
Penjaga berdiri, “Iya. Tuan Caprio juga sempat mengambil beberapa benda berharga milik Bos. Dia juga mengatakan jika Bos sudah dihabisi dengan kedua tangannya. Semua pelayan menjadi bingung, mereka sudah cukup lama bertahan, kemudian mendengar jika Bos sudah meninggal dunia. Mereka semua sangat kecewa, para pelayan pulang dengan hati yang hampa atas kepergian Bos. Tidak ingin membuat mereka berpikir hal buruk kepada Bos, aku memberi perintah kepada mereka untuk membawa beberapa barang berharga milik Bos untuk ditukarkan menjadi uang, dan upah atas kerja keras mereka selama 3 tahun tanpa di gaji.”
“Lantas kenapa kamu bertahan?” tanya Yuka penasaran.
“Karena saya ingin menunggu kepulangan Bos, dan saya tidak percaya dengan ucapan Bangsawan Caprio. Buktinya sekarang saya melihat Bos ada di depan mata, meski dengan tubuh yang berbeda,” sahut penjaga semangat.
“Baiklah. Rumah ini aku berikan ke kamu. Aku ke sini hanya untuk mengambil beberapa barang dan aku harus segera bergegas pergi meninggalkan rumah ini. Kamu hati-hati di sini,” Yuka mengarahkan jari telunjuknya ke lantai dua, “Aku ke atas dulu,” ucap Yuka melangkahkan kedua kakinya menaiki anak tangga.
Melihat Yuka berjalan cepat menuju lantai dua, penjaga berjalan sedikit menjauh, tangan kanannya mengambil benda pipih dan menelpon seseorang dengan wajah cukup serius.
.
✨Kamar Estella✨
Yuka berdiri di tengah ruang kamar cukup luas, kedua mata memandang luas seisi dalam kamar tak terawat. Terlihat ada beberapa sarang laba-laba menghiasi langit-langit kamar. Yuka menundukkan wajahnya, “Ternyata seperti inilah akhir kisah ku di tahun 1968. Semua yang aku cari dengan memakai cara jahat, akan berimbas kepadaku juga. Rumah mewah dan semua barang cukup berharga kini sudah aku tinggalkan. Sekarang aku hanyalah seorang manusia tanpa bayangan. Tidak memiliki detak jantung yang jelas, ataupun urat nadi,” Yuka menaikkan pandangannya, kedua mata menatap ke lemari pakaian dengan ukiran kuno zaman dulu sekali, “Sebaiknya aku membersihkan tubuhku, mengganti pakaian dan aku harus segera bergerak cepat karena waktuku tersisa 6 hari lagi di sini, terhitung dimulai aku datang ke Dunia ini,” Yuka mengambil beberapa stelan baju serba hitam milik Yuka, setelah itu bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya.
Karena lelah dan tubuh sangat lengket, Yuka memutuskan untuk merendam tubuhnya di dalam bak mandi. Dengan sabun cair mahal miliknya 1 bulan lagi akan memasuki tanggal kadaluwarsa. Yuka membenamkan sebagain tubuhnya, tersisa hanya wajah. Saat pikiran mulai relaks terdengar suara Adair menggema di dalam kamar mandi cukup luas.
“Jangan terlalu percaya dengan apa yang kamu lihat. Jangan mudah percaya kepada orang lain yang berkata penuh dengan kebaikan dan wajah cukup menyedihkan. Bulatkan tekad dan tujuan kamu. Sekarang kamu tidak tahu siapa musuh dan siapa teman. Kamu harus waspada, bisa jadi pria tersebut adalah salah satu musuh baru kamu. Kamu harus segera keluar dari rumah ini, dan cepat selesaikan tugas kamu.”
Yuka tidak menghiraukan ucapan Adair, kini ia malah melorotkan tubuhnya, membenamkan semua tubuh dan wajahnya ke dalam bak mandi besar berisi sabun busa. Yang terlihat hanya buih-buih gelombang udara membentang luas di atas air.
__ADS_1
“YUKA! Bangun kamu. Dasar bocah tengik. Kamu lihat saja apa yang akan terjadi jika kamu tidak mendengarkan aku. Kamu mau pergi dengan penyesalan, atau pulang dengan tujuan untuk kembali bertemu dengan pria baik itu (Valdes)?”
Seketika Yuka teringat dengan Valdes, senyum manis di wajah datar, dan wajah tampan membuat hatinya terus berdetak kuat saat mereka saling bertemu. Yuka segera berdiri dengan tubuh polos di dalam bak mandi.
Byur!!!
Semua air berjatuhan dari mulai ujung kepalanya.
Yuka menatap sekeliling kamar mandi, “Aku dengar…aku dengar…loh!” jari telunjuk tangan kanan mengarah bebas ke seluruh ruang kamar mandi, “Jangan mengintip kamu, Kakek tua yang menolak tua. Kalau kamu mengintip maka mata kamu akan membesar,” ucap Yuka perasaan diintip oleh Adair.
“Kamu pikir aku selera dengan tubuh gadis nakal seperti kamu! Masih banyak wanita bohay di luar sana yang lebih menggiurkan daripada aku harus mengintip kamu. Nyesel aku sudah memperingatkan kamu! Lebih bagus aku pergi saja.”
Perdebatan antar Yuka dan Adair pun terhenti saat Yuka tidak lagi mendengar suara Adair terus mengomeli dirinya. Yuka berjalan mendekati handuk, mengeringkan tubuh basahnya, dan memakai baju milik Estella. Setelah semuanya pakaian, peralatan tempur siap, dan rambut tertata rapih, Yuka berjalan mendekati pintu, dan keluar dari dalam kamar.
“Hati-hati Bos,” sahut penjaga rumah.
Saat kedua kaki Yuka mulai melangkah pergi, Yuka merasakan ada seseorang sedang berjalan pelan di belakangnya. Ia melirik sedikit dari ujung ekor matanya, sudut bibir tersenyum manis.
“Berani sekali kamu datang kembali ke Dunia ini!” teriak penjaga rumah, tangan kanan mengarahkan pi-sau kecil ke perut bagian belakang Yuka.
Jluuub!!
__ADS_1
“Ha ha ha” penjaga tertawa renyah setelah puas menusuk Yuka. Ia menatap tangan kanannya dipenuhi darah. Namun ada rasa perih sangat teriris di perutnya, penjaga menurunkan pandangannya ke bawah. Kedua matanya membulat sempurna saat melihat perutnya sendiri terluka, bukan perut Yuka. Penjaga menatap panik wajah Yuka sedang tersenyum seperti seorang psikopat. Tangan kanan dipenuhi darah menunjuk Yuka, “Ka-kamu benar-benar Iblis kecil.”
Yuka melambaikan tangan kanan dipenuhi darah, “Iya…kamu benar sekali. Aku adalah Iblis kecil yang bertambah kecil setelah diberikan kesempatan untuk hidup yang kedua kalinya,” Yuka berjalan mendekati penjaga rumah, tangan kanannya masih memegang pi-sau kini mengarah bebas ke tubuh penjaga, sambil berkata, “Terimakasih atas kesetiaan kamu! Aku akan membalas kamu dengan sebaik mungkin dan menempatkan ruh kamu layaknya seorang pahlawan.”
Swiisshh!
Swiiisshh!
Jlub!
Pi-sau kembali mendarat tepat ke jantung.
“Uhuk” darah menyembur dari mulut, tangan kanan tadi menutup lubang di perut kini beralih ke jantung, “Ka-mu me-mang I-blis ke-cil ya-ng ja-hat. Aku su-dah me-laporka ka-kamu ke-padanya. Uhukk…huk.”
Yuka menutup mulutnya dengan kedua tangan di penuhi darah, “Uppss!! Aku takut. Sa-sangat takut!” ucap Yuka berpura-pura takut.
Bruk!
Tubuh penjaga ambruk begitu saja dengan kedua mata mendelik ke atas.
Yuka berbalik badan, sambil berjalan ia menatap kedua telapak tanan dipenuhi darah, “Baru mau jalan keluar kedua tangan sudah kotor. Aku harus membersihkan darah kotor ini dari kedua tanganku. Tapi sebelumnya aku ingin merasakan apa rasa darah dari seorang pengkhianat!” Yuka mengulurkan ujung lidahnya mendekati darah di jari-jari tangannya, “Mmm! Manis dan sedikit pahit. Pantes saja kalau mereka berbicara ucapannya sangat-sangat enak di dengar dikedua telinga, dan rasa pahit itu ternyata akhir dari sebuah pengkhianatan.”
__ADS_1
...Bersambung...