
Melihat lantai lapangan Voli begitu terang Yuka dan Bimo saling tatap. Yuka pun menghela nafas panjang, dan membawa kedua kakinya melangkah menuju terik lapangan Voli.
"Selamat menikmati hidup Yuka," gumam Yuka melangkahkan kaki kanannya.
“Yuka berhenti!” ucap Bimo menghentikan langkah kaki Yuka, saat bola matanya melihat Yuka berjalan tanpa bayangan.
Yuka menghentikan langkah kakinya, wajah melirik sedikit kebelakang, “Ada apa?” tanya Yuka dingin.
Bimo mendekati Yuka, “Siapa kamu?” tanya Bimo.
“Ya, aku Yuka lah. Seorang manusia seperti kamu, masa kamu bertanya lagi aku siapa. Kamu bo-doh atau to-lol?!”
Bimo mengarahkan jari telunjuknya ke bawah, “Lihat!”
Bola mata Yuka perlahan mengikuti jari Bimo. Bola mata Yuka langsung membulat sempurna saat ia lupa akan kata-kata Adair kepada dirinya.
Kata-kata itu adalah ‘Kamu harus ingat Yuka jika kamu adalah sama seperti aku. Kamu juga tidak memiliki bayangan di atas tanah, itu semua karena kamu dan pemilik tubuh sudah mati.’
“Kenapa diam?” tanya Bimo menekan nada suaranya.
Yuka segera berbalik badan, “Bukan urusan kamu!” ketus Yuka membawa kedua kakinya pergi menuju tempat teduh.
Belum puas mendapat jawaban benar dari Yuka. Bimo mengikuti Yuka, dan ikut berteduh bersama. Bimo melirik tajam, “Katakan kamu siapa? Dan apa tujuan kamu di sini?”
Deg!
Pertanyaan Bimo seolah memberitahu jika Bimo mengetahui Yuka bukan manusia seperti pada umumnya, dan pertanyaan Bimo seperti mengetahui apa tujuan Yuka untuk kembali hidup.
Bimo terus menatap tajam Yuka hingga dirinya bisa mendapatkan jawaban sesuai dengan pertanyaannya.
Yuka memijat pelipisnya, “Haah! Kamu itu siapa sih?” tanya Yuka kembali.
“Jangan mengalihkan pembicaraan!” Bimo mendekatkan bibirnya ke daun telinga Yuka, “Katakan kamu siapa, dan apa tujuan hidup kamu?” tanya Bimo sekali lagi.
Yuka memutar arah berdirinya menghadap Bimo, “Aku hidup demi balas dendam, dan aku juga akan mati setelah semua dendam itu terbalas. Apa kamu puas?” tanya Yuka di kalimat terakhir mendekatkan wajahnya.
Merasa tidak puas dengan jawaban Yuka. Bimo melambai, “Sudahlah, lagian itu tidak penting bagiku,” Bimo membawa kedua kakinya berlari menuju lapangan Voli, sembari berkata, “Tetaplah di sini, hukuman kamu biar aku saja yang melakukannya."
Yuka menaikkan kedua lengan bajunya, “Dia pikir aku wanita lemah! Lihat saja siapa yang lebih cepat berlari di lapangan. Aku atau kamu, pria sok mau tahu!” gumam Yuka membawa kedua kakinya ikut berlari menyusul Bimo.
Di tengah-tengah putaran pertama, bola mata Bimo mendadak liar saat dirinya tak dapat melihat Yuka berdiri di tempat teduhan. Bimo menghentikan langkahnya di bawah terik matahari, tangan kanan menggaruk kepala tak gatal, “Di mana gadis aneh itu?”
__ADS_1
Ctak!
Satu jitakan manis melayang.
Bimo langsung mengusap kepala bagian belakang, “Siapa yang baru saja menjitak kepalaku?” tanya Bimo heran, kedua bola mata menatap liar ke sekeliling lapangan Voli.
Yuka melambai, “Dasar lemah!” ucap Yuka meninggikan nada suaranya karena dirinya sudah jauh di depan Bimo.
20 menit sudah berlalu. Yuka dan Bimo kini duduk dipinggiran lapangan.
Yuka mengipas-ngipas wajahnya, “Hosh..hosh. Jika suatu hari nanti aku diberikan hukuman oleh Guru. Lebih baik aku menerima hukuman menghabisi nyawa daripada berlari di tengah terik matahari seperti ini,” gumam Yuka.
Bimo memberikan botol air mineral dingin, “Nah, minum!”
“Makasih. Aku tidak butuh!”
Bimo membuka tutup botol, mendekatkan mulut botol ke bibir Yuka, “Aku bilang minum!” ucap Bimo memaksa.
Yuka menepis botol, hingga botol tersebut jatuh dan tumpah di atas tanah. Yuka berdiri, “Aku minta sama kamu agar menjauhi aku. Dan jangan pernah berbuat baik kepada ku, karena aku tidak membutuhkan kebaikan orang lain,” ucap Yuka datar.
Bimo mengambil botol dan menutup botol bersisa sedikit air di dalamnya, “Siapa juga yang ingin berbuat baik kepada kamu. Aku hanya kasihan saja sama kamu. Hidup iya, tapi mati tidak. Berjalan di atas muka bumi tanpa bayangan, seperti kamu sedang terbelenggu di dalam jerat Iblis. Ingin terbebas dan bernafas lega, tapi kamu tidak bisa melakukannya. Sakitnya itu ketika masih ingin hidup panjang di dunia bersama dengan orang yang kita cintai, kamu harus melakukan sesuatu hal yang akan menyakiti diri….”
Bam!
“Aku bilang berhenti!” ucap Yuka dingin. Kedua kaki ia bawa melangkah menuju kelas.
“Cih! Sakit juga,” ucap Bimo menghapus jejak darah. Bimo menaikkan sebelah alisnya, “Sungguh menarik,” gumam Bimo menatap kepergian Yuka.
.
.
💫Di dalam kelas💫
Tok!tok!
Yuka mengetuk pintu.
Yuka berdiri di depan pintu kelas, “Bu, aku sudah melakukan lari sebanyak yang Ibu katakana. Jadi, boleh tidak aku mengikuti pelajaran terakhir Ibu?” tanya Yuka merubah tatapannya menjadi sendu.
Guru wanita mengangguk, tangan kanan mengarah ke bangku Yuka, “Masuk. Tapi janji jangan tidur di saat jam pelajaran saya?” tanya Guru wanita.
__ADS_1
Yuka mengangguk, kedua kaki ia bawa melangkah masuk dan duduk kembali di kursinya.
Tok!tok!
Bimo mengetuk pintu kelas.
“Kamu juga sudah menyelesaikan hukuman?” tanya Guru wanita.
Bimo mengangguk, “Sudah.”
“Kalau gitu cepat masuk,” ucap Guru wanita.
Baru sampai di tengah kelas, langkah kaki Bimo terhenti saat Guru wanita memanggil namanya.
“Tunggu Bimo!”
“Ada apa lagi?” tanya Bimo dingin.
“Kenapa sudut bibir kamu berdarah?” tanya Guru wanita melirik ke sudut bibir Bimo.
Bimo menyeka darah, “Ini hanya satu teguran manis dari wanita…aneh!” ucap Bimo kedua bola mata melirik ke Yuka.
Mendengar ucapan Bimo, Yuka hanya menundukkan wajahnya, kedua tangan mengepal di atas rok sekolah.
“Apa itu perbuatan Yuka?” tanya guru wanita melirik ke Yuka.
“Tidak. Ini semua gara-gara ulah aku sendiri karena berlari begitu semangat hingga aku terjatuh,” ucap Bimo berbohong. Bimo membungkukkan sedikit tubuhnya, “Aku permisi,” sambung Bimo membawa kedua kakinya pergi.
Bimo menarik sedikit kursinya ke belakang, dan duduk dengan tenang tanpa mengungkit perbuatan Yuka kepadanya.
Melihat Bimo tampak tenang, Yuka melirik dari ujung ekor matanya, ‘Pria ini sangat menyebalkan. Berlagak sok dingin, tapi kelakuannya seperti sedang mengincar sesuatu dariku. Aku jadi penasaran siapa pria ini?’
Melihat Yuka melirik dirinya secara diam-diam. Bimo langsung menegur Yuka, “Ada apa! Apa kamu belum puas?” tanya Bimo datar.
“Idih, perasaan dilihatin. Ngaca dulu!”
“Awas sekali lagi kamu melirikku diam-diam. Akan aku cungkil nanti,” ucap Bimo mengarahkan dua jari ke matanya.
Yuka mendengus kesal, “Hem!”
‘Kalau seperti ini ceritanya aku bakalan tidak akan betah bersekolah di sini lagi. Bagaimana kalau aku meminta Valdes untuk memindahkan aku ke sekolah lain. Apakah Valdes akan menyetujui hal itu? haah, aku harap Valdes akan menyetujuinya. Kalau seperti ini terus-menerus aku bakalan tidak konsen belajar. Dan Valdes akan marah padaku jika aku mendapatkan nilai jelek. Aduh…pusingnya.’
__ADS_1
...Bersambung...