
Mendengar kabar jika Yuka sudah kembali. Dan Valdes sedang berada di Jogja. Malam harinya Rado, Grace dan Bianca datang mengunjungi rumah Valdes, untuk menghibur Yuka sedang sendirian di rumah. Tidak lupa 2 buket bunga besar di bawa oleh Grace dan Bianca, sedangkan Rado hanya membawa 2 bungkus berisi coklat dan makanan.
Kemeriahan pun terdengar dari ruang tamu. Terlebih lagi Grace, teman super heboh dan suka mengajak Yuka untuk nonton film sedikit melenceng.
"Yuka apa kamu beneran baik-baik saja?" tanya Bianca menatap cemas.
Yuka berdiri, kedua tangan membentang luas, "Kamu lihat!"
"Ketika aku mendengar dari tuan Valdes kamu menghilang. Seisi pria yang berada di sekolah langsung patah hati. Apa lagi Bianca, dia terus menangis tersedu-sedu," ucap Grace menunjuk ke Bianca di sisi kanannya.
"Kenapa kamu menangisi ku?" tanya Yuka polos.
"Ketika mendengar orang baik yang menghilang selama 7 hari, dan tak tahu apakah dia masih hidup ataukah sudah mati. Di situ hati mulai dilanda dilema," Bianca memegang dadanya, "Di hatiku kini mulai dipenuhi warna dari-mu. Sepanjang malam aku berdoa kepada Tuhan agar engkau selamat. Dan segera kembali ke sekolah, berkumpul dengan kita semua."
"Aku dengar kamu tadi bilang hatimu telah dipenuhi warna-warni oleh Yuka?" sela Grace bertanya dengan maksud lain.
Bianca mengangguk, "Benar."
"Haaa" Grace menutup mulut lebarnya, "Ti-tidak mungkin. Apakah kamu calon Uke baru?"
Tak!!!!
Satu jitakan mendarat di puncak kepala Grace.
"Awu! sakit Rado...apa kamu sudah tidak punya rasa keperimanusian?"
"Perikemanusiaan, Grace," sambung Bianca membenarkan ucapan Grace.
"Bodoh!"
"Kamu itu yang bodoh," sahut Rado meninggikan nada suaranya.
"Sama-sama bodoh sa...."
"Diam!" bentak Grace dan Rado serentak.
"Kenapa asal berjumpa mereka selalu berdebat?" tanya Yuka polos.
__ADS_1
"Pasangan serasi memang seperti itu Yuka. Kalau tidak ada perdebatan di antar mereka, aku rasa hubungan mereka seperti kulit kacang yang kosong. Ham...pa!" ucap Bianca sedikit menjelaskan.
"Oh" sahut Yuka mengangguk.
Bianca memegang dagu Yuka, "Aku lihat kamu sepertinya kurusan?" tanya Bianca menatap liar wajah Yuka.
"Kamu benar. Itu efek aku menghilang selama 7 hari tanpa memakan apa pun," sahut Yuka polos.
"Yuka, kita nonton film di kamar kamu yuk!" ajak Grace mengeluarkan kaset CD BL.
Dari belakang ada sebuah tangan pria mengambil kaset CD milik Grace, "Film yang sangat laku kelas di kalangan wanita," ucap Valdes baru saja tiba.
"Berikan kaset itu padaku tuan," Grace mengambil kasetnya dan menyimpannya kembali.
"Apakah mobil di depan itu adalah milik kalian?" tanya Valdes mengingat ada mobil Lamborghini terparkir di depan halaman rumahnya.
"Mobil dia!" tunjuk Bianca dan Grace serentak ke Rado.
Rado menggaruk rambut tak gatal, "He He. Habisnya kami sangat rindu dengan Yuka. Tadi kami juga sempat telponan kepada Yuka. Yuka bilang dia sendirian di rumah, jadi kami datang mengunjunginya, " ucap Rado polos.
"Memang benar tadinya aku ingin kembali dalam waktu 7 hari lagi. Tapi karena urusanku sudah selesai, maka aku memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Terlebih lagi aku mengingat jika Yuka sendirian di sini," ucap Valdes berbohong.
"Tapi di sini banyak pengawal dan beberapa pelayan. Jadi bagaimana mungkin tuan mengajukan Yuka sendirian. Pasti ada hal lain yang taun sembunyikan," Grace mendekati Valdes, "Pasti Anda cemas karen suka dengan Yuka, 'kan?" sambung Grace bertanya ke inti.
"Uhuk! coklat," sela Bobby mengalihkan perhatian. Tangan kanan menunjuk bungkusan coklat.
"Bukannya ini coklat terkenal?" tanya Rado, Grace dan Bianca serentak. Kedua tangan juga serentak merogoh ke dalam kantung untuk mengambil coklat.
"Karena ini sudah malam, dan Yuka juga butuh istirahat," tangan kanan mengarah ke pintu, "Aku mohon dengan sangat kerendahan hati kepada tiga remaja tanggung untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Karena aku sangat yakin jika kedua orang tua kalian pasti sedang cemas di rumah."
"Maaf tuan, kami tidak bisa pulang ke rumah. Karena kami bertiga sudah berjanji akan tidur bareng di rumah ini," tangan kanan mengarah ke samping pintu lift, "Lihatlah di sana sudah berjejer tas milik kami. Di dalamnya ada baju sekolah dan buku pelajaran buat besok," sambung Grace dengan santainya.
Yuka melambai, "Karena Valdes sudah pulang, sebaiknya kalian bertiga pulang saja," ucap Yuka sedikit kikuk.
Valdes memijat pelipisnya, "Di sini tidak ada kamar lain, selain punyaku dan juga punya Yuka," ucap Valdes sedikit menjelaskan jika di sini hanya memiliki dua kamar. Kalau pun ada itu hanya kamar pelayan dan anak buahnya.
Karena tidak ingin pulang dengan sia-sia, Grace menjawab ucapan Valdes dengan santai, "Kenapa cemas, aku dan Bianca akan tidur di kamar Yuka. Sedangkan Rado akan tidur bersama dengan tuan Valdes atau pria tampan yang memberikan kami coklat."
__ADS_1
"Baiklah. Kalau gitu Rado akan tidur di kamarku, dan kalian berdua akan tidur di kamar Yuka," tangan kanan mengarah ke lift, "Karena jam terus berputar dan hari semakin malam. Sebaiknya kita langsung ke kamar saja. Soalnya aku tidak mau kalau melihat Yuka nanti sakit," sambung Valdes mencemaskan Yuka.
"Jadi kami diizinkan tidur di sini?" tanya Grace semangat.
"Tentu!" sahut Valdes malas.
"Kalau gitu mari kita lomba lari menuju kamar Yuka," ucap Grace memegang masing-masing pergelangan tangan Yuka dan Bianca.
"Grace, kalau seperti ini larinya aku pasti akan jatuh," keluh Yuka berusaha melepaskan genggaman tangan Grace.
"Kalau kalian berlari di rumahku. Maka kalian bertiga akan aku suruh pulang secara paksa!" tegas Valdes cemas saat melihat Yuka hampir jatuh karena ulah Grace.
Grace, Bianca, Yuka, dan Rado pun menjadi kalem sesaat. Langkah kaki mereka pun serentak masuk ke dalam lift.
Ting!!
Pintu lift terbuka.
"Kalian jangan berisik. Para gadis tidurlah di kamar Yuka," tangan kiri Valdes memegang bahu kiri Rado, "Dan anak lajang tidur di kamar lajang," sambung Valdes dengan tatapan penuh maksud.
Rado memasang wajah gelisah ke arah Grace, 'Matilah aku.'
Grace melambai, "Daa...Rado. Sampai bertemu besok pagi," ucap Grace semangat.
Yuka pun mulai melangkahkan kedua kakinya menuju kamar, sedangkan Bianca dan Grace mengikuti dari belakang.
Melihat Yuka sudah pergi. Valdes pun ikut mengajak Rado pergi menuju kamarnya, "Mari ikut aku," ajak Valdes melangkah terlebih dahulu.
Rado melangkah penuh ragu, wajahnya terus tertunduk, 'Habislah aku. Pasti tuan Valdes akan bertanya banyak soal kami. Aku harus jawab apa nantinya. Yang aku lakukan hanya jujur. Ia...aku harus jika tuan Valdes mulai bertanya.'
"Mari masuk," ajak Valdes membuka pintu kamar.
"Baik," Rado pun melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam kamar Valdes. Baru saja sampai di depan pintu kedua mata Rado membulat sempurna, "Kamar yang cukup bagus buat para lelaki tangguh," puji Rado saat melihat dekorasi kamar Valdes begitu keren.
"Terimakasih atas pujiannya," ucap Valdes sedikit membungkuk.
...Bersambung ...
__ADS_1