
Setelah perdebatan dan ketegangan cukup sulit terjadi pada Valdes dan Yuka hampir satu malam. Pagi ini langit cerah menyapa Yuka dan Valdes masih tertidur lelap di atas ranjang. Sesuai dengan janji Valdes, dari awal tidur sampai kini ia terbangun. Valdes tidak membiarkan Yuka pergi jauh dari dirinya. Valdes terus memberikan sebelah lengannya untuk alas bantal Yuka. Hal itu membuat lengan Valdes menjadi kesemutan dan sulit untuk diangkat.
‘Duh, kenapa tiba-tiba lenganku kesemutan sampai mati rasa seperti ini. Mau membangunkan Yuka, tidak mungkin,’ batin Valdes.
Valdes pun mencoba bertahan beberapa menit lagi sampai Yuka bangun dengan sendirinya. Namun, ada satu hal tak bisa ia tahankan lagi. Hal itu adalah perut Valdes mendadak mules.
Tuutt!!! Preettt!
Angin segar menusuk keluar begitu saja menyapa Yuka.
“Hem, bau apa ini?!” tanya Yuka tersadar dari tidur panjangnya, kedua tangan refleks menutup hidungnya.
“Maafkan aku, Yuka,” ucap Valdes langsung melompat dan berlari menuju kamar mandi dengan kedua tangan memegang bokongnya.
Yuka duduk, tangan masih terus mengipas angin busuk mengelilingi wajahnya, “Uhuk!uhuk. Apa kamu mau membunuhku?! Kalau mules jangan di tahan seperti ini!”
“Perutku…ekk..duh..aduh. Sudah jangan banyak mendumel kamu di luar sana. Cepat kamu bersiap agar aku membawa kamu pergi kerja bersamaku,” teriak Valdes dari dalam kamar mandi.
“Tidak mau, aku mau bersekolah!” sahut Yuka sembari merapihkan ranjang.
“Yuka, jangan membuat aku kehilangan konsentrasi di sini. Aku bilang cepat mandi dan temani aku bekerja. Aku menginginkan waktu singkat-mu untuk hidup di dunia bersamaku. Bukan bersama dengan orang lain, apa kamu paham!”
“Bodo,” sahut Yuka membawa kedua kakinya meninggalkan kamar Valdes.
Yuka membawa kedua kakinya melangkah menuju kamarnya. Sepanjang kaki melangkah menuju kamar, otak kecilnya terus berpikir dengan janji telah ia buat kepada Adair dan juga Yuka asli (pemilik tubuh) untuk membalaskan dendam atas perlakukan Paman dan Bibinya semasa hidupnya dulu. Tapi balas dendam apa bagus untuk menyadarkan Paman dan Bibinya, karena bagaimanapun mereka itu tetap Paman dan Bibi kandung pemilik tubuh sedang ia pakai sekarang. Jika melakukan kekerasan itu tidaklah mungkin.
Baru saja Yuka hendak mendorong handel pintu kamarnya. Dari sisi kiri terdengar suara Bobby.
“Nona muda sudah bangun. Tadi malam kenapa saya tidak melihat nona muda tidur di dalam kamar?” tanya Bobby penasaran di mana Yuka tidur semalaman, dan pagi ini Yuka keluyuran di koridor sekitar kamar Valdes.
“Tadi malam Valdes memintaku untuk tidur di kamarnya, bukan hanya malam ini. tapi untuk malam-malam berikutnya,” ucap Yuka polos.
Bobby tercengang, kedua bola matanya membulat sempurna saat mendengar ucapan Yuka. Bobby mempercepat langkah kakinya mendekati Yuka. Kedua tangan memegang lengan Yuka, untuk memastikan apakah Valdes tidak melakukan hal lain kepada Yuka, “Apakah tubuh nona masih lengkap? Ada yang sakit atau nona muda ada merasakan hal yang berbeda setelah tidur semalam dengan tuan Valdes. Dan kenapa tuan Valdes menginginkan tidur bersama dengan nona muda? apakah…”
“Kamu sedang bertanya hal apa kepada Yuka?” sela Valdes dingin.
Bobby perlahan melirik ke sisi kanan, “Tu-tuan, sa-saya…”
“Yuka cepat bersihkan tubuh kamu dan jangan banyak membantahku. 10 menit dari sekarang aku akan menunggu kamu di bawah, jika kamu tidak datang dalam waktu 10 menit maka aku akan memandikan kamu. Apa kamu paham!” sela Valdes memutus ucapan Bobby.
“Apa kamu mengancam ku?!”
“Aku serius,” ucap Valdes dingin.
“Baiklah aku akan mandi dan bersiap,” sahut Yuka dengan nada kesal membawa kedua kakinya masuk ke dalam kamar dengan cepat.
__ADS_1
Melihat Yuka sudah masuk ke dalam kamar, Valdes memukul bahu Bobby, “Mari bicara di ruang kerjaku,” ajak Valdes kepada Bobby.
“Baik,” sahut Bobby.
Valdes dan Bobby membawa kedua kakinya berjalan menuju lift. Mereka pun menekan angka nomor 1. Valdes dan Bobby berjalan masuk ke dalam lift, sesampainya di dalam lift Bobby terus bertanya-tanya hal serius apa akan dibicarakan oleh Valdes kepadanya. Dan kenapa tadi malam Yuka bisa tidur di dalam kamar Valdes, pikiran buruk dan rasa penasaran bercampur aduk di dalam otak kecil Bobby.
Ting!
Pintu lift terbuka.
Valdes dan Bobby membawa kedua kakinya melangkah menuju ruangan pribadi Valdes.
Valdes membuka pintu, “Masuk,” tegas Valdes memberi perintah.
“Baik,” sahut Bobby membawa kedua kakinya masuk ke dalam.
Kini Bobby dan Valdes sudah berdiri di tengah ruangan. Melihat Valdes berwajah suram dan dingin, hati Bobby mulai tidak nyaman. Dia berpikir akan ada badai besar menimpa mereka semua.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Valdes penasaran.
“Apa akan ada badai di sini?” tanya Bobby.
“Iya. Badai sudah menyelimuti hatiku di mulai tadi malam,” sahut Valdes serius.
“Apa Anda beneran tidur satu ranjang dengan Yuka?” tanya Bobby dengan pikirannya.
“Tidak mungkin,” gumam Bobby menutup mulutnya.
“Apa yang tidak mungkin? Tadi malam memang aku tidur bersama dengan Yuka,” sambung Valdes.
Bobby menempelkan punggung tangannya ke dahi Valdes, “Tidak panas dan tidak dingin. Lantas kenapa dia selera dengan yang belum matang. Aduh..pasti saat ini nona muda masih merasakan nyeri pada…”
Ctak!
Satu kepalan manis mendarat di puncak kepala Bobby.
“Sekarang aku tahu semua maksud dari pertanyaan kamu. Emang kamu pikir aku ini seburuk itu?”
“Ampun, tidak tuan. Saya hanya…”
“Hanya apa?!”
“Hanya keliru tuan. Karena tidak biasanya tuan mau tidur bersama orang lain,” sahut Bobby merasa bersalah.
Valdes menarik nafas berat.
__ADS_1
“Kenapa tuan?” tanya Bobby.
“Yuka sebentar lagi akan meninggalkan kita untuk selamanya,” sahut Valdes tidak semangat.
“Mau kemana nona muda, tuan?” tanya Bobby penasaran.
Valdes berdiri menghadap Bobby, “Apa kamu selama ini tidak mengetahui jika Yuka tidak memiliki bayangan?” tanya Valdes secara perlahan.
Sejenak kedua bola mata Bobby mendelik ke atas memikirkan pertanyaan Valdes. Lalu menggeleng, “Tidak.”
“Yuka sebenarnya bukan manusia nor…”
“Apa! Nona muda bukan manusia? Lantas kenapa dia memiliki semua bentuk tubuh dan suara seperti manusia. Apa nona muda itu Vampir? Atau…tuan…” sela pantes histeris.
Ctak!
Valdes kembali melayangkan kepalan manis ke Bobby.
“Aku belum siap berbicara kamu sudah menyambar saja macam kereta api ekspres.”
“Maaf,” sahut Bobby sembari mengelus puncak kepalanya.
“Kamu pernah mendengar kata Isekai?” tanya Valdes.
“Pernah, kalimat itu sering di pakai di dunia Novel. Jadi, apa hubungannya Isekai dengan nona muda?” tanya Bobby penasaran.
“Yuka sebenarnya seperti tokoh di dalam Novel. Bedanya dia hidup hanya untuk melakukan misi balas dendam kepada seorang Bangsawan yang sudah membunuhnya di Dunia nyata pada tahun 1968. Ruhnya berpindah ke protagonist wanita di Novel berjudul Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam). Dan lebih mirisnya lagi kalau kita ini ternyata sedang hidup di dalam duni novel bukan dunia nyata. Pasti kamu pusing memikirkan hal itu ‘kan?”
“Sangat-sangat pusing,” sahut Bobby bingung.
“Intinya Yuka bisa bertahan hidup jika dirinya mempunyai misi balas dendam. Semakin lama misi balas dendam yang akan ia lakukan di sini. Maka akan semakin lama ia berdampingan hidup dengan kita. Dan satu lagi, jika Yuka sampai meninggal di dunia ini, maka ruhnya tidak bisa bereinkarnasi kembali. Dan aku tidak ingin itu terjadi,” ucap Valdes menjelaskan sedikit tentang ucapan Adair.
“Berarti selama 7 hari nona muda menghilang, dan pulang degan sekujur tubuh penuh luka dan lebam. Itu semua di dapat dari melakukan misinya?” tanya Bobby teringat akan 7 hari Yuka menghilang dan sulit untuk ditemukan.
“Kamu benar.”
“Pantas saja aku sempat bingung dan ingin curiga kepada nona muda saat semua luka lebamnya menghilan dengan sempurna. Rupanya nona muda adalah gadis Isekai. Keren,” Bobby sedikit memuji.
“Oh ya, gimana caranya agar Yuka bisa bertemu dengan Paman dan Bibinya. Sebab misi kedua Yuka kali ini adalah untuk membalaskan dendam kepada Paman dan Bibi pemilik tubuh yang sedang ia pakai,” ucap Valdes meminta saran kepada Bobby.
“Tuan tenang saja, saya sangat yakin setelah perbuatan yang kita lakukan kepada mereka. pasti Paman dan Bibi nona muda akan segera datang menuntut pertanggung jawaban atas perbuatan kita melalui Yuka,” sahut Bobby yakin.
“Kenapa kamu sangat yakin?”
“Karena saya yakin saja. Sudah tuan lihat saja nanti,” ucap Bobby sangat yakin.
__ADS_1
...Bersambung ...