
Hari ini adalah hari pertama Paman dan Bibi tinggal di kediaman rumah Valdes. Sebelum Yuka dan Valdes bangun, Paman dan Bibi sudah bangun terlebih dahulu.
Bibi kini berada di dapur bersama dengan ketiga pelayan. Sedangkan Paman sedang berkeliling rumah.
“Maaf kenapa Bibi datang kemari?” tanya pelayan satu.
Tidak senang mendengar pertanyaan pelayan satu. Bibi langsung memarahi pelayan satu.
“Kenapa rupanya. Emang kamu siapa? Pembantu saja sudah berlagak sombong.”
“Maaf, saya ‘kan cuman..”
“Alah..banyak omong kamu. Sudah cepat kerjakan pekerjaan kamu sebelum Yuka dan Valdes bangun. Kalau kamu tidak bekerja, maka aku akan memecat kamu nanti!” ketus Bibi meninggikan nada suaranya.
Mendengar keributan dari dapur, Bobby baru saja pulang dari lari pagi langsung masuk ke dapur, “Ada apa ini?” tanya Bobby.
“Anu..Bibi ini…”
“Lihat pelayan pilihan kalian tidak becus memasak. Masa dari tadi di dapur belum ada satu pun makanan tersedia di atas meja. Bagaimana jika Yuka bangun dengan perutnya yang lapar. Apa mereka mau membuat keponakan ku mati kelaparan!” sela Bibi.
“Tapi tidak…”
Bobby mengangkat setengah tangannya, memberi kode kepada pelayan agar tidak memberi jawaban apa pun. Bobby melirik ke pelayan, dengan kepala memberi kode untuk melajutkan pekerjaan mereka. Setelah itu Bobby mendekati Bibi.
“Jika tidak tahu urusan rumah ini saya harap sebaiknya Anda tidak perlu ikut campur. Jangan berlagak sok peduli dengan nona muda, jika pada akhirnya Anda lah orang yang akan menghancurkan nona muda sendiri. sekali lagi saya peringatkan kepada Anda untuk menjauhi dapur di saat para pelayan sedang sibuk bekerja. Jika saya mendengar ada keributan di dapur semua karena ulah Anda, maka saya tidak akan menjamin mulut Anda bisa mengeluarkan suara!” ucap Bobby dingin.
Glek!
Bibi menelan saliva perlahan. Bibi juga memegang kerongkongannya, dengan kedua mata menatap Bobby penuh dengan ketakutan.
Tidak ingin berlama-lama, Bobby langsung berbalik badan, dan berkata, “Segera keluar dari dapur ini sebelum saya menarik Anda keluar dari sini!” ucap Bobby dingin.
Sekujur tubuh Bibi langsung dingin, kedua kakinya pun berlari keluar dari dapur.
Ketiga pelayan langsung menundukkan sedikit tubuhnya, “Terimakasih sudah mempercayai kami!” ucap ketiga pelayan kepada Bobby.
“Lain kali jika wanita itu masuk, kalian tidak perlu meladeninya. Kalau gitu saya permisi dulu,” pesan Bobby.
Kedua kaki Bobby pun melangkah pergi meninggalkan dapur.
.
__ADS_1
.
Yuka baru saja terbangun kini melenggang dengan baju gaun menuruni anak tangga, bibirnya terus mengeluarkan nada suara, “Du..du..du!” langkah kaki Yuka terhenti saat melihat Paman dan Bibi berjalan sambil mengendap-endap. Penasaran dengan benda apa di dalam kedua genggaman tangan Bibi dan Pamannya. Yuka pun membawa kedua kakinya dengan cepat berjalan turun mendekati Paman dan Bibi.
“Apa yang kalian sembunyikan?” tanya Yuka dari belakang.
Paman dan Bibi spontan menghentikan langkah kakinya, mereka juga melirik secara perlahan ke belakang. Melihat Yuka terus menatap tajam ke arah mereka. Paman dan Bibi spotan berbalik badan, mereka juga menyembunyikan sesuatu di balik tubuh mereka.
“Yu-Yuka. Kamu kenapa sudah bangun?” tanya Bibi kaku.
“Aku memang bangun jam segini, karena aku harus menemani Valdes bekerja,” sahut Yuka.
“Kenapa kamu tidak bersekolah?” tanya Paman berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Aku ‘kan sudah pintar, jadi buat apa aku pergi ke sekolah,” sahut Yuka santai.
“Tapi kamu bukan Istrinya Valdes, jadi kamu tidak perlu menghabiskan waktu menemaninya bekerja,” sambung Bibi.
“Aku rasa itu bukan urusan Bibi,” tangan Yuka mengulur, “Coba tunjukan apa yang kalian sembunyikan di balik tubuh Paman dan Bibi,” ucap Yuka.
Di sisi lain, pelan-pelan Bobby menyelinap masuk ke belakang Paman dan Bibi. Jari telunjuk menutup mulutnya memberi kode kepada Yuka agar pura-pura tidak melihat dirinya. Setelah itu Bobby mengambil benda tersembunyi di kedua tangan Paman dan Bibi.
Paman dan Bibi spontan berbalik badan.
Bobby menjinjing satu buah guci mahal, dan satu buah laptop milik Valdes.
Masih tidak terima dengan perbuatan Bobby menambil barang dari kedua tangan mereka, Paman dan Bibi mendekati Bobby. Mereka juga mengulur kedua tangannya.
“Kembalikan Guci mahal milikku!” tegas Bibi.
“Kembalikan juga Laptop baru yang baru saja aku beli kemarin!” ucap Paman berbohong.
Prok!!prok!!
Valdes berjalan mendekati Paman dan Bibi.
“Akting yang luar biasa. Sepasang suami-istri mengaku jika benda yang mereka ambil adalah milik mereka masing-masing. Kalian berdua tahu apa hukumannya karena sudah mengambil barang milik orang lain?!” tanya Valdes menekan nada suaranya.
“Bu-bukan itu maksud kami. Ta-tadi…”
Valdes langsung menghentikan ucapan Paman dan Bibi dengan mengulurkan tangannya ke wajah Paman dan Bibi.
__ADS_1
“Usst!! Orang yang sudah berbohong tidak patut untuk menutupi kebohongannya dengan kebohongan yang baru. Karena hari pertama sudah bisa mencuri di rumahku. Maka aku akan menghukum kalian berdua seperti seorang pencuri pada umumnya!” tegas Valdes.
Merasa takut mendengar hukuman dari mulut Valdes. Paman dan Bibi langsung bersujud di depan kaki Valdes.
“Mohon maafkan kesalahan kami berdua. Aku mohon maafkan lah kami, tuan Valdes!” ucap Paman dan Bibi serentak.
Valdes mengangkat kedua tangannya ke atas, “Bobby selesaikan mereka berdua sekarang juga!” tegas Valdes memberi perintah.
“Baik,” sahut Bobby.
Bobby memberikan laptop dan guci ke Valdes. Setelah itu Bobby menggenggam erat kerah baju Paman dan Bibi bagian belakang, dan menyeretnya menuju gudang.
“Yuka…tolong kami Yuka!” teriak Paman dan Bibi.
Bukannya cemas, Yuka malah melambaikan kedua tangannya dengan senyum tipis tersirat di raut wajahnya, “Daa..Paman dan Bibi. Semoga olahraga paginya menyenangkan,” ucap Yuka.
Valdes berbalik badan, tatapan suram mengarah pada Yuka, “Kenapa tidak kamu serahkan saja mereka kepada pihak berwajib. Jika mereka terus di rumah ku ini. Maka aku tidak jamin akan nyawa mereka bertahan sampai 3 hari ke depan,” ucap Valdes dingin.
“Pliss…jangan gagalkan rencana ku!” sahut Yuka memohon.
“Baiklah, demi rencana kamu,” ucap Valdes.
Untuk mencairkan suasana hati buruk Valdes, Yuka menggandeng tangan Valdes. Senyum manis juga terukir di raut wajah indahnya saat menatap wajah suram Valdes. Baru saja hendak mengajak Valdes melangkah menuju ruang makan. Terdengar suara kegaduhan dari depan rumah.
Valdes dan Yuka saling menatap satu-sama lain.
“Suara apa itu?”
“Sebaiknya kita lihat saja,” ucap Valdes.
Valdes dan Yuka segera melangkahkan kedua kakinya dengan cepat menuju teras rumah. Sesampainya di teras rumah terlihat ada Bimo, Rajendra, dan beberapa anak buahnya.
“Kenapa kamu membuat keributan di rumahku?” tanya Valdes dingin.
“Kembalikan Yuka ke sekolah. Dan jangan kekang kehidupannya!” tegas Bimo.
“Sudah lah Valdes, lebih baik kita jangan bermusuhan dan biarkan kedua remaja ini saling jatuh cinta,” sambung Rajendra.
“Maaf, aku tidak butuh omong kosong dari kamu!” tegas Valdes.
“Mau cara damai, atau kamu mau cara yang ribet?” tanya Bimo dingin.
__ADS_1
...Bersambung ...