Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)

Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)
BAB 53. Mimpi


__ADS_3

Yuka dan Bobby akhirnya memutuskan untuk membawa Paman dan Bibi menunggu Valdes di taman sampai Valdes selesai melakukan rapat.


Paman, Bibi dan Bobby sedang berdiri di samping kursi taman. Sedangkan Yuka sedang duduk anggun sembari mengayun kedua kakinya menggantung di kursi taman dengan kedua bola mata terus memandang Paman dan Bibi sedang berdiri di hadapannya.


“Kenapa kamu terus memandang kami seperti itu Yuka?” tanya Bibi merasa risih melihat pandangan Yuka.


“Bibi, sepertinya bagian betis kamu sangat nikmat. Apa aku boleh mencobanya?”


“Jangan macam-macam kamu, Yuka!” ucap Bibi ketakutan. Kedua tangan langsung menutup betisnya.


“Ha ha ha. Bibi lucu juga kalau sedang ketakutan seperti ini!"


Melihat Valdes keluar bersama dengan rekan bisnisnya dari dalam gedung. Yuka melompat dari kursi, kedua kakinya berlari kecil mendekati Valdes.


Melihat Yuka berlari seperti bocah kelas 6 SD, Bibi membuang wajahnya ke sisi kanan, "CK. Melihat larinya saja aku ingin muntah," gumam Bibi mengumpat pelan.


Bobby hanya melirik tajam, sambil berpura-pura tidak mendengar umpatan Bibi.


Dari kejauhan terlihat Yuka menarik lengan jas Valdes, lalu tubuh Valdes sedikit membungkuk sehingga terlihat Yuka sedang membisikan sesuatu di daun telinga Valdes.


"Apa yang sedang gadis itu katakan?" tanya Paman berbisik pelan.


"Aku rasa dia meminta izin untuk menerima kita di rumahnya," sahut Bibi ikut berbisik.


"Bodoh, dia nggak tahu apa kalau kita ingin memanfaatkan dirinya," ucap Paman.


Bibi langsung mengikuti Paman, menyadarkan Paman akan ucapannya saat bersama dengan Bobby, "Pelan kan sedikit suara kamu!"


"Nggak mungkin dia mendengar percakapan kita. Dia 'kan jauh dari tempat kita berdiri," sahut Paman melihat Bobby berada 5 langkah dari mereka.


Baru saja asik mengobrol, Valdes dan Yuka terlihat berjalan bersama ke arah Paman dan Bibi. Bibi dan Paman langsung mengambil ancang-ancang, mereka pun berdiri dengan sopan.


"Datang...datang dia," ucap Paman dan Bibi saling menyikut satu-sama lain saat melihat Valdes dan Yuka semakin dekat.


Valdes dan Yuka berhenti di depan Paman dan Bibi.


"Apa benar kalian sedang kesulitan?" tanya Valdes.


Takut salah menjawab Paman dan Bibi saling bertatap muka, tangan saling mencubit.


"I-Iya. Kok tahu?" tanya Bibi kaku.


"Yuka yang memberitahuku tadi," sahut Valdes berbohong.


Bibi melirik ke Yuka, terlihat Yuka memberikan kode oke dari samping tubuhnya. Bibi langsung merespon kode Yuka.


"Oh...I-Iya," sahut Bibi.


Yuka mengulas senyum tipis, 'Kena kau!'

__ADS_1


Bibi langsung mendekati Yuka, "Terimakasih Yuka, terimakasih!" ucap Bibi menggenggam erat tangan Yuka.


Melihat Yuka di genggam tidak ikhlas, Valdes langsung melepaskan genggaman tangan Bibi, "Jauhkan tangan kotor kamu dari Yuka!" tegas Valdes.


Bibi segera melepaskan tangannya, "Maaf," ucap Bibi sembari mengulas senyum tipis di raut wajahnya.


Yuka menengadah, "Beneran kamu akan menerima Paman dan Bibi di rumah?"


"Iya, bukannya kamu ingin melihat rambut tumbuh di kepala botak Bibi kamu?" tanya Valdes sedikit menyindir.


"Iya!" sahut Yuka semangat.


"Jadi mari kita ajak mereka ke rumah kita," ajak Valdes menggenggam erat tangan Yuka. Bola mata Valdes melirik ke Bobby, "Bobby, mari kita gerak sekarang!" sambung Valdes memberi perintah.


"Siap!" sahut Bobby segera beranjak terlebih dahulu menuju parkiran mobil.


Yuka melirik ke Paman dan Bibi, "Mari ikut dengan kami ke mobil," ajak Yuka menuju mobil milik Valdes.


Paman dan Bibi saling melihat, senyum penuh makna terukir indah di wajah mereka. Lalu kedua kaki mereka bawa ikut menuju mobil Valdes.


Karena tak ingin membuat Yuka duduk di tengah-tengah Paman dan Bibinya di bangku penumpang bagian belakang. Valdes akhirnya memutuskan memangku Yuka duduk di bangku penumpang depan.


"Aku bukan anak kecil, jadi biarkan aku duduk di belakang bersama dengan mereka," Yuka memberontak.


"Jangan bergerak Yuka, entar kamu bisa menyentuh ke hal lain yang ada pada diriku!" tegas Valdes.


"Bukannya duduk di atas pangkuan tuan Valdes itu sangat nyaman. Jarang-jarang tuan Valdes membiarkan seorang wanita duduk di atas....."


"Diam!" ucap Yuka dan Valdes serentak.


"Heh!" keluh Bobby memegang dahinya.


"CK. Berdebat yang tak penting!" gumam Paman pelan di belakang.


"Cepat kembali ke rumah!" tegas Valdes memberi perintah.


"Baik!" sahut Bobby.


Mobil pun kini melaju meninggalkan gedung rapat menuju kediaman rumah Valdes.


Keheningan pun terjadi di dalam mobil. Valdes sibuk bermain dengan benda pipih miliknya.


Sedangkan Yuka sibuk mengurus rasa kantuknya. Kepala Yuka terus tersentak seperti hendak terjatuh. Namun, Valdes dengan cepat menahan kepala Yuka dan menyandarkannya ke bidang dadanya.


"Dasar gadis keras kepala," gumam Valdes pelan.


Yuka pun tertidur dengan pulas, merasa diri sedang tertidur di atas ranjang. Yuka memeluk tubuh Valdes seperti memeluk guling.


Baru saja tertidur pulas, Yuka sudah berdiri di pinggiran pantai dengan desir air menyapa daratan.

__ADS_1


"Kenapa aku bisa bermimpi di pantai?"


"Yuka....Yuka," terdengar suara Adair memanggil dari belakang.


Yuka berbalik badan, tatapan malas melihat kedatangan Adair, "Kamu lagi," gumam Yuka pelan.


"He! kamu pikir aku tidak bisa mendengar ucapan-mu!"


Yuka melambai, "Aku tahu...aku tahu, kamu 'kan penguping yang setia," sahut Yuka datar.


Adair berdiri di samping Yuka, tangannya mengulur ke arah Yuka, "Aku ingin ucapkan selamat karena kamu berhasil mencapai misi kedua. Kamu memang hebat Yuka!" puji Adair menarik uluran tangannya kembali.


"Kamu kenapa bisa tahu? oh...selain penguping, kamu juga seorang penguntit ya?!" tuduh Yuka.


"Eh ..kamu tidak tahu siapa aku sebenarnya?" tanya Adair serius.


"Tentu saja aku tahu. Kamu itu 'kan kakek tua yang meminta tolong mengambil batu berlian dari tangan Bianca," sahut Yuka dengan entengnya.


Adair meraup dahinya, "Keahlian ku bukan itu saja Yuka! sesungguhnya aku adalah seorang Iblis," ucap Adair memberitahu siapa dirinya sebenarnya.


"Aku baru tahu kalau ada Iblis mengaku Iblis," ucap Yuka santai. Malas melihat wajah Adair, Yuka berbalik badan, kedua kakinya perlahan mendekati pinggiran pantai.


Mendengar Yuka seperti tidak percaya kepadanya, Adair merubah bentuk tubuhnya menjadi tinggi besar, memiliki sayap lebar, dan ada dua tanduk di dahinya.



...ILUSTRASI ...


"Yuka lihat aku!" perintah Adair.


Yuka berbalik badan, "Lihat....a..pa.." dua bola mata Yuka membulat sempurna kedua kakinya berlari kecil mendekati Adair, "Benarkah ini kamu Setan...eh... maksudnya Iblis?!"


"Apa kamu sudah percaya kepadaku?" tanya Adair dengan suara besarnya.


Yuka mengangguk.


Setelah menunjukkan tubuh aslinya, Adair merubah kembali bentuk tubuhnya menjadi manusia.


"Jadi, misi balas dendam apa yang akan kamu lakukan ke Paman dan Bibi itu?" tanya Adair penasaran.


"Tentu saja aku akan membuat mereka merasakan apa yang dirasakan pemilik tubuh ini dulu," sahut Yuka.


"Kenapa kamu tidak langsung menghabisinya saja. Jika misi kamu selesai kamu bisa kembali dan ikut bergabung dengan kami," ajak Adair memberi penawaran.


"Bergabung bersama kalian! maksudnya?"


Baru saja ingin bertanya lebih banyak lagi, Yuka harus terbangun karena Valdes terus menggoyang tubuhnya dari alam nyata.


"Yuka...bangun Yuka. Kita sudah sampai."

__ADS_1


Yuka pun membuka perlahan kedua kelopak matanya, "Hem..sudah sampai ya?" tanya Yuka dalam kondisi masih mengantuk.


...Bersambung ...


__ADS_2