Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)

Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)
BAB 43. MENGULIK


__ADS_3

💫 DI KAMAR VALDES 💫


Rado benar-benar seperti terjebak di dalam kandang singa dan buaya. Rado di kelilingi oleh kedua pria dewasa, kedua mata menatapnya penuh maksud.


'Habislah aku. Kenapa aku harus menuruti semua permintaan dua wanita ular ini. Andai satu wanita yang terus memaksaku untuk menemui Yuka dan tidur di rumah Yuka. Mungkin aku tidak akan terjebak di dalam kamar predator seperti ini. Ya Tuhan...tolong hamba-mu yang penuh dengan dosa gara-gara kebanyakan nonton BP. Aku akui, aku khilaf. Tapi mau kayak mana, mata ini sudah terlanjur dinodai oleh Kek Sugi. Eh...kenapa aku malah bergumam sendiri dengan dosa ku. Ah...bisa gila aku kalau terus di tatap seperti ini.'


Merasa suasana cukup hening di dalam kamar. Valdes segera meletakkan buku miliknya berjudul SUAMI KE-13 di sisi ranjang. Perlahan Valdes mendekati Rado sedang duduk seperti patung di sofa panjang, "Malam ini seperti pesta bujang ya?" tanya Valdes ke Rado dengan tenang.


"A-apa maksud tuan Valdes?" tanya Rado kikuk.


"Maksud aku, kita tidur di satu kamar dengan tiga orang pria. Hal ini bukannya seperti seorang pria yang akan menghabiskan malam kesendirian sebelum menikah dengan kekasihnya," ucap Valdes menjelaskan sedikit tentang perkumpulan pria sebelum menikah.


"Oh...saya tidak tahu," sahut Rado kikuk.


Valdes duduk di sebelah Rado, tangan kanan memukul pelan bahu bagian kiri dari belakang, dan berkata, "Kamu teman dekatnya Yuka, 'kan?"


"Tentu saja. Kenapa tuan?" tanya Rado mulai menghilangkan rasa gugupnya.


"Kalau saku boleh bertanya, di sekolah kalian apa ada seorang pria sedang mengejar Yuka?" tanya Valdes mulai masuk ke intinya.


"Tentu saja banyak. Yuka itu cukup terkenal di sekolah. Apa lagi dia memiliki parah yang cantik, baik, meski sikapnya dingin dan datar," sahut Rado mulai akrab.


"Jadi, apakah ada seorang pria yang disukai Yuka?" tanya Valdes penasaran dan sedikit cemburu.


Bola mata Rado sejenak berputar ke atas, dan kembali menatap wajah Valdes, "Sepertinya tidak ada. Karena Yuka hanya memikirkan tuan."


"Loh, kenapa terus memikirkan aku. Apa aku seperti seorang penjahat yang harus diwaspadai?" tanya Valdes antar senang dan penasaran.


"Tentu saja tidak. Dia selalu kagum sama tuan. Dan dia juga sempat kasihan sama tuan karena sampai sekarang tuan belum memiliki pasangan. Katanya kalau suatu saat dia pergi, maka tuan akan sangat kesepian. Itu katanya," ucap Rado mulai mengarang bebas.


"Mau pergi ke mana?" tanya Valdes cemas.


"Ya, kalau Yuka sudah dewasa pasti dia akan memiliki pasangan hidup dan pergi meninggalkan rumah ini. Iya kali, Yuka menikah dan masih tinggal di sini. Apa kata calon Istri tuan nantinya," ucap Rado dengan pikirannya sendiri.


Grep!!


Tangan kanan memulai menggenggam erat bagian baju piyama samping.


"Tapi tuan jangan kuatir. Yuka bilang dia belum ingin menikah kalau tuan belum menikah," sambung Rado kembali dengan karangan bebas, membuat jantung Valdes mendadak panas.

__ADS_1


"Maaf saya menyela percakapan ini. Saya ingin katakan sebaiknya kita tidur, karena waktu sudah menunjukkan pukul 23:40 tengah malam," sela Bobby langsung memutus percakapan saat melihat wajah Valdes tampak memerah seperti menahan amarah. Bobby sofa panjang.



...ILUSTRASI...


Dahi Rado langsung mengerut, jari telunjuk mengarah lurus ke sofa, "Apa aku tidak salah lihat?"


"Iya benar, kamu tidak salah lihat," ucap Bobby menyakinkan Rado.


"Apa kalian pikir aku tidak tahu itu sofa untuk apa!"


"Bukannya itu sofa untuk santai. Emang kamu pikir sofa untuk apa?" tanya Valdes penasaran.


"Itu sofa bisa buat mantab-mantab," Rado merebahkan berdiri, "Aku tidur di ranjang saja. Percuma punya ranjang selebar gabah, untuk membagi secuil buat anak kecil saja tidak mau. Pelit!" sambung Rado kesal. Kedua kaki melangkah menuju ranjang Valdes.


"Apa kamu tadi melihat aku di marahi anak kecil?" tanya Valdes polos.


"Aku tidak fokus dengan bocah itu. Yang aku fokus kan adalah sofa yang baru saja tuan beli," ucap Bobby melirik ke sofa.


Valdes melambai, "Buang-buang waktu saja kamu. Sudah sana balik ke kamar. Jangan lupa kamu cek Yuka. Sudah tidur apa belum dia," tegas Valdes mengusir Bobby dari kamarnya.


.


.


✨ DI KAMAR YUKA ✨


Yuka memang gadis dari yang lain. Di saat Grace dan Bianca sedang asik menonton film BL. Di saat itu pula Yuka tengah mendengkur di atas ranjang nya.


"Arqhhh!!!arggh!!?"


"Cantik-cantik mendengkur," gumam Grace melirik ke Bianca.


"Daripada elu, cantik-cantik nonton beginian. Ngajak aku pula," sahut Bianca sebal. Bianca berdiri, "Aku tinggal tidur lah. Bosan aku lihat adegannya terlalu Bucin seperti itu," sambung Bianca beranjak pergi menuju ranjang.


"Bianca...Bianca, nanggung loh. Sedikit lagi kelar perjuangan cinta mereka," panggil Grace masih duduk di karpet bulu depan Tv.


Mendengar suara teriakan Grace, Yuka spontan ngelindur. Yuka terduduk, jari tangan mengarah tak tentu anak, dan mulut berkata, "Hei para pengecut. Jangan beraninya kalian berteriak di belakangku. Kalau kalian ingin melawanku, sini...lawan aku!"

__ADS_1


Merasa bersalah atas perbuatan Grace. Bianca perlahan merebahkan tubuh Yuka sembari berkata, "Usshh...ushh...bobok Yuka...ooo..bobok Yuka."


Tok tok!!!


"Saya mendengar ada teriakan dari dalam," ucap Bobby membuka pintu.


"Iya, maafkan saya Paman," ucap Grace sedikit menundukkan tubuhnya.


Melihat Tv masih menyala dan mendengar ada suara teriakan dari pria. Kedua bola mata Bobby langsung membulat sempurna saat melihat tontonan mereka, "Siapa yang menonton film ini?" tanya Bobby segera mendekati Tv.


"Sa-saya," ucap Grace mengangkat perlahan tangannya ke atas.


Bobby langsung mengeluarkan kaset CD, dan mematahkannya di depan Grace.


Tak!!!!


"Kok di patahkan? itu kaset CD keluaran terbaru," ucap Grace sedih saat melihat kaset CD kesayangannya patah. Kedua kaki Grace pun segera mendekati Bobby.


Bobby membungkukkan sedikit tubuhnya, "Saya mohon maaf untuk yang tadi. Sebagai pria dewasa, saya hanya ingin memastikan tontonan mana yang layak atau tontonan yang tidak layak kepada anak seperti Anda. Jika kedua orang tua kalian tahu, kalian menonton seperti ini di usia dini. Maka saya sangat yakin mereka juga akan cemas dan takut. Kalau mau menonton film seperti ini. Tunggulah sampai kalian sudah beranjak di atas 17 tahun," ucap Bobby lembut.


Grace menundukkan wajahnya, "Aku juga minta maaf. Kalau gitu aku janji tidak akan menontonnya lagi," sahut Grace merasa bersalah.


Bobby mengelus pelan puncak kepala Grace, "Kalau gitu cepat lah tidur," ucap Bobby menyuruh Grace untuk tidur.


"Hem" sahut Grace patuh.


Setelah membereskan sisa kaset Cd, Bobby segera beranjak pergi meninggalkan kamar Yuka.


Melihat Bobby sudah pergi, Grace mencolek tubuh Bianca, "Aku akan tobat nonton seperti itu. Tapi dengan satu syarat, aku akan mendekati Paman tadi. Gimana menurut kamu?"


Bianca mendorong pelan dahi Grace, "Di otak kamu yang ada hanya pacaran dan pacaran saja. Sebaiknya sekarang kamu tidur. Karena aku sangat mengantuk," ucap Bianca dengan nada berat efek sudah ngantuk berat.


"Hem" sahut Grace sembari mematikan semua lampu kamar.


"Grace?!!" teriak Bianca merasa takut di dalam kegelapan.


"Hehe. Maaf!"


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2