
💫💫HARI KEDUA💫💫
Sudah dua hari Yuka bertahan hidup di tahun 1968. Karena Caprio sudah tidak tinggal di rumah lamanya, Yuka diam-diam mendatangi tempat-tempat tertentu untuk mencari keberadaan Caprio. Siang ini Yuka sedang beristirahat di salah satu Bar. Sikap dan sifat aslinya kembali di sini, dia mulai memesan minuman beralkohol untuk menyegarkan pikiran dan hatinya. Dengan santai Yuka juga menikmati satu batang rokok.
Tanpa Yuka sadar ada dua orang pria sedari tadi memperhatikannya.
“Gadis kecil yang sangat nakal.”
“Sepertinya dia gadis baru di sini. Apa kamu ingin mencobanya?”
“Aku bukan seorang pria yang menyukai gadis di bawah umur. Wajahnya memang cantik, tapi bentuk tubuhnya belum sempurna. Melihat tubuhnya saja milikku tidak berdiri, apalagi menyentuhnya.”
“Kamu yakin? Siapa tahu suaranya bagus saat bergoyang.”
“Tidak. Lebih bagus aku sama wan-ita 20 ribu di luar sana, daripada sama bocah itu.”
“Ya sudah. Kamu jangan menyesal nanti, ya!”
Salah satu pria tersebut berjalan mendekati Yuka. Kini dirinya duduk di kursi kosong sebelah kanan Yuka. Pria tersebut melingkarkan tangan kirinya di bahu Yuka. Senyum penuh maksud terpampang jelas di wajah mabuknya.
“Gadis kecil tidak boleh datang ke sini. Apa kamu tidak dicariin sama Ibu kamu?”
Yuka menurunkan perlahan tangan pria tersebut, tatapan dingin memandang wajah pria tersebut, “Turunkan tangan kamu! Atau aku akan buat lengan ini terbelah menjadi tiga bagian.”
“Ha ha ha” pria tersebut tertawa renyah di wajah Yuka, membuat saliva menyembur ke wajah Yuka. Pria tersebut memang menurunkan kedua tangannya, tapi kedua tangan itu kini ia taruh di atas kedua paha Yuka, dan membelainya, “Bagaimana dengan ini?”
Yuka hanya memasang wajah tanpa ekspresi. Tidak ada satu orangpun mampu menaikkan has-ratnya. Kecuali, Valdes. Hanya Valdes seorang mampu membuat Yuka memiliki beribu ragam ekspresi.
__ADS_1
Bukannya takut akan dilecehkan oleh pria tersebut. Yuka malah mengambil tangan kanan pria tersebut, dan meletak-kannya di salah satu gunung kembar mini miliknya. Tatapan datar masih terus menatap wajah pria tersebut, “Apa kamu juga ingin melakukan ini?” tanya Yuka datar.
“Gadis aneh. Lepaskan tanganku!” ucap pria tersebut mulai panik melihat sikap Yuka.
Bukannya semakin takut, Yuka malah berpindah duduk di atas pangkuan pria tersebut, “Apa kamu juga ingin aku duduk di atas sini?” tanya Yuka berwajah datar.
Pria tersebut bertambah panik. Kenapa Yuka tidak takut dengan dirinya, kenapa Yuka malah balik menyerang pria tersebut, dan membuat pria itu berpikir jika Yuka sudah tidak waras. Pria tersebut berusaha mendorong tubuh Yuka agar turun dari pangkuannya. Tapi tubuh Yuka sangat keras seperti patung, tidak bisa digoyahkan.
Yuka juga memasu-kkan tangan kirinya ke dalam. Dengan wajah datarnya Yuka kembali bertanya, “Apa kamu suka dengan permainanku?”
“AAA….Lepaskan…Weuy....argh…lepaskan tangan kamu!”
Yuka mendekatkan wajah datarnya ke wajah pria tersebut, dan kembali bertanya, “Kamu minta dilepaskan tapi aku mendengar suara kenikmatan dari mulut kamu. Apa aku harus menambah kekencangan tanganku?”
Dengan wajah memerah pria tersebut menatap semua pengunjung sedang menatapnya heran. Tangan kanan pria tersebut mengarah pada teman masih duduk di kursinya, “Tolong…jauhkan aku dari gadis….aahhh!!!!”
Yuka turun dari pangkuan pria tersebut, senyum tipis seperti psikopat ia tunjukkan kepada pria sudah terkulai lemas di kursi. Kedua tangan kotornya ia bersihkan dengan minuman miliknya, “Cih, Belum lima menit bermain sudah keluar. Lemah!” dengan santai Yuka mengeringkan kedua tangannya di baju pria tersebut, tatapan datar terus mengarah buat pria tersebut, “Lebih baik menikah, daripada kamu mencoba dengan gadis di bawah umur. Sekali lagi aku berjumpa dengan kamu! Aku pastikan-” Yuka menggantung ucapannya, kedua mata perlahan turun ke bawah, melihat titik masih terpajang bebas, “Aku akan membuatnya menjadi gambar hati,” ucap Yuka menyambung perkataannya.
Saat Yuka masih ingin memberikan pelajaran buat pria mesum tersebut. Ada tiga pria memakai baju seperti Bangsawan berjalan masuk ke dalam Bar, sambil membicarakan tentang Caprio. Karena target utama sudah didapatkan, Yuka perlahan meninggalkan pria mesum tersebut, dan berpura-pura berjalan kemeja utama tempat pembuatan minuman.
Setelah tiga pria Bangsawan duduk di meja utama memesan minuman, kedua telinga Yuka mulai menguping pembicaraan para Bangsawan tersebut. Dengan secangkir minuman beralkohol.
“Aku dengar Caprio, baji*ngan itu sedang melakukan perdagangan ilegal,” ucap salah satu Bangsawan satu.
“Dia juga sedang mencoba berbisnis di barang haram, tapi bukan atas nama miliknya. Caprio sedang mencari kambing hitam untuk menutupi bisnis kotornya itu. Dengar-dengar dirinya akan menargetkan salah satu Bangsawan lemah yang ada di kota ini.”
“Andai saja Estella, pembunuh tanpa bayangan itu tidak menghilang. Mungkin aku akan menyuruhnya untuk memusnahkan Bangsawan licik, dan kotor seperti dia.”
__ADS_1
“Gadis pembunuh itu aku dengar sudah dihabisi oleh Caprio dengan cara tragis. Jasadnya juga ditemukan oleh salah satu tukang arit di pinggiran dasar jurang.”
“Tidak mungkin, aku berpikir gadis itu masih hidup.”
“Tapi salah satu aset milik gadis itu sudah menjadi milik Caprio. Apa kamu tidak tahu Vila di Bandung. Vila itu sekarang menjadi tempat Caprio untuk melancarkan aksinya. Aku juga sering mendengar banyak pel-acur sering di jemput untuk ke sana.”
“Akh. Jika memang benar, aku tidak habis pikir Iblis itu bisa melakukan itu kepada Estella.”
Yuka mengeratkan tangan genggaman tangan kanannya di gelas minuman miliknya. ‘Ternyata seperti itu. Pantes saja sulit untuk menemukannya di kota ini, ternyata dia sudah pindah dan menikmati hasil kerja kerasku tanpa membayar pajak rumah selama menempatinya. Aku harus segera ke sana, tapi bagaimana caraku untuk pergi ke kota itu. Apa aku harus mencuri kendaraan orang lain untuk aku pinjam beberapa hari.’
Saat Yuka sedang berpikir keras, salah satu Bangsawan datang mendekati Yuka. Bangsawan itu juga langsung mengambil gelas berisi minuman dari tangan Yuka. Tatapan dingin dan datar menatap wajah bingung Yuka. “Apa kedua orang tua kamu tidak mengajarkan tentang bahayanya seorang anak kecil meminum ini?”
Yuka mengayunkan tangannya, berusaha meraih minuman di junjung tinggi, “Berikan minuman itu!”
“Aku tidak akan memberikannya. Katakan kenapa kamu bisa ke sini?” Bangsawan tersebut menumpahkan semua minuman Yuka di atas lantai.
Byur!!!
Yuka segera turun dari kursi, tatapan suram mengarah ke lantai basah, dan beralih ke wajah Bangsawan tersebut. Yuka menunjuk wajah Bangsawan tersebut sambil berkata, “Kamu tidak ada hak untuk mengaturku!”
Pria tersebut menundukkan sedikit tubuhnya, menatap lekat wajah Yuka, “Gadis nakal seperti kamu cocoknya aku berikan hukuman apa?”
Deg!
Kedua mata Yuka membulat sempurna saat mendengar ucapan Bangsawan tersebut. Kenangan Valdes kembali muncul di kedua matanya. Wajah pria Bangsawan tersebut juga sangat mirip dengan Valdes. Apa pria tersebut adalah orang Valdes di kehidupan ini.
Yuka menundukkan pandangannya, “Aku ingin pulang ke Bandung. Aku rindu ingin melihat kuburan milik Ibu di dekat Vila milik nona Estella,” Yuka menaikkan wajahnya, kedua mata penuh permohonan menatap bangsawan tersebut. Kedua tangan bersatu seperti memohon, “Aku mohon hantarkan saya, Paman.”
__ADS_1
...Bersambung...