Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)

Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)
BAB 45. Di hukum bersama


__ADS_3

💫 Hari kedua 💫


Hari ini adalah hari kedua Bimo dan Yuka duduk di kursi dan satu meja. Waktu terus berjalan, lima menit lagi jam pelajaran pertama akan segera di mulai. Tapi Bimo tak kunjung menampakkan batang hidungnya di dalam kelas. Melihat tanda-tanda Bimo tidak masuk, Yuka kembali ke tempat duduk nya.


Kriing!!!kringgg!!!


Bel pelajaran pertama berbunyi.


Grace dan Bianca melambai dari meja mereka, dan berkata, “Selamat Yuka, hari ini sepertinya biang kesusahan kamu tidak hadir.”


Baru saja memberi pujian dan semangat buat Yuka. Seisi kelas tiba-tiba dihebohkan oleh teriakan para siswa, “Bimo…Bimo. Kamu sangat tampan sekali!”


Lambaian tangan Grace dan Bianca pun meleyot, bola mata mereka mengikuti langkah kaki Bimo. Di sisi lain, Yuka menatap kedatangan Bimo dengan wajah malas.


“Masuk!” ucap Bimo menyuruh Yuka kembali ke kursi dekat jendela.


“Kamu saja yang masuk,” ketus Yuka tidak mau masuk.


Bimo meletakkan tasnya di atas meja, tanpa mengeluarkan sepatah-kata apa pun Bimo menggendong Yuka dan meletakkannya di bangku dekat dengan jendela.


Bug!


Satu bogem mentah mendarat di perut kotak-kotak Bimo.


Bimo memutar arah duduknya menghadap Yuka. Sepasang bola mata dingin menatap tajam wajah gugup Yuka, “Sakit?” tanya Bimo datar.


“Nggak tuh!” sahut Yuka sombong. Padahal dalam hatinya, ‘Sial. Rasanya aku ingin berteriak kesakitan. Semenjak kepulangan ku dari menuntaskan misi balas dendam, sampai sekarang aku sama sekali belum berlatih lagi. Karena aku sekarang duduk dengan musuh baru, aku harus kembali melatih kekuatan dan tenaga ku secepatnya.’


“Lain kali kamu tidak boleh duduk di sini lagi. Karena tempat duduk ini sudah menjadi milikku. Mengerti!” ucap Bimo di kalimat terakhir tegas.


“Dan kamu harus mengerti jika sekolah ini bukan sekolah Nenek moyang kamu!” sahut Yuka ikutan tegas.


“Kamu!” ucap Bimo menahan kepalan tinju.


Seperti balasan surat cinta. Saat Bimo mengangkat kepalan tinju ke arah Yuka, saat itu pula Guru wanita pelajaran pertama bahasa Indonesia datang. Guru wanita bahasa Indonesia itu meletakkan tumpukan buku di atas meja, bola mata tajam mengarah pada Bimo dan Yuka.


“Bimo!” bentak Guru wanita bahasa Indonesia.


Bimo menurunkan kepalan tinjunya, dan duduk kembali dengan benar.

__ADS_1


Guru wanita berdiri di tengah-tengah papan tulis, bola matanya melirik ke semua siswa di dalam ruangan, dan berkata, “Anak-anak, kalian beberapa minggu lagi akan melakukan ujian semester. Ibu harap kalian bisa belajar lebih giat lagi. Dan satu lagi, saya harap kalian bisa menjawab semua pertanyaan tanpa mencontek.”


“Baik, Bu!” ucap semua siswa serentak.


Mendengar kalimat ujian dan jangan mencontek Yuka mendadak bingung dengan dua kalimat itu. Karena setahu Yuka ujian semasa hidupnya hanya tergolong dua bagian. Pertama untuk ujian pertahan hidup. Kedua, ujian untuk melatih kekuatan.


Yuka pun mengangkat tangan kanannya, “Bu, ujian dan mencontek yang Ibu maksud itu apa?


Semua mata langsung tertuju sama Yuka. Bimo berada di sampingnya hanya memutar bola matanya malas. Grace dan Bianca saling menatap dari meja mereka.


Guru wanita menggeleng, tangan kanan memukul pelan dahinya, “Yuka…Yuka. Tujuan ujian sekolah itu untuk mengetes kemampuan kamu selama menjalani masa pelajaran di Sekolah. Oh iya, apa kamu sudah menyalin semua pelajaran yang tertinggal selama kamu di culik?” tanya Guru wanita mengingat Yuka tidak masuk sekolah hampir 10 hari.


Bimo spontan melirik, ‘Di culik? Kenapa gadis bodoh ini bisa di culik. Apa penculiknya nggak kewalahan menghadapi sikap bodohnya.’


Yuka menunjukkan dua jempol tangan, “Tentu saja sudah!”


“Mumpung kita belum memulai pelajaran. Ibu akan kasih tahu kamu untuk selalu waspada. Jika pulang harus segera pulang, kemana-mana kamu juga harus kabari tuan Valdes. Jangan buat calon idaman para kaum wanita dan pria menangis lagi karena kamu pergi tidak bilang-bilang,” ucap Guru wanita menasehati Yuka.


“Siap!” sahut Yuka.


“Kalau gitu mari kita buka buku pelajaran terakhir,” sambung Guru wanita memulai pelajarannya.


Pelajaran pertama di mulai. Semua siswa di dalam kelas tampak tenang menyalin tulisan guru wanita di papan tulis. Namun, ada hal lain di sini. Di saat semua para siswa di kelas sibuk mencatat, Yuka malah mengantuk dan tidur di atas buku tulis nya.


Bimo melirik, “Ciah, bisa-bisanya gadis bodoh ini tidur di kelas. Dan kalau aku tidak salah dengar dia ada hubungan dengan tuan Valdes. Tapi, siapa gadis bodoh ini. Dan, apa hubungannya dengan tuan Valdes yang cukup terkenal di kalangan seperti kami?” gumam Bimo pelan.


Melihat rok Yuka sekolah sedikit menaik ke atas hingga menampakkan bagian paha putihnya. Bimo menarik nafas, mengambil jaket di dalam ransel dan menutup paha Yuka.


Merasa takut khilaf akan melakukan hal lain kepada Yuka. Bimo memberi cubitan manis di perut samping Yuka.


Cuit!


Yuka spontan terbangun, dan berteriak, “Breng-sek kalian semua. Apa kalian ingin mati di tanganku!”


Sekali lagi Yuka menjadi pusat perhatian. Guru wanita, teman sekelas, termasuk Grace, Bianca, dan Rado menatap Yuka heran. Mereka heran kenapa Yuka terlihat seperti seorang preman, dan logat bicaranya juga keras. Sedangkan Bimo hanya tertawa di dalam mulut tertutup buku.


Guru wanita meletakkan buku besar di atas meja, salah satu tangan berkacak pinggang, “Apa kamu tertidur di dalam kelas Yuka?” tanya guru wanita datar.


Yuka tertunduk, “Ia,” sahut Yuka polos.

__ADS_1


Bimo melirik, ‘Polos banget jawabannya.’


“Apa kamu tadi malam bergadang?” tanya Guru wanita kembali.


Yuka menggeleng.


“Kamu tahu, ‘kan kalau saya paling benci melihat ada siswa yang tidur di dalam jam pelajaran saya?”


Yuka mengangguk.


Guru wanita mengarahkan tangannya ke pintu, “Sekarang kamu harus menerima hukuman keliling lapangan sebanyak 10 kali biar pikiran dan kedua mata kamu kembali segar!” tegas guru wanita memberikan hukuman.


Yuka melirik ke jendela, “Panas Bu,” ucap Yuka melihat matahari pagi begitu terik.


“Tidak ada alasan, sekarang kamu harus segera keluar dari kelas dan lari!” tegas Guru wanita kembali.


Merasa bersalah karena telah menjahili Yuka hingga diberikan hukuman lari lapangan di tengah terik Matahari. Bimo ikutan berdiri, “Saya juga salah dalam hal ini. Jadi saya mohon hukum saya," ucap Bimo menawarkan dirinya ikut di hukum.


“Kalau gitu kamu keluar Bimo!” tegas Guru wanita kepada Bimo.


Grep!


Bimo menggenggam pergelangan tangan kanan Yuka, dan membawa Yuka keluar dari kelas. Karena rasa kantuk Yuka belum sepenuhnya hilang, Yuka hanya patuh mengikuti langkah Bimo.


“Apa kamu memang suka tidur di kelas?” tanya Bimo datar.


“Bukan urusan kamu!”


“Sekarang jadi urusan aku. Karena kamu sekarang adalah teman sebangku ku!”


Yuka menahan kedua kakinya, dan melepaskan genggaman tangan Bimo, “Jangan sok baik sama aku. Kalau semua kebaikan kamu itu hanya akan menusukku dari belakang.”


“Siapa yang ingin berbuat baik sama kamu!”


“Bodoh ah! Aku mau selesaikan hukuman ku dulu,” ucap Yuka melangkah pergi menuju lapangan Voli.


“Sudah bodoh, sombong pula,” gumam Bimo membawa kedua kakinya melangkah mengikuti Yuka.


Sesampainya di depan lapangan, melihat lantai lapangan Voli begitu terang Yuka dan Bimo saling tatap. Yuka pun menghela nafas panjang, dan membawa kedua kakinya melangkah menuju terik lapangan Voli.

__ADS_1


“Yuka berhenti!”


...Bersambung ...


__ADS_2