
Cit!
Valdes memarkiran mobilnya tepat di depan teras rumah.
“Kamu kenapa?” tanya Yuka bingung melihat sikap dingin Valdes.
Valdes segera membuka seatbelt milik Yuka dan miliknya. Valdes berjalan turun, dan membuka pintu mobil Yuka sembari berkata, “Turun!”
Yuka segera turun.
Valdes langsung menggengam tangan Yuka, membawa Yuka berjalan masuk ke dalam rumah.
Di di depan pintu rumah Bobby, para pelayan dan 2 penjaga menyambut kedatangan Valdes dan Yuka.
“Sela….”
Ucapan mereka terhenti saat melihat Valdes terus berjalan masuk membawa Yuka secara kasar tanpa menghiraukan Bobby, pelayan dan penjaga sedang menyapa dirinya dari depan pintu. Sepasang bola mata mereka hanya bisa melirik kepergian Valdes dan Yuka.
Sembari melangkah pergi Yuka kembali bertanya, “Kamu kenapa?”
“Jawab semua pertanyaanku nanti di dalam!” tegas Valdes terus membawa Yuka melangkah menuju lift.
Melihat Valdes dan Yuka sudah msuk ke dalam lift, pelayan dan penjaga saling menatap satu-sama lain. Bibir mereka bergerak tanpa suara dengan kedua bahu sesekali menaik.
Bobby melirik tajam, “Jangan ikut campur perihal rumah tangga orang lain. Sudah malam sebaiknya bubar dan segeralah beristirahat,” perintah Bobby membubarkan pelayan dan penjaga.
“Baik!” sahut pelayan dan penjaga membubarkan diri mereka dan kembali ke tempat masing-masing.
Ting!
Pintu lift terbuka.
Valdes membawa Yuka keluar dari lift menuju kamar miliknya.
__ADS_1
“Kenapa kamu sangat kasar sekali?” tanya Yuka sekali lagi.
Valdes tidak menjawab pertanyaan Yuka. Valdes memijit pin pintu kamar, lalu membawa Yuka masuk ke dalam kamarnya.
“Ke-kenapa kamu membawa aku masuk ke dalam kamar kamu?” tanya Yuka bola mata melirik ke sekiling ruangan. Kedua kaki berjalan mundur perlahan ke belakang saat Valdes mulai melangkahkan kedua kakinya mendekati Yuka.
“Siapa kamu?” tanya Valdes dingin.
“A-aku….Yuka!” sahut Yuka panik.
“Bohong!” ucap Valdes meninggikan nada suaranya.
Yuka menghentikan langkahnya, kepala tertunduk dengan bibir mengulas senyum tipis, “Apa menurut kamu, aku ini orang lain?”
“Iya,” Valdes menunjukkan sebuah foto milik Yuka. Foto Yuka sedang bermain di sebuah taman saat pergi bersama Bobby. Valdes menundukkan sedikit tubuhnya, bola mata merah menatap lekat wajah Yuka, “Apa kamu bisa jelaskan kenapa kamu tidak memiliki bayangan. Dan bukan itu saja, saat kita pergi ke Museum aku juga melihat kamu tidak memiliki bayangan. Jadi…siapa kamu?”
Yuka menatap menengadah, “Aku adalah Yuka!” tegas Yuka kembali.
“Jujur aku katakan aku membenci seseorang yang penuh dusta dan pembohong. Sebelum aku beneran marah, aku tanya sekali lagi. Siapa kamu?”
Kedua tangan di sisi kanan kiri Yuka mengepal erat.
‘Kenapa aku harus membuka jati diriku sekarang. Valdes ketahuilah jangan terus memaksa aku untuk mengatakan aku ini siapa. Izinkan aku bersama kamu sampai aku bisa menepati janji balas dendamku untuk Paman dan Bibir pemilik tubuh asli ini,’ batin Yuka.
“Yuka! Jangan paksa aku untuk terus berteriak dengan kamu di sini,” ucap Valdes kembali membentak Yuka.
Bola mata kesedihan perlahan terpancar saat menatap wajah Valdes. Hati Yuka terasa sesak saat ia harus berkata jujur kepada Valdes. Yuka menarik pandangannya, menundukkan wajah hingga air mata kesedihan perlahan jatuh di atas lantai.
“Baiklah jika kamu memaksa aku untuk mengatakan aku ini siapa. Aku akan katakan jika aku sebenarnya bukan Yuka.”
Degser!
Aliran darah Valdes seketika mengalir begitu cepat.
__ADS_1
“Katakan yang jelas,” sambung Valdes dingin.
Yuka menarik nafas panjang sebanyak tiga kali. Setelah itu Yuka menatap wajah dingin dan Valdes, “Aku sebenarnya Estella, seorang gadis remaja berusia 17 tahun yang hidup di tahun 1968. Dan aku juga hidup di dunia nyata, bukan dunia novel seperti ini.”
“Omong kosong apa yang baru saja kamu katakan. Ini tahun 2022, dan ini juga bulan Oktober. Apa kamu kebanyakan nonton drama atau anime?” tanya Valdes tidak percaya.
Yuka menarik nafas sekali, dan melanjutkan ucapannya, “Kematianku karena aku di bunuh oleh Bangsawan. Saat aku menghembuskan nafas terakhir, aku sedang asik membaca novel berjudul ‘Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)’. Sebelum aku menghembuskan nafas terakhir aku sempat bersumpah akan kembali hidup dengan membalaskan dendamku kepada Bangsawan tersebut. Setelah itu aku masuk ke tubuh gadis ini yang sebenarnya sudah tiada. Aku pun meminta izin memakai tubuh dan namanya sampai pembalasanku kepada Bangsawan itu terbalaskan. Pembalasan dendamku dengan Bangsawan tersebut sudah berakhir. Dan kini tinggallah kematian kedua sampai aku bisa bereinkarnasi menjadi manusia sesungguhnya,” ucap Yuka menceritakan perjalanan kehidupannya.
Valdes seketika menjadi diam. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat mendengar Yuka mengatakan akan menunggu kematian keduanya. dadanya serasa sesak saat mengetahui Yuka akan meninggalkannya untuk selamanya. Jika pun ada reinkarnasi kedua. Apakah mereka akan bisa bertemu kembali? Mungkin saja itu tidak akan terjadi.
Yuka menundukkan sedikit tubuhnya, dadanya serasa sesak saat ia tahu hari ini bakalan hari terkahirnya tinggal bersama dengan Valdes. Harapan hidup panjang di Dunia demi mengambil misi baru untuk membalaskan dendam kepada Paman dan Bibi pemilik tubuh harus kandas dan terhenti begitu saja. Jika pun mau dilajutkan mungkin Yuka tidak akan memiliki tempat layak di atas muka Bumi ini kecuali, tinggal bersama dengan Valdes.
“Valdes, terimakasih untuk segelanya. Meski pertemuan kita singkat, dan aku bukanlah manusia normal pada umumnya. Tapi ketika hidup bersama kamu, aku merasakan inilah rasa hidup bahagia dengan manusia pada umumnya. Aku tahu kamu pasti sangat membenci diriku. Dan aku juga tahu kamu pasti sangat ingin mengusir ku dari rumah kamu sekarang juga. Jadi, sebelum aku pergi. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih,” Yuka menegakkan tubuhnya. Kedua kaki ia bawah melangkah menuju pintu.
Saat tangan Yuka hendak menekan pin pintu, dan menarik handle pintu. Valdes berlari mendekati Yuka dan memeluk erat tubuh Yuka.
Yuka terdiam, air mata kesedihan perlahan menetes membasahi kedua pipinya. Suara tangis dari bibir mungil Yuka akhirnya pecah begitu saja, “Hiks!hiks!”
“Kenapa kamu tidak jujur kepada Yuka. Kenapa kamu tidak katakan dari awal siapa kamu! Kenapa kamu juga harus masuk ke dalam hidupku, dan membuat aku nyaman. Sampai..sampai kamu harus pergi meninggalkanku untuk selamanya dan membiarkan rasa itu tetap menetap di hatiku. Kenapa?!”
Yuka tidak menjawab pertanyaan Valdes. Yuka hanya diam dengan suara tangis kembali pecah di dalam pelukan Valdes.
Saat Valdes dan Yuka masih saling berpelukan dengan isak-tangis masih terus mengisi ruang kamar. Terdengar suara pria dan gadis remaja tanggung dari dalam kamar Valdes.
“Aku baru tahu kalau Yuka menangis jelek seperti ini,” ucap Adair duduk di pinggir ranjang.
“Benar, bukannya Yuka palsu ini sudah berbuat janji kepada ku akan membalaskan dendam kepada Paman dan Bibi atas kematianku,” sambung Yuka asli (pemilik tubuh) ikutan duduk di pinggiran ranjang dengan kedua kaki menggantung dan berayun.
Yuka dan Valdes saling melepaskan pelukannya.
“Ke-kenapa Yuka ada dua?” tanya Valdes mengarahkan jari telunjuknya ke Yuka di sampingnya dan Yuka di samping Adair.
“Apa benar kamu tidak menginginkan Yuka hidup bersama kamu. Jika kamu tidak menginginkan Yuka kembali, maka aku akan membawa Yuka sekarang juga?” tanya Adair mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
...Bersambung ...