Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)

Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)
BAB 24. Menuju Vila Bandung


__ADS_3

Yuka menundukkan pandangannya, “Aku ingin pulang ke Bandung. Aku rindu ingin melihat kuburan milik Ibu di dekat Vila milik nona Estella,” Yuka menaikkan wajahnya, kedua mata penuh permohonan menatap bangsawan tersebut. Kedua tangan bersatu seperti memohon, “Aku mohon hantarkan saya, Paman!” ucap Yuka berbohong. Dirinya hanya ingin ke Bandung untuk bertemu dengan Caprio, dan segera menuntaskan balas dendamnya.


Pria Bangsawan tersebut menghela nafas, “Huft”


“Anda kenapa Paman?” tanya Yuka berpura-pura polos.


“Baiklah!” jari telunjuknya mengarah ke wajah Yuka, dengan wajah serius pria Bangsawan tersebut berkata, “Tapi kamu harus berjanji, mulai hari kamu tidak boleh memegang minuman seperti ini. Jika kamu tidak bisa menempati janji, maka aku akan turunkan kamu di jalan!” ancam pria Bangsawan tersebut memberikan sebuah persyaratan kepada Yuka.


“Siap!” sahut Yuka tegas.


“Karena aku masih ada urusan dengan rekanku, maka kamu tunggu dulu di sini. Aku akan kembali ke meja dulu karena mereka sudah menungguku,” sahut pria Bangsawan mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke meja utama.


“Hem” sahut Yuka mengangguk patuh.


Pria Bangsawan tersebut berjalan menuju mejanya. Sedangkan Yuka kembali duduk, karena sudah berjanji tidak akan meminum minuman beralkohol, Yuka memesan minuman soda dingin. Sesekali Yuka melirik ke meja pria Bangsawan tersebut, memastikan pria itu berbohong atau tidak.


Merasa bosan duduk sendirian dan tidak melakukan apa pun, Yuka meraih kotak rokok dari dalam saku jaketnya. Saat ingin mengeluarkan satu batang rokok, terlihat ada tangan pria memegang bahu Yuka dari belakang. Yuka melirik perlahan, dengan wajah malas ia menatap seorang pria. Pria tersebut adalah pria nakal yang sudah dikerjain habis-habisan oleh Yuka tadi.


Yuka menepis tangan pria tersebut, menjauhkan tangan kotor dari bahunya.


“Berani sekali kamu!”


Yuka memutar arah duduknya, tatapan malas memandang pria tersebut, “Mau kamu apa?”


“Melakukan hal yang sama dengan kamu!”


“Ck” Yuka membuang wajahnya ke sisi kanan dengan bibir tersebut manis.


Pria tersebut memegang kuat dagu Yuka, membuat Yuka menengadah. Kedua mata penuh maksud menatap lekat wajah cantik Yuka, “Kamu memang gadis yang cukup menantang.”


‘Rasanya ingin aku belah menjadi seribu bagian tubuh pria ini. Apa aku habisi saja ya?’

__ADS_1


Saat Yuka sedang membuat ancang-ancang, terdengar suara seorang pria dari belakang, “Lepaskan gadis itu!”


Yuka melirik, setelah tahu itu suara dari pria Bangsawan, Yuka memasang wajah ketakutan, “Paman….a-aku takut!”


Pria tersebut tercengang mendengar suara lembut dan manja Yuka. Kedua kakinya berjalan mundur ke belakang, jari telunjuk mengarah kepada Yuka, dan berkata, “Dia adalah gadis nakal. Tadi dia sudah melakukan hal kotor kepadaku. Jadi aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran dengannya!" ucap pria tersebut sedikit ketakutan karena melihat pria Bangsawan.


“Pergi….atau kamu akan aku…” gertak pria Bangsawan kepada pria tersebut.


“Ti-tidak…a-aku akan pergi,” ucap pria tersebut berlari tunggang-langgang keluar dari Bar.


Melihat pria tersebut berlari tunggang-langgang, pria Bangsawan memegang pergelangan tangan kiri Yuka, dan membawanya keluar dari dalam Bar. Kedua kaki Yuka dan pria Bangsawan terhenti di samping mobil. Pria Bangsawan membuka pintu mobil kursi penumpang bagian depan, dan mendorong tubuh Yuka masuk ke dalam mobil.


“Auw!” keluh Yuka kepentok stir kemudi. Yuka membenarkan duduknya, tangan kanan memegang dahi kiri, “Kasar sekali pria satu ini. Aku jadi merindukan Valdes yang penuh dengan kelembutan meski wajahnya datar dan dingin,” keluh Yuka kembali mengingat Valdes.


Pria Bangsawan masuk, segera ia memasang seatbelt milik Yuka. Melihat Yuka terus memegang dahi kiri sedikit memar, pria Bangsawan bertanya, “Dahi kamu kenapa?”


“Jangan berlagak bodoh Paman. Kalau Paman tidak mendorongku masuk secara kasar mungkin ini tidak akan terjadi!” ucap Yuka sedikit meninggikan nada suaranya.


“Tentu saja. Seorang Bangsawan pasti menepati janjinya. Jadi hantarkan saja aku ke Bandung dengan mobil bagus Paman,” sahut Yuka penuh keyakinan.


“Jika aku ingin berbuat jahat kepada kamu, bagaimana?”


“Maka Paman akan mendapatkan balasannya,” sahut Yuka santai. Karena dirinya ahli dalam membunuh, jadi kemanapun ia menginjakkan kedua kakinya, Yuka tidak akan pernah takut dengan siapa pun.


“Baiklah kalau kamu sangat yakin kepadaku,” pria Bangsawan memutar setir kemudinya menuju kota Bandung.


Sepanjang perjalanan Yuka hanya menatap dari jendela kaca mobil. Perlahan kedua kelopak matanya terasa berat, ingin tidur tapi Yuka masih tetap bertahan untuk tetap sadar. Karena Yuka takut akan di turunkan atau di buang di tengah jalan. Namun rasa kantuk itu tidak tertahankan lagi, Yuka akhirnya tertidur lelap dengan menyadarkan tubuhnya di badan mobil.


“Gadis yang aneh. Tubuh mungil tidak sesuai dengan perilakunya,” gumam pria Bangsawan melirik ke Yuka.


Karena jarak tempuh dari kota Jakarta menuju Bandung kurang lebih memakan waktu kurang lebih 3,5 jam, pria Bangsawan membiarkan Yuka tertidur lelap. Dan akan membangunkan Yuka saat sudah sampai.

__ADS_1


.


.


✨✨4 jam kemudian✨✨


Akhirnya mobil ditumpangi Yuka sudah sampai di Kota Bandung. Mobil pria Bangsawan juga terhenti tidak jauh dari sebuah Villa cukup besar dan terlihat klasik. Karena waktu mulai sore, pria Bangsawan segera membangunkan Yuka.


“Mau terus tidur, atau aku akan melakukan hal buruk kepada kamu!” ucap pria Bangsawan berbisik di daun telinga kiri Yuka.


Yuka spontan duduk menyudut, tatapan masih setengah sadar menatap wajah pria Bangsawan sedang tersenyum penuh makna. Yuka menatap sekeliling tempat dari dalam mobil, “Paman membawaku ke mana?”


“Tentu saja kita akan menikmati momen berdua di sini!” sahut pria Bangsawan berbohong. Karena melihat Yuka tadi tertidur pulas sepanjang perjalanan, pria Bangsawan berkata seperti itu karena ingin sedikit memberi peringatan kepada Yuka jika menumpang dengan seseorang dirinya harus lebih waspada dan jangan sembarangan percaya dengan orang lain.


Saat pria Bangsawan sedang mengerjai Yuka, masuk sebuah mobil cukup familiar di kedua mata Yuka. Bukannya memperdulikan ucapan pria Bangsawan tersebut, Yuka malah berfokus ke mobil baru saja masuk menuju Villa tersebut.


Yuka langsung membuka seatbelt miliknya, “Aku harus segera turun,” tangan kanan berusaha membuka pintu mobil, tapi tidak bisa terbuka karena masih di kunci oleh pria Bangsawan.


“Kamu mau kemana?” tanya pria Bangsawan heran.


“Aku harus segera turun dari sini,” ucap Yuka serius, kedua tangan masih terus berusaha membuka pintu mobil.


“Aku akan temani kamu ke kuburan Ibu kamu,” pria Bangsawan membuka seatbelt miliknya, “Kamu tidak boleh pergi sendirian, karena daerah ini adalah milik Bangsawan terkejam dan licik yang cukup terkenal!” ucap pria Bangsawan mengingatkan Yuka kalau Vila ini bukan milik Estella lagi, tapi sudah milik Caprio.


Yuka menahan bahu pria Bangsawan dari belakang, “Tidak perlu kuatir. Di sini aku juga memiliki kerabat. Paman cukup mengantarkan aku saja, dan pergilah dari sini sebelum Bangsawan itu melihat mobil Paman,” sahut Yuka berbohong.


“Kamu yakin ada kerabat di sekitar sini?” tanya pria Bangsawan menyelidik.


“Benar. Aku pamit dulu,” Yuka turun dari mobil, senyum manis Yuka tunjukkan sebagai ucapan terimakasih buat Bangsawan tersebut. Sambil menutup pintu, Yuka melambaikan tangan kanannya dengan senyum manis di bibir merah muda.


“Kenapa aku merasa gadis ini berbohong. Tapi ya sudahlah, yang terpenting aku sudah mengantarnya dengan selamat,” ucap pria Bangsawan sendiri, kedua mata melihat Yuka terus berjalan menuju Villa milik Caprio.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2