes mematikan pengering rambut. Kedua kakinya berjalan mendekati Yuka, “Kenapa kamu bersikap formal kepada ku? dan kamu berterima kasih tentang apa?” tanya Valdes.


Yuka menegakkan tubuhnya. Karena kedua bola matanya hanya bisa memandang bidang dada Valdes, Yuka menengadah, “Karena kamu sudah membantu aku melancarkan misi balas dendam ku. Andai saja kamu tidak menelpon penjaga dan pelayan untuk mengganti semua barang yang ada di dalam kamar tamu. Mungkin mereka akan menikmati tidur di tempat tidur yang layak dan juga nyaman di sini!” ucap Yuka mengingat permintaan nya kepada Valdes untuk menerima Paman dan Bibi di rumahnya demi melancarkan misi balas dendam.


Valdes membelai puncak kepala Yuka, “Selagi hal itu membuat kamu senang. Maka aku akan menuruti semua keinginan kamu!”


“Benarkah? Tapi setelah misi ini berakhir kita tidak akan bisa berjumpa lagi loh!” ucap Yuka.


“Justru karena hal itu. Dan aku juga minta kepada kamu agar tetap berada di sampingku sampai misi kamu berhasil. Agar kamu bisa bereinkarnasi kembali, dan aku juga berharap kita akan bertemu di kehidupan nyata, bukan dunia Novel.”


“Kenapa harus di kehidupan nyata? Bukankah kamu hanya fiksi belakang, ciptaan dari sang penulis?!”


“Tidak mungkin seorang penulis membuat karakter asal-asalan. Pasti dia sudah mengenalku lebih dulu makanya aku di masukkan dalam tokoh utamanya,” ucap Valdes yakin.


Yuka mengulurkan tangannya, “Kalau begitu kita harus berjanji untuk saling mengingat satu-sama lain agar kita bisa berjumpa di kehidupan selanjutnya sebagai seorang manusia normal pada umunya.”


“Janji!” ucap Valdes menerima jabat tangan Yuka.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2