
Yuka, Valdes, dan Bobby berdiri di depan Mesum cukup terkenal di kota Surabaya.
"Apa ini museum?" tanya Yuka kepada Valdes.
"Iya. Karena kamu masih seorang pelajar, wisata ini yang cocok buat kamu, Yuka," sahut Valdes lembut.
Yuka menggenggam tangan kanan Valdes, "Kalau gitu mari masuk," ajak Yuka melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam museum.
Kedua bola mata Valdes melirik ke genggaman tangan Yuka, 'Tangan yang sangat dingin. Apa dia baik-baik saja?'
Langkah kaki Bobby, Valdes dan Yuka terhenti di dalam.
"Apa kamu ingin ke atas?" tanya Valdes menunjuk ke lantai dua.
"Emang ada apa di sana?" tanya Yuka penasaran.
"Kita bisa melihat langsung dari balik kaca tentang pembuatan rokok. Kalau kamu mau, maka kita akan ke atas. Kalau tidak kita berkeliling di sini saja."
"Di sini saja. Karena aku tidak suka melihat rokok," sahut Yuka di luar mulut. Padahal di dalam hati, 'Aku sudah bosan melihat pembuatan seperti itu. Lebih bagus aku melihat sejarah, siapa tahu namaku ada terkenal di sini!'
Baru saja berkeliling melihat-lihat pajangan ada seorang wanita cantik menyapa Valdes. Wanita cantik itu juga merangkul tangan kiri Valdes.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini," ucap wanita cantik manja.
Yuka menatap polos, bola matanya terus melirik ke rangkulan wanita tersebut, 'Sepertinya wanita ini adalah kekasih Valdes. Wanita dewasa cukup cantik. Andai saja tubuh pengganti ku secantik wanita ini, pasti semua pria terpikat denganku. Dan aku bisa memiliki banyak kekasih di Dunia novel ini. Ha ha...ngaur.'
Valdes melirik ke Yuka, "Maaf jangan pegang aku seperti ini," ucap Valdes melepaskan rangkulan wanita tersebut.
"Kenapa, apa kamu sedang datang bersama dengan seorang kekasih?" tanya wanita cantik melirik ke seluruh ruangan.
"Aku sedang membawa anak kecil di sini," tunjuk Valdes ke Yuka sedang berdiri di sisi kirinya.
"Oh...gadis remaja tanggung yang sangat imut!" wanita tersebut mendekati Yuka. Tubuh sedikit menunduk, kedua tangan mencubit pipi mulus Yuka, "Kamu siapanya Valdes?" sambung wanita tersebut bertanya pada Yuka.
"Sakit!" ketus Yuka menepis kedua tangan wanita tersebut.
Wanita tersebut berdiri tegak, tangan kanan menutup mulutnya, "Benar-benar sangat imut," puji wanita tersebut sekali lagi. Kedua bola mata beralih ke Valdes, tapi jari telunjuk mengarah ke Yuka, "Siapa gadis imut ini?"
'Wanita ini sangat menyebalkan. Aku kerjain saja dia.'
Yuka mengulurkan tangan kanannya, "Aku calon istri nya," ucap Yuka asal bicara.
Wanita tersebut menunduk, wajah mendekati wajah Yuka. Kedua bola mata menatap luas ke wajah Yuka, "Apa kamu serius gadis kecil?"
Yuka mengangguk penuh keyakinan. Tangan kanan menarik tangan Valdes, membuat tubuh Valdes sedikit menurun.
Cup!
Yuka memberi kecupan manis di pipi Valdes. Tatapan serius mengarah ke wanita tersebut, "Apa Kakak sudah percaya?" tanya Yuka penasaran.
__ADS_1
Wajah Valdes berubah menjadi merah seperti buah tomat. Sedangkan Bobby tercengang melihat sikap spontan Yuka.
Mimik wajah wanita tersebut mendadak berubah suram. Kedua kaki berjalan kecil dan berdiri di hadapan Valdes, "Kamu tegas menolak cintaku hanya untuk gadis kecil ini. Haa...tidak ku sangka..."
"Aku sudah katakan aku tidak menyukai kamu. Dan kamu bukan tipe wanita idamanku," Valdes menggenggam tangan Yuka, "Kalau gadis kecil ini adalah calon Istriku, kenapa rupanya?" sambung Valdes bertanya dingin.
"Tega kamu!" wanita tersebut berbalik badan kedua kaki melangkah cepat meninggalkan Valdes, Yuka dan Bobby.
Yuka berjalan dua langkah ke depan, tatapan masih tertuju pada wanita tersebut, "Wanita dewasa yang sangat aneh. Jelas-jelas Valdes tidak menyukainya. Tapi dia tetap bilang Valdes tega," gerutu Yuka kesal melihat sikap wanita tersebut dengan kalimat dianggap kasar oleh Yuka.
"Kamu lagi, buat apa ngaku sebagai Istriku. Lain kali jangan seperti itu ya!" Valdes melirik ke Yuka, "Walaupun kamu sudah dewasa nanti, bukan berarti kamu bisa menjadi tipe wanita kesukaanku. Kamu hanya aku anggap sebagai adik kecil," tegas Valdes menutup rasa sukanya.
Yuka merenggangkan kedua tangannya, "Sudah tahu. Lagian tipe lelaki idamanku buat Anda-" Yuka menggantung ucapannya kedua bola mata melirik ke Bobby, "Pria idamanku itu seperti Bobby," sambung Yuka santai.
"Eh! kok saya di bawa-bawa?" kedua tangan Bobby melambai, "Aku tidak ikut-ikutan," ucap Bobby sedikit ketakutan saat melihat wajah suram dan tajam Valdes sedang menatapnya.
"Hem" ucap Valdes dan Yuka saling mendengus kesal dan membuang muka.
"Aku ingin pulang!" ketus Yuka.
"Aku juga masih ada urusan di kantor!" sambung Valdes ikutan ketus.
'Adegan apa ini. Saling suka tali gengsi. Aneh!' gerutu Bobby dalam hati.
Yuka mendekati Bobby, "Ayo kita pulang," ajak Yuka menggenggam tangan Bobby dan membawanya berjalan keluar dari Museum.
Tatapan suram dan tajam menatap punggung Yuka dan Bobby, 'Awas saja kamu Bobby. Siap-siaplah untuk pemotongan gaji sebanyak 50%,' setelah mengumpat puas dalam hati, Valdes melangkahkan kedua kakinya mengikuti Bobby dan Yuka.
Langkah kaki Valdes kini terhenti di samping pintu mobil penumpang bagian depan.
"Pintunya di sini tuan," ucap Bobby berpikir jika Valdes salah pintu.
"Aku memang mau duduk di sini," sahut Valdes membuka pintu mobil bagian depan dan masuk ke dalam.
Bobby mengangguk kepala tak gatal, "Kenapa ujung-ujungnya jadi berantem," gumam Bobby pelan. Bobby menggeleng, "Akh. Bukan urusan. Entar gaji di potong lagi!" umpat Bobby mengingat ucapan Valdes. Kedua kaki Bobby segera berjalan dan masuk ke mobil. Bobby memasang seatbelt . Saat ingin melajukan mobilnya bulu kuduk Bobby serasa merinding. Kedua bola matanya melirik ke kaca spion tengah. Terlihat Yuka menatap jendela dengan tatapan dingin. Bola mata Bobby kembali melirik ke sisi kiri, terlihat Valdes juga menatap dengan dingin.
"Jalan!" tegas Yuka dan Valdes serentak.
"He He, putar musik dulu ya?" tanya Bobby dengan tawa kecil.
"Terserah!" sahut Yuka dan Valdes kembali serentak.
Bobby pun memutar MP3 mobil. Dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang keluar dari Museum menuju landasan Helikopter.
Karena sepanjang perjalanan hanya musik menemani Bobby. Bobby merasa kesepian ikut bernyanyi sesuai irama musik.
🎶🎶
Sudah lama saling tahu
__ADS_1
Kenal lebih dulu
Bahkan ceritamu-ceritaku kau tahu
Kamu temanku dari dulu
Tiap hari bertemu...
Namun bagaimana bisa timbul rasa?
Jatuh cinta seperti air mata
Jatuh mengalir begitu saja ..
Dilawan susah, dihindari tak bisa....
Semakin ku tahan, semakin menggetarkan...
Namun sialnya aku, mengapa aku jatuh cinta pada temanku sendiri ..
.
Merasa tersindir dengan lagu tersebut. Yuka dan Valdes melirik tajam ke Bobby. Bibir bergerak secara serentak dan berkata, "Ganti!"
"Ba-baik," Bobby segera mengganti lagunya.
Tit!!!
Lagu baru di tukar.
🎶🎶🎶
Saat hidupku hampa
Diisi kesedihan
Pada-Mu tempat ku kembali...
Saat semua hilang
Tinggalkan aku dalam kelam ...
Pada-Mu tempat ku cerita....
.
.
Merasa tersindir kembali Valdes dan Yuka kembali berteriak, "BOBBY!"
__ADS_1
"Saya tidak salah," jari telunjuk mengarah ke pemutar musik, "Yang salah lagunya," sambung Bobby polos.
...Bersambung...