
Baru saja keluar kamar dan hendak berlari menuju ruang kerja Valdes. Dahi Yuka kepentok bidang dada Valdes.
Bug!!!
"Auw. Kenapa selalu ada tiang yang menghalangi langkahku!" gerutu Yuka kesal.
"Coba aku lihat," ucap Valdes membungkuk, tangan kanan menyingkap lembut rambut menutup dahi Yuka. Valdes meruncingkan mulutnya dan membuat hembusan halus di dahi Yuka, "Hhuuff!"
Deg!!!
'Kenapa nafasnya wangi mint. Segar sekali. Rasanya aku ingin meleleh seperti coklat yang diletakkan di dalam oven.'
Tuing!
Valdes mendorong pelan dahi Yuka, "Wajah kamu memerah, pasti kamu sedang berpikir yang tidak-tidak!"
"Auw!! bertambah sakit," rengek Yuka kembali mengelus dahinya.
"Kamu kenapa?"
"A-aku....anu...aku..." ucap Yuka gugup, jari telunjuk saling bertemu satu-sama lain.
"Aku nanti sore mau pergi ke Jakarta. Ada pembangunan baru mengenai kontrak kerja yang aku jalani. Aku juga akan pulang paling lambat 1 Minggu lagi," Valdes mengelus pelan puncak kepala Yuka, "Kamu bersekolah yang benar di sini. Jangan nakal dan kabur lagi. Aku juga akan memberikan kamu oleh-oleh dari Jakarta nanti," sambung Valdes dengan nada berat.
"Aku ikut!"
"Tidak boleh. Kamu harus belajar yang benar," sahut Valdes melepaskan tangannya.
"Aku ingin menjumpai Paman dan Bibi," rengek Yuka, kedua mata berkaca-kaca.
Valdes berbalik badan, "Tidak boleh!"
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Yuka penasaran.
Valdes melirik tajam, "Mereka bukan Paman dan Bibi yang baik untuk-mu. Satu lagi, setelah pulang dari Jakarta ada satu hal yang ingin aku tanyakan buat kamu!" ucap Valdes di kalimat terakhir terdengar serius.
"Apa itu? katakan saja sekarang!"
"Jika aku katakan sekarang, maka aku tidak akan bisa pergi ke Jakarta. Jadi biarkan pertanyaan itu aku simpan selama seminggu. Dan bersiaplah untuk menjawab semua pertanyaan ku nanti," ucap Valdes dingin.
Yuka menunduk, "Baiklah!" sahut Yuka tidak bersemangat.
"Kalau gitu aku ke kamar dulu, aku mau mengemas semua baju-baju. Kamu pergilah mandi, dan jangan lupa tunggu aku di bawah nanti," tegas Valdes. Kedua kaki Valdes ajak melangkah pergi menuju kamar.
"Hal apa yang ingin ditanyakan oleh Valdes ya?" gumam Yuka pelan. Yuka berbalik badan, "Bodo amat! mandi dulu ah, biar segar!" sambung Yuka melenggang menuju kamarnya.
.
✨ 30 menit kemudian ✨
Yuka sudah selesai mandi. Sesuai pesan Valdes untuk menunggunya di bawah. Yuka melangkahkan kedua kakinya dengan riang di koridor menuju lift. Baru saja ingin melewati kamar Valdes, kedua mata Yuka tidak sengaja melihat pintu kamar milik Valdes terbuka sedikit.
Kedua kaki Yuka terus melangkah, kedua bola matanya berbinar cerah saat melihat konsep ruangan kamar Valdes sangat klasik, "Wah! kamar yang sangat aku idamkan," puji Yuka menatap sekeliling ruangan. Melihat tempat tidur tinggi dan besar, kedua kaki Yuka berlari. Yuka berdiri di pinggir ranjang, "Kenapa tempat tidurnya sangat tinggi? aku coba naik ah!" sambung Yuka memanjat ke ranjang saat kedua kakinya tak sampai.
Nyes!!
Saat tubuh mungil Yuka berbaring di atas ranjang empuk. Tubuh Yuka seolah ingin masuk dan tenggelam di ranjang empuk tersebut. Bukan hanya berbaring, Yuka juga menggulingkan tubuhnya di atas ranjang, "Ha ha, seperti ini rupanya masa kecil anak terlahir dari keluarga orang kaya," ucap Yuka merasa senang saat tubuhnya berguling dengan bebas di atas ranjang besar dan empuk.
Nyiit!!!!
Pintu kamar mandi terbuka. Namun suara pintu terbuka tidak di sadari oleh Yuka, karena dirinya sedang fokus bermain.
"Apa yang sedang dilakukan bocah itu di atas ranjang ku!" ucap Valdes pelan. Tubuh sedikit basah dan berbalut handuk kini mendekati ranjang, "Kenapa kamu masuk ke kamarku tanpa izin?" tanya Valdes berdiri di samping ranjang.
__ADS_1
Yuka langsung terdiam, kedua tangannya spontan menarik selimut dan menutup kedua matanya saat melihat Valdes tidak memakai baju, "Kenapa kamu bisa di sini. Dan kenapa kamu tidak memakai baju!"
"Ini kamarku, jadi aku berhak ngapain saja di sini," ucap Valdes santai.
"Aku pikir kamu tidak ada di kamar," tanpa melihat Yuka perlahan mendekati pinggiran ranjang. Saat kaki kanan hendak turun ranjang, sedangkan kedua mata masih tertutup selimut. Yuka lupa kalau ranjang Valdes lebih tinggi dari miliknya. Yuka pun terjatuh dengan posisi terlungkup. Tangan kanan refleks meraih handuk Valdes melingkar di pinggang.
Bam!
"Aduuh! sakit sekali," rengek Yuka perlahan bangkit.
"Yuka, kembalikan handukku!" ucap Valdes meninggikan nada suara, tangan kanan mengulur.
"Minta handuk kat...." ucapan Yuka terhenti saat kedua bola mata melirik ke bawah. Yuka langsung memejamkan kedua matanya, tangan kanan mengulur, "Nah! lain kali kalau pakai handuk itu pakai jarum peniti," sambung Yuka malu. Yuka langsung berdiri, kedua mata masih terpejam.
"Kalau kamu berjalan sambil memejamkan kedua mata. Maka celaka yang akan kamu tanggung," Valdes mendekat, kedua tangan membuka perlahan kelopak mata Yuka, "Seperti ini dong. Jadi kalau kamu mau mengintip aku, kamu tidak tanggung-tanggung," sambung Valdes sedikit bercanda.
"Kamu mesum!" teriak Yuka menutup kembali kedua matanya.
"Ha ha" tawa renyah keluar dari mulut Valdes saat melihat pipi Yuka merona. Valdes mengacak rambut Yuka, "Aku pakai boxer kok. Kamu tenang saja."
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?" Yuka pun membuka kedua kelopak matanya.
"Karena kamu asik bermain di ranjang ku, bagaimana aku bisa mengatakannya," Valdes mengambil kemeja tergantung di tempat gantungan baju. Kedua bola mata melirik ke Yuka masih terus melihat tingginya ranjang, "Kenapa kamu terus memperhatikan ranjang ku?" tanya Valdes penasaran.
"Nggak, aku masih bingung saja sama tempat tidur kamu yang tinggi ini. Bagaimana bisa kamu tidur setinggi ini. Apa kamu tidak takut jatuh?" tanya Yuka polos.
Valdes baru saja selesai memakai setelan kemeja berjalan mendekati ranjang. Valdes berdiri di samping ranjang, "Kamu lihat ini!" tunjuk Valdes ke ranjang hanya setinggi kedua paha atasnya.
"Oh, pantas saja. Samaku setinggi perut sedangkan sama kamu setinggi itu!" tunjuk Yuka mengarah ke suatu titik. Yuka berbalik badan, "Kalau gitu aku tunggu kamu di bawah," sambung Yuka melangkah pergi.
"Gadis yang sangat polos. Aku jadi semakin penasaran siapa gadis ini?" tanya Valdes pada dirinya sendiri saat otak kecil menampilkan kembali satu gambar Yuka di taman tanpa bayangan dan satu dilihat secara langsung saat pergi ke Surabaya.
__ADS_1
Hati Valdes terus bertanya-tanya, apakah Yuka ini hantu? tapi kenapa hantu bisa menyentuh manusia dan juga makan?
...Bersambung ...