
Pagi ini Valdes secara pribadi mengantar Yuka ke sekolah. Semua Valdes lakukan hanya untuk memberikan rasa nyaman dan perlindungan buat Yuka. Mobil dinaiki Rado, Bianca dan Grace sudah masih terlebih dahulu ke dalam sekolah. Tinggal Yuka masih berdiri di depan pintu gerbang sekolah bersama Valdes.
"Untuk memastikan kamu baik-baik saja sampai ke dalam kelas. Boleh tidak aku hantarkan kamu...."
Yuka melambai, "Tidak perlu, aku bisa sendiri," putus Yuka menolak permintaan Valdes.
"Tapi aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa di jalan," ucap Valdes cemas.
Tidak ingin membuat dirinya ikut bergelut dengan pikiran Valdes. Yuka menjijitkan ujung kakinya, kecupan manis mendarat tepat di pipi kiri Valdes, "Cup!"
"Haa" Valdes seketika jadi patung.
Melihat Valdes tak berkutik, Yuka segera berlari masuk ke dalam lingkungan sekolah dan meninggalkan Valdes.
"Apa tadi aku diberi ciuman pertama?" tanya Valdes sendiri.
Valdes merasa bingung kenapa Yuka tiba-tiba menciumnya. Apa karena Valdes terlampau cerewet atau karena Yuka tidak ingin di antar sampai masuk ke dalam kelas. Merasa bingung dengan pikirannya, Valdes kembali ke mobil, dan meninggalkan sekolah Yuka.
.
.
✨ DI DALAM KELAS ✨
Mendengar bahwa Yuka hari ini sudah masuk ke sekolah. Beberapa penggemar rahasia Yuka mulai berdatangan ke dalam kelas Yuka. Kelas biasanya selalu sunyi dan sepi kini mendadak ramai.
Yuka baru saja duduk tercengang melihat banyak setangkai mawar merah dan beberapa bungkus coklat di atas meja. Bola mata Yuka melirik ke Rado, Bianca dan Grace. Namun, Grace, Rado, dan Bianca menaikkan kedua bahu mereka.
Yuka mengambil satu batang coklat dan satu tangkai bunga mawar sungguhan, "Kenapa kalian membuang uang untuk membeli barang semahal ini?" gumam Yuka bertanya sendiri.
"Yuka," panggil seorang siswa pria cupu mengulurkan kedua tangan memegang boneka beruang kecil, "Aku dengar kamu menghilang, dan baru saja kembali dari perbuatan manusia tidak bertanggungjawab. Sebagai tanda aku menyayangimu, terimalah boneka ini. A-aku sudah susah payah menabung selama 7 hari untuk membelikan boneka ini hanya untuk kamu!" ucap pria cupu tersebut kikuk.
Yuka merasa perbuatan mereka terlalu berlebihan untuknya. Pertama laci dan mejanya dipenuhi bunga dan coklat. Kedua mereka rela menyakiti dirinya dengan menghemat uang jajan hanya untuk membelikan barang tak penting buat Yuka.
"Baiklah, akan aku terima," ucap Yuka mengambil boneka tersebut.
"Terimakasih.... terimakasih," ucap siswa pria tersebut membungkukkan sebagian tubuhnya.
"Kamu boleh kembali ke kelas, tapi hanya satu pesanku. Jangan berikan aku boneka mahal seperti ini, ya?!"
Tidak ingin menjawab ucapan Yuka. Siswa pria itu berbalik badan, kedua kakinya melangkah dengan cepat meninggalkan kelas Yuka.
Grace, Rado, dan Bianca menoleh ke Yuka dari masing-masing bangku. Senyum tipis melihat Yuka terlihat bingung dengan semua coklat dan bunga cukup banyak.
"Berikan aku saja," ucap Grace sedikit berteriak.
"Nah, kalau mau ambil saja," sahut Yuka mengeluarkan kedua tangan berisi coklat dan bunga.
Grace langsung berdiri, dengan cepat kedua kakinya mendekati meja Yuka. Kedua tangan ia kembangkan, dan meraup separuh coklat dan bunga. Grace memberi senyum manis, "Terimakasih," ucap Grace.
"Kamu tidak mau?" tanya Yuka ke Rado dan Bianca.
__ADS_1
"Tidak," sahut Bianca dan Rado serentak.
"Kalau gitu aku masukkan ke dalam tas saja," ucap Yuka memasukkan coklat dan bunga ke dalam tas ransel miliknya.
Kriing!!!kriing!!!
Bel pelajaran pertama.
Guru Matematika berjalan masuk dengan seorang siswa pria berwajah dingin. Semua mata wanita terpesona melihat wajah tampan di balik sifat dingin.
"Tampan sekali."
"Kenapa baru sekarang ada anak baru setampan ini."
"Bibirnya, hidung mancungnya, bola mata hitam pekat, dan ...kedua alis lebatnya sangat rupawan."
"Setelah pelajaran sekolah ini selesai aku harus berkenalan dengannya."
"Aku juga. Uuh...tampannya."
Di saat semua teman sekelas mengagumi ketampanan siswa baru. Yuka hanya melirik heran ke teman-teman nya, "Apa anak baru itu beneran tampan? kok aku melihatnya biasa saja," gumam pelan.
Tok!! tok!!!
Pak guru mengetuk meja untuk menenangkan para murid. Kedua bola mata Pak guru melirik satu-persatu ke para siswa, "Kalau kalian semua sudah tenang. Maka Bapak akan memperkenalkan siapa anak baru ini. Jadi Bapak tanya sekali lagi, apa kalian semua sudah tenang?"
"Sudah!" teriak semua murid di dalam kelas.
Pak guru matematika mengulurkan tangannya ke siswa baru, "Ayo perkenalkan siapa nama kamu!" ucap Pak guru mempersilahkan.
...ILUSTRASI BIMO...
"Sudah itu saja?" tanya Pak guru.
"Sudah. Apa aku boleh duduk sekarang?" tanya Bimo datar.
"Tentu, pilih saja bangku kosong yang ada di dalam kelas ini," ucap Pak guru.
Bimo mengarahkan jarinya ke kursi kosong sebelah Yuka, "Aku pilih duduk di sebelah gadis jelek itu," ucap Bimo.
'Baru kali ini aku lihat pria waras dengan kalimat jujur menghina diriku,' batin Yuka.
Seketika tawa renyah pecah di dalam kelas. Saat mendengar Yuka di sebut jelek oleh Bimo.
"Yuka di sebut jelek. Baling apa matanya?" tanya Grace berbisik ke Rado.
"Biasanya yang kayak gini nih, jodoh," sahut Rado yakin.
"Kalau aku ogah berjodoh dengan pria yang sudah menghinaku!" ketus Grace.
__ADS_1
"Wanita memang seperti itu. Tahu-tahu besok dia menikah dengan pria yang dibencinya," ucap Rado sedikit menyindir.
"Sudah-sudah, kalian semua jangan berisik lagi. Dan kamu bisa duduk di sebelah Yuka," sambung Pak guru mengentikan kegaduhan di dalam kelas.
Bimo pun segera menuju meja. Bimo menghentikan langkahnya di samping Yuka, "Masuk," ucap Bimo menyuruh Yuka masuk ke bangku satu lagi.
Yuka berdiri, "Karena aku tidak mau membuat kegaduhan di hari pertama sekolah. Maka aku akan menuruti keinginan kamu," ucap Yuka duduk di kursi dekat jendela.
Bimo duduk di bangku milik Yuka. Bimo juga mengeluarkan buku pelajaran pertamanya.
Di tengah-tengah jam pelajaran Matematika, ada sepucuk surat berburuk pesawat kertas mendarat tepat di meja Yuka dan Bimo.
Bimo langsung mengambil dan membuatnya ke luar jendela.
Melihat perubahan Bimo seperti kurang menghargai, Yuka hanya melirik tanpa berkomentar.
Seorang gadis di lorong bangku nomor tiga akhirnya hanya bisa menunduk sedih karena harapannya telah patah bersama pesawat kertas di buang bagaikan sampah.
Lima menit kemudian gumpalan kertas kembali mendarat di meja Yuka dan Bimo.
Bimo kembali mengumpulkan kertas-kertas tersebut dan membuangnya ke luar jendela. Kedua tangan menemukan tapak tangan seperti membersihkan debu.
"Apa kertas-kertas itu banyak debunya?" tanya Yuka penasaran.
"Sampah harus di buang ke tempat sampah," sahut Bimo datar.
"Oh" sahut Yuka mengangguk.
Bimo melirik, "Kenapa?" tanya Bimo dingin.
"Aku kasihan saja sama isi hati mereka yang tercurah di dalam kertas itu," ucap Yuka singkat.
"Kalau kamu kasihan, kamu saja yang menjawabnya."
"Nggak guna berbicara sama kamu. Dasar pria aneh!" celetuk Yuka.
"Daripada kamu, gadis jelek!" ucap Bimo meninggikan nada suaranya.
Brak!!!
Yuka merasa terhina menggebrak meja sekuatnya. Tatapan tak suka mengarah pada Bimo.
"Ya biasa aja ngomongnya! nggak usah ngegas juga. Apa kamu pikir kamu sudah ganteng kali. Apa kamu pikir kamu suka sangat idaman para wanita? haaa!!!!"
Pak guru matematika menghela nafas panjang, tangan kanan mengarah ke pintu kelas, "Kalian berdua silahkan berdiri di depan kelas," tegas Pak guru memberi hukuman buat Yuka dan Bimo.
"Tapi Pak..."
"Tidak ada tapi-tapian. Cepat lakukan yang Bapak bilang!"
"Baik Pak," sahut Yuka pelan Bimo patuh.
__ADS_1
Yuka dan Bimo pun di hukum berdiri dengan kaki satu diangkat kedua tangan memegang ujung telinga. Merasa belum puas berdebat di dalam. Yuka dan Bimo kembali berdebat di luar pintu. Membuat Pak guru semakin marah, dan merubah hukumannya dengan membersihkan kamar mandi.
...Bersambung ...