
Woongg!!!!
Woong!!!
"Sampai bertemu lagi Yuka. Kali ini kita impas. Semoga kamu bisa bereinkarnasi kembali dan hidup kamu akan bahagia dengan pria baik itu ( Valdes )," ucap Adair salam perpisahan, tangan kanan perlahan melepaskan genggaman tangan Yuka.
"Impas apaan! aku belum sampai ke rumah Valdes. Kamu jangan lepas tanganku, Adair..." sahut Yuka sedikit berteriak. Tangan kanan berusaha meraih tangan Adair, tapi Adair sudah jauh di belakang.
"Ujung portal ini sudah aku buat berakhir di rumah pria baik itu (Valdes), kamu tenang saja. Daaa....selamat menikmati kehidupan yang baru!" ucap Adair melambaikan tangan kanannya, menatap kepergian Yuka sudah jauh di depannya.
"Awas kamu kalau berbohong!" ancam Yuka. Tubuh semakin bergerak cepat mendekati ujung portal, "AAAAA"
Portal benar berakhir di teras rumah Valdes. Dan Yuka terjatuh dengan kepala terlebih dahulu menyentuh lantai sehingga Yuka pingsan.
Bammm!!!
"Kurang ajar kamu, Adair..." keluh Yuka sebelum pingsan.
Mendengar dentuman sangat kuat dari depan teras rumah. Para penjaga dan Bobby bergegas lari menuju teras rumah. Sesampainya di depan pintu, kedua mata Bobby dan penjaga membulat sempurna saat melihat tubuh mungil penuh memar dan baju berantakan sedang tergelatak di atas lantai teras.
"Nona muda!" ucap mereka serentak.
Bobby segera berbalik badan, kedua kaki melangkah cepat menuju ruang kerja Valdes.
Blam!!!!
Bobby membuka pintu ruang kerja.
"Apa kamu tidak punya sopan santun?" tanya Valdes meninggikan nada suaranya.
Bobby tidak memperdulikan amarah Valdes. Bobby mengayunkan kedua kakinya, berjalan cepat mendekati meja Valdes, menggenggam tangan Valdes dan membawanya pergi ke luar ruangan menuju teras rumah.
"Coba lihat siapa di sana!" tunjuk Bobby mengarah ke lantai teras rumah.
Valdes berbalik badan, "Berhentilah bercanda, dan buang boneka itu!" tegas Valdes berpikir jika Bobby sedang mengerjai dirinya.
"Kalau boneka itu adalah benar nona muda. Tuan jangan marah ya, kalau saya menggendongnya?" tanya Bobby serius.
Valdes kembali berbalik badan, "Ha..berisik. Biar aku lihat," ucap Valdes melangkahkan kedua kakinya mendekati Yuka. Dengan penuh ragu Valdes membalik tubuh Yuka. Kedua mata Valdes membesar saat melihat gadis kecil di pikirnya boneka, ternyata benar Yuka. Valdes segera menggendong tubuh Yuka, "Yuka! apa yang terjadi kepadamu?" tanya Valdes, kedua kaki berlari cepat menuju kamar.
__ADS_1
Para penjaga dan pelayan menghela nafas lega. Mereka saling menatap sambil tersenyum manis.
"Akhirnya nona muda kembali lagi!" ucap pelayan pertama.
"Iya, akhirnya kembali lagi," ucap pelayan kedua.
"Aku pikir tuan Valdes tidak akan murung lagi. Dan aku juga sangat senang jika rumah ini akan kembali dihiasi dengan keluhan dan rengekan nona muda," sambung pelayan ketiga.
"Tapi kenapa nona muda pulang dengan wajah dan tubuh penuh luka seperti itu. Melihat tubuh mungil dihiasi luka dan lebam, aku jadi sangat kasihan. Betapa menderitanya nona muda selama 7 hari di luar sana," sambung penjaga satu.
Bobby melirik dengan lirikan tajam, "Apa sudah selesai?"
" Maaf. Kami akan kembali bersiap-siap. Dan kami juga akan menyiapkan makan di tengah malam buat nona muda!" sahut pelayan dengan serentak.
Melihat pelayan dan penjaga sudah melangkah pergi. Bobby juga ikut melangkah pergi menuju kamar Yuka.
.
.
💫💫 KAMAR YUKA💫💫
Valdes terus menatap wajah lebam Yuka. Tangan kanannya terus membelai lembut rambut menutupi wajahnya. Rasa penyesalan dan kebahagiaan menjadi satu di dalam tangisan.
Tok!tok!
"Masuk!" sahut Valdes, melirik ke pintu.
"Saya sudah membawa pelayan untuk membersihkan tubuh nona muda. Dan saya juga sudah menelpon Dokter agar cepat datang kemari. Tapi karena Dokter lagi menangani kasus pasien kritis. Jadi dia akan datang dengan sangat terlambat," ucap Bobby memberitahu Valdes.
Valdes beranjak pergi dari ranjang, "Baiklah. Aku mau semua luka di obati dengan penangan kita dulu. Oleskan setiap luka dengan obat terbaik. Dan satu lagi, jangan bangunkan Yuka. Kecuali dia bangun sendiri. Apa kamu paham?" tanya Valdes kepada dua orang pelayan membawa ember berisi handuk dan air hangat. Dan satu lagi sedang membawa kotak P3K.
"Baik tuan!" sahut kedua pelayan serentak.
"Mari kita tunggu nona muda di luar," ajak Bobby sopan, tangan kanan mengulur ke pintu.
"Hem" sahut Valdes ikut melangkahkan kedua kakinya.
Bobby dan Valdes berjalan di koridor kamar Yuka dan miliknya. Valdes terus mengerutkan dahinya, seolah sedang berpikir kenapa Yuka bisa seperti ini dan siapa yang berani menculiknya.
__ADS_1
Valdes menghentikan langkah kakinya di depan lift. Berdiri menghadap Bobby, "Apa kamu lihat siapa yang membawa Yuka ke sini?" tanya Valdes serius.
"Tidak. Tapi yang sedang aku pikirkan, kenapa nona muda mampu bertahan di luar sana selama 7 hari lamanya. Tanpa minum dan makan!" Bobby memutar bola matanya ke Valdes, "Jika nona muda di culik, kenapa penculik itu tidak meminta uang tebusan atau menelpon tuan?"
"Kamu benar. Siapa sebenarnya pelakunya?" tanya Valdes bingung dan masih menerka-nerka kejadian apa sebenarnya menimpa Yuka.
Baru saja keluar, pelayan kedua berlari mendekati Valdes dan Bobby dengan wajah cemas.
"Tuan...."
"Ada apa?" tanya Valdes bingung.
"Katakan kenapa kamu berwajah cemas?" tanya Bobby ikutan cemas.
"Nona muda...." mengarahkan tangan kanannya ke belakang.
"Iya kenapa dengan Yuka?" tanya Valdes bertambah cemas.
"Ada apa! cepat katakan. Jangan buat aku bingung!" sambung Bobby ikutan bingung.
Wajah pelayan kedua berubah menjadi tersenyum manis, "Heee ..anu...nona muda sudah siuman. Dan kini sedang mencari tuan."
"Kamu sudah cocok menjadi petugas rumah hantu!" ucap Valdes kesal. Kedua kaki melangkah pergi menuju kamar Yuka.
Baru saja masuk ke dalam kamar, pelayan kedua keluar dengan wajah tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum!" ketus Valdes melirik pelayan berjalan ke melewatinya.
"Hai" sapa Yuka melambaikan tangan kanannya ke arah Valdes sedang berjalan ke arahnya.
Valdes hanya diam dengan wajah suram, kedua kakinya terus melangkah mendekati ranjang. Tangan kanan Valdes kepal dan melepaskannya di puncak kepala.
Bam!
"Auw!!" keluh Yuka mengelus puncak kepalanya.
"Kemana saja kamu. Kenapa kamu tidak memberitahu aku jika kamu sedang dalam kesulitan. Siapa yang melakukan ini kepada kamu. Dan kenapa kamu harus kembali dengan tubuh terluka seperti ini. Kenapa mereka tidak meminta uang kepadaku. Siapa orangnya ....Siapa Yuka ..." ucap Valdes meluapkan semua kekesalannya.
Yuka langsung memeluk Valdes, "Beribu maaf aku ucapkan untuk kamu. Aku mohon maafkan aku!" ucap Yuka lembut.
__ADS_1
Nafas Valdes memburu. Kedua tangannya kembali memeluk Yuka, air mata Valdes pun ikut menetes.
...Bersambung ...