
Saat Yuka sedang mengendap-endap masuk ke halaman rumah, terdengar suara pria berkata, “Gadis kecil, kenapa kamu berjalan seperti tikus sedang tersiram air?” tanya dua orang pria bertubuh kekar, kumis lebat dan kulit coklat.
Yuka perlahan melirik ke belakang, bibirnya tersenyum manis dan berkata, “Ou ouh. Aku ketahuan!” Yuka berdiri tegak, menggaruk rambut tak gatal, “Kedua Paman bertubuh besar ini kenapa berada di sini?” tanya Yuka dengan wajah polos.
Anak buah pertama langsung menggenggam baju bagian belakang Yuka, membuat tubuh Yuka sedikit menggantung. Melihat Yuka seperti bocah kecil menggantung seperti gantungan kunci. Kedua anak buah tersebut tertawa geli.
“Ha ha ha”
‘Teruslah tertawa, sampai tawa kalian aku buat menjadi rintihan sendu. Karena hari mulai gelap, sepertinya aku harus langsung bergegas saja.’
Bug!
Yuka melayangkan kaki kanannya ke bagian titik lemah milik anak buah tersebut.
“Auw” keluh anak buah melepaskan baju Yuka.
"Upps!! Sorry!" ucap Yuka menutup mulutnya.
"Bre*ngsek kamu tikus kecil!" ucap anak buah satunya.
Yuka berdiri menghadap kedua anak buah tersebut, kedua kakinya memasang ancang-ancang, kedua tangan ia kepal, dan tatapan serius menatap wajah anak buah tersebut. Yuka memanggil dengan jari telunjuknya, “Hadapi aku!”
Kedua anak buah saling menatap, kemudian mereka bergerak secara serentak ke arah Yuka.
“Hiiiaakkk”
Bug!!
__ADS_1
Yuka menangkis tunjangan kedua kaki anak buah tersebut hendak mengarah ke perutnya.
Bam!!
Dua tunjangan dari kedua kaki mungil Yuka mendarat ke perut buncit mereka berdua.
Buugg!
Satu sentuhan manis dari kaki kanan Yuka mendarat serentak ke wajah kedua anak buah tersebut. Membuat salah satu gigi rontok dan mengeluarkan darah.
“Auw. Sakit sekali!” keluh kedua anak buah tersebut memegang pipi dan perut mereka.
Karena hari mulai gelap dan Yuka belum menyiapkan ancang-ancang baru. Yuka memutuskan untuk berhenti sampai di sini dulu, dan melanjutkannya lagi besok. Yuka berbalik badan, kedua kaki berlari menuju gerbang, dan tangan kanan melambai ke belakang sambil berkata, “Daaa, Paman. Besok kita berjumpa lagi, hari ini kita sudahi dulu permainannya, karena aku takut nanti di cariin kedua orang tuaku,” ucap Yuka manja, tidak lupa salah satu mata menyipit.
“Jangan kabur kamu, bocah tengik!” teriak anak buah satu mengarahkan jari telunjuknya ke arah Yuka sudah melompat melewati pagar rumah.
Sesampainya di luar Vila milik Caprio. Yuka terus berjalan tak tentu arah, otak kecilnya mengingat kembali tentang anak buah Caprio penjaga rumah. Bibir Yuka terus mengumpat kesal, “Tadi aku lihat ada dua orang penjaga di depan pintu gerbang, 3 orang penjaga di masing-masing kanan kiri badan rumah, 2 orang jaga di depan pintu rumah, 5 orang penembak jitu berdiam diri di atas balkon. Ahh..kalau di dalam berapa orang lagi kira-kira, ya?” Yuka menggaruk rambut bagian belakang daun telinga, “Ha ha..lucu sekali aku sampai harus menghitung semuanya.”
Ggrrrrhhh!!!!
Saat dirinya terus berjalan, perutnya mendadak berbunyi. Yuka menghentikan langkah kakinya, kepala menunduk melihat perut, kedua tangan memegang perut kempesnya, “Kamu marah padaku karena dari tadi pagi hanya aku kasih minuman alkohol ya? aduh kasihan banget sih kamu perutku-” Yuka menggantungkan ucapannya, kedua mata melirik ke kanan dan kiri. Melihat apakah ada warung kecil ada di sini. Perutnya semakin keroncongan saat melihat ada satu warung di ujung jalan Vila, Yuka melangkahkan kedua kakinya dengan semangat, “Akhirnya ada warung juga!” ucap Yuka bersemangat mendekati warung tersebut.
Langkah kaki Yuka terhenti saat mendengar suara Adair menggema di langit luar.
“Ingat! Waktu kamu sudah tidak banyak, hari pun tersisa tinggal 4 hari lagi.”
Yuka menengadah ke atas langit sore, “Kok 4hari! Ini baru hari kedua dan aku masih memiliki waktu 5 hari lagi. Apa kamu sudah benar-benar semakin tua?”
__ADS_1
“Aku tahu…aku tahu. Tapi ini sudah termasuk malam, dan besok pagi kamu sudah genap 4 hari. Jadi hitung saja hari ini adalah hari keempat kamu. Kenapa kamu suka sekali membantah guru kamu! Sebal juga aku lama-lama,” sahut Adair menggema di langit menjelang malam.
“Kalau gurunya bodoh seperti kamu, aku wajib membantahnya. Sudahlah aku sangat lapar, aku mau makan dulu. Dan aku juga sedang memikirkan rencana untuk besok,” ucap Yuka sembari melangkahkan kedua kakinya menuju warung sudah berjarak 10 langkah di depan.
“Kenapa kamu harus banyak membuat rencana, sudah mainkan saja. Hajar mereka semua, dan kamu biar cepat kembali ke sini. Soalnya aku lihat pria baik itu sedang cemas di rumah,” sahut Adair agar membuat hati Yuka semakin kekeh dan jangan banyak berpikir lagi.
“Berisik. Aku tahu loh,” Yuka melambaikan tangan kanannya ke udara, “Sudah sana kamu pergi. Cari wanita buat membungkam mulut cerewet kamu itu!”
“Buat apa aku mencari wanita. Wanita itu sangat menyebalkan.”
Kedua kaki Yuka kini memang sudah sampai di samping warung. Tapi ada suara aneh mengusik kedua telinganya. Yuka semakin mendekatkan tubuhnya ke dinding berbahan tepas, salah satu matanya mengintip di lubang kecil. Yuka membulatkan kedua matanya saat melihat seorang wanita dan pria sedang berdiri, dan melakukan gerakan kecil.
"Kamu kenapa mengintip Yuka. Suara itu juga suara apa?” tanya Adair mendengar suara wanita seperti sedang kesakitan.
“AAAhh….jangan seperti itu!”
"Yuka kamu sedang ngapain? Jangan bilang kamu sedang menyiksa wanita?” tanya Adair sekali lagi.
Yuka menatap langit sudah gelap, jari telunjuk menempel di bibirnya, “Ssstt” jari telunjuk mengarah ke lubang tepas, “Di dalam warung itu ada seorang pria sangat bersemangat naik turun di belakang tubuh wanita tersebut. Dan wanita itu juga sedang berdiri tanpa memakai rok, terus apa itu yang masuk dari belakang. Karena melihat dari balik lubang kecil di tepas aku jadi tidak bisa menikmati banyak momen!” Yuka berdiri, “Sepertinya aku lihat dari dekat saja. Siapa tahu aku bisa membantunya,” ucap Yuka ingin melangkahkan kaki kanannya. Tapi harus terhenti saat mendengar suara Adair.
“Jangan! Jangan kamu melihatnya, entar kamu akan menjadi sasarannya. Ingat fokus pada tujuan Yuka. Aku pergi dulu karena kedua telingaku sangat terus,” sahut Adair segera pergi meninggalkan Yuka, dan berhenti memantau Yuka dari alam lain.
“Kenapa tidak boleh, apa sebaiknya aku melihat lagi,” Yuka kembali mengintip. Kedua matanya mendadak besar saat melihat wanita tersebut mengeluarkan sedikit cairan. Yuka kembali berdiri tegak, berbalik badan, dan melangkahkan kedua kakinya meninggalkan warung tersebut, “Ternyata mereka sedang melakukan mantab-mantab. Jijik sekali, untung aku belum memesan makanan apa pun di sana. Kalau sempat aku makan, apa aku tidak akan terus tambah.”
Karena merasa jijik, rasa lapar Yuka jadi menghilang. Kini ia membawa kedua kakinya berjalan pergi ke arah berbeda. Yuka terus berjalan sampai ia dapat menemukan tempat tinggal untuk dirinya beristirahat sejenak, dan akan menyelesaikan tujuannya subuh nanti.
...Bersambung...
__ADS_1