Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)

Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)
BAB 56. GAGAL DAN TAMAT


__ADS_3

“Mau cara damai, atau kamu mau cara yang ribet?” tanya Bimo dingin.


Tidak ingin terjadi kegaduhan di pagi hari oleh perbuatan Bimo. Yuka menyelinap berdiri di tengah-tengah mereka. Wajahnya juga menengadah ke atas, menatap wajah serius Valdes, Bimo dan Rajendra.


Kedua bola mata Yuka terhenti menatap wajah Bimo.


“Sebaiknya kamu pulang saja, karena aku memang tidak ingin bersekolah lagi!” tegas Yuka.


“Yuka menikahlah denganku,” ucap Bimo spontan.


Ucapan Bimo membuat semua orang terkejut. Valdes langsung menarik tubuh Yuka dan menyimpannya di belakang.


“Omong kosong apa yang baru saja kamu lontarkan. Yuka masih kecil, dan ia juga belum pantas menikah dengan pria seperti kamu!” tegas Valdes.


“Kalau gitu mari kita berdamai, dengan syarat kamu mau bekerja sama dengan perusahaan ku,” sambung Rajendra.


“Haha. Sudah tidak waras kamu menyelikan perasaan orang lain dan Yuka dengan perusahaan kamu,” ucap Valdes.


Tidak ingin berbasa-basi cukup lama. Bimo langsung menarik tubuh Yuka dan menjadikan Yuka sebagai sandra dengan pis-tol mengarah ke bagian dahi.


“Yuka!” teriak Valdes.


Bukannya takut akan ancaman pistol mengarah kepadanya, Yuka maah melambaikan tangannya, “Sudah jangan cemaskan aku, ini adalah hal kecil bagiku,” ucap Yuka santai.


“Gadis yang sangat pemberani. Apa kamu tidak takut mati?” tanya Rajendra.


“Tentu saja aku takut. Tapi sebelum kamu mengatakan hal itu, aku sudah lebih dulu mati,” sahut Yuka dengan santainya.


“Yuka, tapi tetap saja ini berbahaya,” sambung Valdes cemas.


Bimo bergerak mundur kebelakang sembari membawa Yuka bersamanya, “Kalau ada yang berani mengikuti kami, maka satu butir…”


Tidak suka diperlakukan seperti tawanan Yuka melayangkan tumit sepatunya.


“Aku sudah muak bermain drama seperti anak kecil di sini!”


Krak!


“Aduh!” keluh Bimo.


Yuka langsung memutar tubuhnya, kedua tangannya dengan cepat mengambil semua senjata pada Bimo, dan malah balik menyerang Bimo.


“Yuka kamu tidak boleh bermain-main dengan pis-tol itu!” ucap Valdes cemas.


“Yuka, aku mohon berikan pistol itu kepadaku!” pinta Bimo sembari melangkahkan kedua kakinya perlahan mendekati Yuka.


Dor!


Satu anak pelu-ru mendarat di kaki Bimo.


“Yuka!”


“Bimo!”


Mendengar suara tembakan Bobby tadinya sedang memberi hukuman kepada Paman dan Bibi kini segera bergegas keluar. Begitu juga dengan Paman dan Bibi, dengan wajah bengap ikut berlari menuju teras rumah.

__ADS_1


Dor!


Tidak senang melihat adiknya terluka, Rajendra ikut memberikan satu butir pelu-ru ke salah satu kaki Valdes.


“Valdes,” teriak Yuka.


Yuka segera berbalik badan, kedua kakinya dengan cepat melangkah mendekati Valdes. Dan memeluk tubuh Valdes.


“Ba-bagian tubuh mana yang terkena?” tanya Yuka cemas.


“Yuka jangan cemaskan aku, sekarang kamu segera masuk,” perintah Valdes.


Kedua bola mata Yuka melirik ke seluruh tubuh Valdes, mencari tahu bagian tubuh mana terluka. Saat melihat bagian celana samping berlubang dan mengeluarkan da-rah. Yuka segera mendekati Rajendra.


“Beraninya kau….”


Door!!! Door!!


Dari kejauhan anak buah Rajendra menghujani tubuh Yuka dengan anak pelu-ru. Sontak saja semuanya berlari dan berteriak histeris.


“Yuka!”


“Nona muda!”


Tubuh Yuka ambruk ke belakang, kedua kelopak matanya langsung teringat dengan kejadian pertama kali ia meninggal dengan cara dihujani peluru juga. Namun, di sela-sela kepanikan semua orang. Adair datang.


Wusshh!!!


Wuushh!!


Waktu seketika mati. Semua orang berlari menjadi patung, kecuali Valdes.


“Kemarin aku sudah menawarkan dirinya untuk ikut denganku. Tapi gadis keras kepala ini tetap memilih kamu. Sekarang lihatkan, dia hampir setengah mati merasakan hal yang sama,” ucap Adair berdiri di samping Valdes.


“Cepat kamu sembuhkan dia. A-aku tidak ingin kehilangan Yuka,” pinta Valdes.


“Idih…ogah. Malas gua nolong nya!” sahut Adair.


Valdes langsung berdiri, kepalan tinju hendak melayang ke wajah Adair. Namun, dengan santainya Adair menahan kepalan tinju Valdes dengan hembusan nafas.


“Kenapa? Kamu mau memukul aku!” Adair menedekatkan pipinya, “Nah, pukul,” ucap Adair menantang Valdes.


“Aku mohon selamat Yuka,” pinta Valdes sekali lagi.


Adair langsung menggedong tubuh Yuka, “Aku kasih tahu sama kamu ya. Jika Yuka di selamatkan kembali itu percuma, karena dirinya tidak bakalan hidup abadi seperti aku. Apa kamu mau hidup Yuka seperti ini-ini terus?”


“Jadi kamu mau memberikan hal terbaik apa buat Yuka?” tanya Valdes.


“Aku ingin Yuka menjadi pengikut ku. Dan aku ingin membuat dia hidup di dunia nyata, aku juga akan memastikan kisah cinta kalian akan terwujud di dunia nyata. Aku tahu pria seperti apa kamu di dunia nyata. Dan aku mohon kepada kamu mulailah melupakan semua tentang kehidupan Yuka. Aku juga meminta kamu untuk memejamkan kedua mata kamu sekarang juga.”


“Bagaimana mungkin aku bisa melupakan Yuka sedangkan kami sudah hidup dan tinggal bersama sudah cukup lama.”


“Kamu mau menuruti seluruh keinginan ku atau kamu ingin hidup nyata berdua dengan Yuka nantinya?”


“A-aku ingin hidup nyata dengan Yuka,” sahut Valdes.

__ADS_1


“Sekarang kamu pejamkan kedua mata kamu!”


Valdes pun menurut.


Adair memutar arah berdiri, “Lupakan semua kenangan tentang Yuka…huft!” ucap Adair memberi mantra dan menghembusnya ke dahi Valdes.


Cling!


Setelah memberi mantra Adair pun menghilang bersama dengan Yuka. Waktu sempat terhenti kini kembali berjalan.


Adair, Valdes, Bobby, Paman, Bibi dan Bimo heran dengan posisi mereka masing-masing.


“Ada apa ini?” tanya mereka secara bersamaan.


“Iya, kenapa kita bisa ada di sini?” sambung Bibi ikutan heran.


“He! Kalian semua ngapain di rumahku! Sekarang kalian pergi dari sini. Cepat!” tegas Valdes mengusir semuanya.


Rajendra, Pama, Bibi dan Bimo segera meninggalkan kediaman rumah Valdes.


Sedangkan Valdes dan Bobby saling menatap satu sama lain.


“Kenapa semua nya bisa berada di sini?” tanya Valdes.


“Saya juga tidak tahu tuan,” sahut Bobby.


Valdes memegang dadanya, “Tapi kenapa aku merasa ada kehampaan yang terasa di dalam hatiku. Apa kamu tahu apa penyebabnya?”


“Mungkin karena tuan belum memiliki pasangan,” sahut Bobby polos.


Ctak!


“Auw!” keluh Bobby mengelus puncak kepalanya.


“Aku serius Bobby, aku merasa pernah ada seseorang yang mengisi hatiku. Tapi siapa ya?” tanya Valdes kembali penasaran.


“Kalau gitu saya tidak tahu tuan. Coba cari tahu saja sendiri,” sahut Bobby.


“Kalau itu aku juga tahu. Sudah..sudah. sekarang cepat kamu lihat jadwal pekerjaan kita,” ucap Valdes mengakhiri percakapannya.


Dari dihilangkan semua memo kenangan tentang Yuka dikehidupan Valdes dan Bobby serta lainnya. Mereka semua kembali hidup normal tanpa mengingat semua kenangan tentang Yuka. Kenapa Adair melakukan hal itu, semua karena Yuka fisik tubuh Yuka sudah tidak memungkinkan kembali untuk bertahan hidup di dunia ini. Jadi Adair memutuskan untuk mengambil Yuka dan menjadikan Yuka sebagai salah satu dari mereka.


...TAMAT...


.


.


💫💫POV PENULIS


Hai, Assalaamua’alaikum wr..wb.


Saya selaku penulis Yuka (Kehidupan Kedua Demi Dendam) banyak-banyak mengucapkan terimakasih kepada pembaca setiaku. Saya juga banyak-banyak berterima kasih kepada semuanya karena sudah support, dan ada juga memberi saya masukan untuk membenahi karyaku. Terimakasih buat kakak tersebut. 😘☺️😍


Cerita ini saya tamatkan sampai di sini dulu. Dan saya berencana akan membuatkan season kedua dengan judul berbeda dan alam berbeda. Sekali lagi terima kasih.

__ADS_1


Jangan pernah bosan membaca karyaku yang penuh dengan keribetan. Semoga kalian semua sehat selalu agar bisa bertemu di SEASON 2.


I LOVE YOU 💕💕💕


__ADS_2