Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)

Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)
BAB 34. LUKISAN


__ADS_3

Jug! Jug!


Helikopter turun dengan perlahan di sebuah landasan pribadi milik Valdes.


Valdes segera melompat turun, tangan kanannya mengulur ke atas, "Genggam tanganku agar saat turun kamu tidak terjatuh!" ucap Valdes sedikit berteriak karena angin dari baling Helikopter sedikit berisik.


Yuka berdiri di tepian, tangannya menepis uluran tangan Valdes. Dengan sombongnya Yuka berkata, "Tidak perlu!" kedua bola mata melirik ke bawah, kedua kaki memasang ancang-ancang, dan Yuka melompat.


Bam!


Satu pendaratan mulut dengan bokong menyentuh lantai.


"Hahaha" tawa Bobby seketika pecah begitu saja saat melihat Yuka mendarat dengan posisi lucu.


Valdes juga ikut tertawa, tapi tawanya di sembunyikan dari mulutnya.


Yuka segera berdiri, kedua pipinya memerah, dan wajah cemberut terlihat jelas saat menatap Valdes dan juga Bobby. Kedua tangan mengelus bokongnya, "Apa!"


"Nona muda ..Anda ..."


"Jangan tertawa dan juga komen. Jika kamu tertawa lagi, maka gaji kamu akan aku kurangi!" bisik Valdes sambil mencubit perut bagian samping Bobby.


"Hem" Bobby mengangguk di dalam kelucuan.


Valdes mendekati Yuka, "Apa sakit?" tanya Valdes masih menahan kelucuan.


"Tidak!" sahut Yuka sombong dan malu.


"Baju kamu kotor. Biar aku bersihkan," ucap Valdes mengangkat tangan kanannya hendak mendarat di baju terusan belakang.


Yuka langsung menahan tangan Valdes, "Tidak perlu. A-aku bisa membersihkannya," sahut Yuka sedikit kaku, kedua tangan kembali membersihkan debu menempel di baju bagian belakang.


"Ya sudah," sahut Valdes datar.


"Tuan, mobil sudah sampai," ucap Bobby mengarahkan tangannya lurus ke sisi kiri.


"Baiklah," sahut Valdes melihat Bobby, kedua bola mata beralih ke Yuka, "Mari kita pergi. Setelah pergi rapat aku akan mengajak kamu berkeliling kota Surabaya. Di sini banyak Destinasi wisata yang sangat indah. Kamu mau kan jalan-jalan?" tanya Valdes untuk memastikan mau apa tidak Yuka berjalan-jalan.

__ADS_1


"Tentu. Katanya kota Surabaya terkenal dengan sejarah kepahlawanannya," sahut Yuka semangat.


"Kamu benar," tangan kanan mengulur ke sisi kiri, "Mari kita ke mobil. 1 jam lagi aku akan melangsungkan rapat. Dan kamu temani aku rapat terlebih dahulu ya?"


"Okay!" sahut Yuka semangat, kedua kaki melangkah pergi.


Valdes dan Bobby juga ikut melangkah di belakang.


Bobby melirik ke Valdes sedang tersenyum tipis memandang langkah kaki Yuka, 'Tuan benar-benar menyukai nona muda Yuka. Semoga menjaga jodoh sendiri akan berjalan dengan lancar. Kalau tidak, bakal ada perang dunia keempat. Dan tuan Valdes akan menjadi kakek lajang tua.'


"Apa kamu sedang mengumpat di dalam hati?" tanya Valdes melirik ke Bobby sedang tersenyum sendiri.


"Eh" lamunan pecah, Bobby menggaruk kepala bagian belakang tak gatal, "Aku hanya berpikir bagaimana dengan masa depan aku selanjutnya. Dan wanita mana yang ingin menikah denganku!" ucap Bobby mengalihkan pembicaraan.


"Aku rasa kamu sedang menyindirku!" sahut Valdes dengan lirikan tajam.


"Wanita manapun tidak akan cocok buat kalian berdua," sambung Yuka dengan entengnya.


"Anak kecil dilarang ikut campur," sahut Valdes, tangan kanan membuka pintu, "Cepat masuk!" tegas Valdes menyuruh Yuka masuk.


"Anak kecil....anak kecil. Kecil-kecil gini juga ahli dalam..."


"Hehe...tidak ada," sahut Yuka dengan senyum merekah.


"Tuan. Apa kita sudah bisa jalan?" tanya Bobby melirik ke belakang.


"Iya!" sahut Valdes melirik ke jam tangan.


Mobil dikendarai Valdes, Yuka, dan Bobby pun melaju dengan kecepatan tinggi agar segera sampai ke tempat tujuan. Karena landasan Helikopter dan tempat pertemuan tidak terlalu jauh. Dalam waktu 30 menit mobil mereka sudah sampai di sebuah gedung besar berwarna putih.


Bobby segera turun membuka pintu mobil milik Valdes, kemudian Yuka.


"Kenapa gedungnya terlihat sunyi dan hanya mobil saja yang terparkir?" tanya Yuka polos ke Bobby.


"Gedung ini khusus untuk tempat pertemuan," tangan kanan Bobby ke depan, "Mari saya temani nona muda berjalan-jalan selagi tuan Valdes mengadakan rapat," sambung Bobby mengajak Yuka untuk berkeliling di dalam gedung.


"Bobby, aku titip Yuka. Aku akan segera kembali dan kalian jangan jauh-jauh-" Valdes menggantung ucapannya, kedua mata melirik tajam ke Bobby, "Kalau terjadi hal buruk kepada Yuka, maka...."

__ADS_1


"Saya tahu. Maka gaji saya akan tuan potong dan nyawa jadi taruhannya," sambung Bobby memahami maksud ucapan dari Valdes.


"Aku pergi dulu Yuka. Kamu jangan nakal!" tegas Valdes.


"Tenang saja," sahut Yuka melambai, senyum paksa ia tunjukkan buat Valdes.


Valdes berbalik badan, kedua kaki melangkah cepat masuk ke dalam gudang.


"Ngomong-ngomong kenapa Valdes belum menikah?" tanya Yuka polos, kedua mata melirik punggung Valdes sudah hilang di depan mata.


"Karena dia masih menunggu jodohnya yang belum dewasa. Coba saja jodohnya sudah dewasa, saya yakin tuan Valdes akan segera menikahinya!" sahut Bobby bersemangat.


"Kenapa harus menjaga jodohnya. Apa jodohnya minta dijagain?" tanya Yuka kembali.


"Maaf menyela pembicaraan. Di sini mulai panas, sebaiknya kita masuk ke dalam gedung. Dan berkeliling sambil mengobrol perihal kisah cinta tuan Valdes. Apa nona muda mau?"


"Hem" sahut Yuka mengangguk.


"Mari," ajak Bobby menyuruh Yuka terlebih dahulu berjalan.


"Kita bergandeng tangan saja. Aku tidak mau nanti kesasar di dalam," ucap Yuka menggandeng tangan kanan Bobby.


Bobby mengulas senyum tipis, kedua kaki Yuka dan Bobby serentak berjalan menuju pintu masuk gudang. Sesampainya di dalam gedung, kedua mata Yuka disuguhkan dengan banyak lukisan kuno dan beberapa sejarah mengenai peperangan.


"Aku ingin melihat lukisan itu!" tunjuk Yuka ke sebuah lukisan bergambar seorang Ibu dan keempat anak masih kecil-kecil berjongkok mengeliling sebuah tungku tempat masak sedang menyala dan terdapat sebuah kendi besar.


Bobby pun menggandeng tangan Yuka dan membawanya mendekati lukisan tersebut.


Bobby melirik ke sisi kanan, "Saya tidak menyangka jika nona muda menyukai sebuah lukisan."


Air mata Yuka perlahan menetes saat melihat lukisan terlihat seperti sangat menyedihkan. Yuka segera menyeka kasar air matanya, "Keempat anak itu memiliki Ibu. Tapi kenapa kehidupan mereka sangat menyedihkan. Keempat anak itu juga masih bisa tersenyum manis saat melihat sebuah kendi besar hanya berisi air putih sedang di masak," Yuka melirik ke Bobby, "Apa kehidupan seorang rakyat miskin seperti itu?"


"Kehidupan saya juga seperti itu dulu. Saya seorang anak petani yang bercita-cita ingin menjadi orang sukses. Karena saya hanya anak tunggal. Kedua orang tua saya mengusahakan dan mengerahkan seluruh yang terbaik buat saya. Sampailah saya bertemu dengan tuan Valdes. Dan jadi seperti inilah akhirnya," ucap Bobby sedikit mengenang kehidupannya.


Yuka menunduk sedih, "Sayangnya aku tidak bisa merasakan kehangatan itu," sahut Yuka sedikit sedih.


Baik kehidupan lampau maupun kehidupan di dalam sebuah novel berjudul 👉 Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam). Yuka sama sekali tidak pernah merasakan kehangatan dari orang tua. Yang Yuka rasakan hanya sebuah perjuangan untuk bertahan hidup.

__ADS_1


Semoga kali ini Yuka akan merasakan kehangatan dan cinta dari seseorang yang sangat tulus ingin menjaganya. Dan mudah-mudahan kehidupan kedua Yuka akan berakhir dengan bahagia.


...Bersambung ...


__ADS_2