Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)

Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)
BAB 29. Mimpi buruk Valdes


__ADS_3

“Akkh…gadis Iblis…sialan!” teriak anak buah kedua dengan wajah lebam, tangan kanan mengulur, menatap kepergian Yuka.


Melihat kedua penjaga sudah lumpuh, tergeletak di lantai. Kedua kaki Yuka berlari keluar dari tahanan bawah tanah.


"Hosh! hosh!" Yuka terus berlari menelusuri lorong gelap. Jika mendengar suara langkah sepatu penjaga berjalan ke arahnya, Yuka bersembunyi di balik tiang terukir dari batu.


Saat Yuka bersembunyi terdengar suara para penjaga berkata, "Dengar semuanya! Kalian harus mencari gadis itu. Karena gadis Iblis itu sudah kabur dari tahanan. Dan habisi penjaga yang tidak becus itu!" suara satu orang penjaga cukup kuat dan nyaring terdengar di lorong gelap.


Yuka mengintip sejenak dari balik gelapnya lorong. Terlihat hanya cahaya lampu dan beberapa bayangan di dinding gua bawah tanah. Yuka menatap sekeliling lorong gelap, "Ke mana lagi aku harus bersembunyi?" tanya Yuka bergumam sendiri, kedua mata melihat lurus ke depan. Terlihat hanya sebuah batu besar menutup lubang.


"Ke kiri Yuka!" ucap Adair tiba-tiba memberi arahan, tanpa menampakkan wujudnya.


Yuka menatap langit lorong gelap, "Ke kiri gigi-mu! Nggak kau tengok itu jalan buntu!" sahut Yuka ketus.


"Jangan bandel kamu, Yuka. Aku bilang kiri....ya kiri!" ucap Adair sedikit menekan nada suaranya.


Yuka mengarahkan jari telunjuknya ke sisi kiri, kedua bola mata hendak lepas menatap ke langit lorong gelap, "Kau lihat ke sini...A..dair-" Yuka menggantung ucapannya, jari kiri mengarah ke kiri, "Di sana hanya ada jalan buntu. Oh....aku lupa, kamu kan Kakek tua yang berlagak muda. Nyuruh aku ke Ki..."


Kreekk!!! Kreekk!!!!


Dindingnya sedikit bergeser.


Yuka tercengang, "Luar biasa!" ucapnya kagum. Melihat Adair mampu menggeser benda dari kejauhan, Yuka tersadar kenapa sewaktu dirinya di tangkap Adair tidak menolongnya. Yuka mengarahkan jari telunjuknya ke langit lorong gelap, "Kurang ajar kau Adair. Kenapa sewaktu aku di tangkap dan dipu-kuli kamu tidak menolongku. Apa kau sengaja ingin membuatku mati di sini?" tanya Yuka meninggikan nada suaranya.


"Jika balas dendam semudah itu. Buat apa kamu capek-capek kembali ke Dunia dan tahun yang berbeda. Sudah nikmati saja prosesnya. Ingat waktu kamu tinggal 2 hari lagi!" sahut Adair dengan entengnya.


Yuka kembali marah karena Adair mempersingkat waktunya. Kepalan tinju mengarah ke langit lorong gelap, "Apa kau tidak punya kalender di rumah! Ini masih hari ketiga dan aku masih ada sisa empat hari lagi!" ucap Yuka meninggikan nada suaranya.


"Heee...bocah tua! sadar diri. Kamu saja pingsan sudah memakan waktu dua hari. Terkadang aku berpikir, kamu ini beneran pintar atau memang sok pintar."


"Berisik! Aku mau pergi dulu. Kamu jangan ke mana-mana dulu. Aku gak tahu jalan nih!" ucap Yuka melangkahkan kedua kakinya memasuki dalam lorong bawah tanah sudah di buka kan oleh Adair.


"Iya...aku tahu. Aku kan pemandu sorak mu!"


Kedua kaki Yuka terhenti saat dirinya sudah sampai di ujung lorong. Yuka berbalik badan saat melihat lorong tersebut ternyata tembus ke sebuah tempat latihan ekse-kusi tahanan. Dengan lirikan malas Yuka menatap langit lorong gelap, "Adaaaaaiiirrr!!!!"

__ADS_1


"Yuka... Aku mengaku sudah tua. Jadi maafkan kesalahan ku. Aku pergi dulu, dan kamu hadapilah sendiri!" ucap Adair panik dan suara menghilang begitu saja.


Saat kedua kaki hendak berlari, ada kedua tangan kekar menahan kedua bahu Yuka dari belakang. Yuka melirik perlahan, senyum manis ia tunjukkan ke penjaga bertubuh tinggi, memakai kalung seperti kalung an-jing.


"Mau ke mana kamu gadis kecil?"


"Main petak umpet yuk!"


"Kalau kalah apa hadiahnya untukku?" tanya penjaga memakai kalung an-jing.


"Kita akan bermain selamanya," sahut Yuka sambil lari di tempat.


"Heii, tangkap gadis itu!" teriak seorang penjaga memakai baju kemeja putih. Langkah kaki berjalan ke arah Yuka.


"Baik," sahut pria memakai kalung an-jing menarik baju bagian belakang Yuka, dan mencampa-kkan Yuka hingga terjatuh dengan bokong mendarat di lantai.


"Auuw!" keluh Yuka langsung berdiri, kedua tangan mengelus bokongnya.


"Hanya gadis kecil biasa. Tapi kenapa kamu bisa melukai teman kami begitu hebat," ucap pria memakai kemeja putih, kedua kaki berjalan mendekati Yuka.


Yuka menggaruk kepala tak gatal, "Hehe" jari telunjuk mengarah ke semua penjaga sedang berjalan mengelilingi nya, "Mana mungkin aku bisa melakukan itu semua. Mungkin mereka saja yang saling menyakiti satu-sama lain," sahut Yuka polos.


Yuka meraup wajahnya, "Bukan aku loh, weuuy!" kepala menggeleng, " Kenapa kalian tidak percaya samaku!" sambung Yuka kembali.


"Hiiakkk!!" teriak tiga orang penjaga mulai menyerang Yuka dengan peralatan milik mereka.


Swwiiisshhh!!"


Dengan santai Yuka menundukkan badannya untuk menghindari pedang taj-am mengayun ke arahnya. Yuka juga membuat salto ke belakang dengan tubuh mungil lentur nya. Dan berkata, "Kalau berantem jangan pakek suara kenapa. Cukup kedua kaki dan tangan saja yang bermain!" keluh Yuka merasa terusik mendengar teriakan para penjaga.


"Baiklah, karena kalian semua sudah menunjukkan kekuatan kalian kepadaku. Maka aku akan mengeluarkan kekuatanku!" Yuka memutar kedua tangannya seperti sedang membuat bola, "Mika-mika wik-wik!" ucap Yuka membaca mantra. Kedua tangan dihempaskan ke depan.


Hooshhh!!!"


Braakk!!!

__ADS_1


Blamm!!!


Angin kencang keluar begitu saja dari kedua telapak tangan Yuka menerbangkan 10 anak buah dan penjaga terpental ke belakang.


"Auww!"


"Akkhg!"


Keluh 7 anak buah dan penjaga memegang masing-masing dadanya. Darah juga ikut menyembur dari mulut. 3 penjaga lainnya ada ke timpa reruntuhan dinding bawah tanah.


Yuka menepuk kedua tangannya seperti sedang mempersiapkan debu, " Ternyata tidak sulit untuk mengalahkan kalian semua. Ini baru permulaan-" Yuka menggantung ucapannya, kaki kanan dan tangan kanan menggertak 10 orang penjaga, termasuk pria bertubuh besar memakai kalung anjing, " Siapa lagi yang ingin aku buat rempeyek!"


Door!!!


Satu tembakan menda-rat di paha kanan Yuka.


Yuka langsung berlutut, dari lubang celana paha kanan mengeluarkan darah. Kedua mata Yuka membulat sempurna saat melihat Caprio berjalan ke arahnya, tangan kanan mengulurkan senjata a-pi ke arah Yuka. Kedua kelopak mata Yuka langsung teringat kilas balik kejadian dirinya sewaktu tertembak. Kejadian itu membuat Yuka menjadi kaku, diam seperti patung. Suara tebakan juga mengingatkan Yuka saat tubu-hnya dihujani beberapa peluru. Suara itu juga membuat jantung Yuka seketika berhenti berdetak.


Melihat Yuka seperti patung. Caprio memberi isyarat kepada anak buah dan penjaganya, untuk membuat Yuka hidup iya, mati tidak.


Bamm!!!


Bug!!!


Plakkk!!!


Saat Yuka dihujani puk-ulan dan tunjangan. Kedua matanya hanya bisa melihat perbuatan anak buah dan penjaga dengan keji melakukan perbuatan itu kepada tu-buh mungil Yuka. Caprio hanya tertawa keji. Kedua telinga seperti tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. Tubuh tadinya terasa sakit kini menjadi kebas. Air mata Yuka perlahan menetes saat mengingat senyum Valdes terus menghantui pikiran dan hatinya. Kini kedua mata Yuka perlahan tertutup, dan darah perlahan keluar dari mulut Yuka.


.


.


✨✨Di Dunia Berbeda✨✨


Valdes sedang ketiduran di atas meja kerja tersentak saat mimpi buruk tentang Yuka. Di dalam mimpi itu terlihat Yuka sedang mengulurkan tangannya. Seluruh wajah, dan tubuh dipenuhi luka. Saat Valdes hendak meraih tangan Yuka dipenuhi darah. Ada kabut tebal menghalangi Valdes. Saat kabut menghilang, Yuka pun ikut menghilang ditelan kabut.

__ADS_1


"YUKA...." teriak Valdes dengan sesak di dalam dada.


...Bersambung...


__ADS_2