Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)

Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)
BAB 32. Pelukan yang sangat nyaman


__ADS_3

Tok!! tok!!


Suara ketukan pintu memecah kesedihan Valdes dan juga Yuka. Valdes segera melepaskan pelukannya, tangan kanan menyeka kasar setetes air mata hendak jatuh ke pipi.


"Masuk saja," ucap Valdes mempersilahkan masuk.


"Dokter sudah datang tuan," Bobby membuka pintu dan terlihat Dokter Josep berjalan masuk ke dalam kamar.


"Maaf sudah membuat Anda menunggu tuan dan nona muda," ucap Dokter Josep karena datang terlambat.


"Tidak masalah, aku juga tahu jika Dokter sangat sibuk," sahut Valdes beranjak turun dari tepian ranjang.


"Sepertinya aku tidak perlu ada obati," sambung Yuka menarik selimut dan menutup seluruh tubuh hingga ke wajah.


"Apa nona muda ingin membuat tuan Valdes terus bersedih?" tanya Bobby berjalan mendekati ranjang.


Yuka perlahan menurunkan selimut, "Tidak," sahut Yuka pelan melirik dari balik selimut.


"Jadi nona muda harus nurut dan patuhi semua perintah Dokter Josep!" tegas Bobby.


"Bob..."


"Saya mohon jangan manjakan nona muda dan biarkan Dokter Josep untuk memeriksanya!" putus Bobby tegas.


"Kok jadi galakkan kamu daripada Aku," keluh Valdes melirik tajam.


"Sudah jangan berantem. Iya aku nurut nih!" sela Yuka membuka menurunkan selimut sampai di atas dada.


"Berikan tangan nona," ucap Dokter Josep mengulurkan tangan kanannya.


Yuka pun menurut, ia memberikan tangan kanannya di atas telapak tangan kanan Dokter Josep.


Kedua mata Dokter Josep membulat sempurna saat melihat lengan mungil penuh luka. Seperti luka besar, tidak mungkin akan sanggup diterima oleh tubuh mungil Yuka.

__ADS_1


"Kenapa Dok?" tanya Valdes penasaran.


"Kenapa bisa nona muda memiliki luka sebanyak ini?" tanya Dokter Josep heran.


Yuka menarik tangannya, "Tidak perlu tahu. Yang jelas aku sudah pulang dalam keadaan selamat!" Yuka kembali menarik selimut dan menutup seluruh tubuh dan hanya menyisakan ujung rambut, "Besok luka ini akan sembuh. Dokter Josep pulang saja," sambung Yuka mengusir dengan sopan Dokter Josep.


"Tapi luka itu harus segera diobati dengan benar agar tidak menimbulkan bekas. Tubuh nona muda juga sangat dingin. Apa nona baik-baik saja? sepertinya kondisi ini tidak normal. Saya harus menelpon ambulan dan merawat nona muda di rumah sakit!" Dokter Josep mengambil benda pipih dari dalam saku.


'Sial. Aku kan sudah hanya menumpang ruh di tubuh Yuka asli. Jelas saja tubuh ini terasa dingin setelah banyak kejadian yang aku lalui. Jika mereka membawa aku ke rumah sakit. Pasti Indentitas asliku terbongkar,' Yuka segera keluar dari selimut, dengan cepat tangannya menyambar benda pipih di dalam genggaman Dokter Josep, "Aku bilang tidak perlu!"


Blam!!!!


Karena Yuka panik dan tersulit emosi, dirinya tanpa sengaja membuang ponsel milik Dokter Josep.


"Yuka!" teriak Valdes, kedua bola mata mengikuti benda pipih sedang melayang ke udara.


Bobby segera berlari mengejar benda pipih sedang melayang di udara, dan menangkapnya, "Akhirnya dapat juga," ucap Bobby.


"Fyuh!" Dokter Josep menghela nafas lega, tangan kanan mengelus dadanya.


Yuka menunduk penuh penyesalan, "Tidak. Tapi aku..."


"Aku apa Yuka!" sela Valdes meninggikan nada suaranya.


Yuka tercengang, jantungnya berasa ingin lepas saat mendengar suara Valdes seperti petir menyambar hatinya. Yuka menatap wajah Valdes seperti dipenuhi emosi, "Apa baru saja aku mendengar Anda membentak ku?" tanya Yuka polos.


Valdes segera tersadar, ia merubah mimik wajahnya, dan perlahan duduk di tepian ranjang. Tangan kanan berusaha mengulur, "Bu...bukan begitu. Aku hanya..."


"Aku hanya tidak ingin ke rumah sakit. Melihat banyak orang rasanya aku sangat takut. Aku katakan jika semua luka ini akan sembuh sendirinya. Aku mau meminum obat, tapi jangan suruh aku untuk ke rumah sakit," sela Yuka dengan nada sedih.


"Aku rasa ada trauma tersendiri masih tersimpan di hati nona muda. Kita tidak perlu memaksanya. Saya akan memberikan resep obat untuk penyembuhan luka-lukanya," ucap Dokter Josep mengambil kertas miliknya dan mencatat beberapa macam resep.


"Apa itu tidak masalah Dok?" tanya Valdes cemas.

__ADS_1


"Mudah-mudahan tidak bermasalah," tangan kanan memegang kertas mengulur, "Besok pagi beli resep sesuai dengan tulisan di kertas ini, dan berikan secara rutin buat nona muda."


"Baik Dok," sahut Valdes mengambil kertas berisi resep.


"Semoga nona muda cepat sembuh. Dan jangan nakal kepada orang lain!" ucap Dokter Josep sambil memberi senyum manis.


"Hem" sahut Yuka mengangguk. Yuka segera turun, tubuh sedikit membungkuk, "Atas kesalahanku, aku mohon maaf. Tapi kalau Anda tidak ingin memaafkan aku, tidak apa-apa," sambung Yuka minta maaf dengan malu-malu.


"Anda memang sangat lucu nona muda. Sudah hampir pagi, dan nona muda juga harus segera tidur kembali," Dokter Josep memutar kedua bola matanya ke Valdes dan juga Bobby, "Saya pamit pulang. Dan jangan lupa rutin mengoleskan salep dan juga minum vitamin," pesan Dokter Josep sambil melangkah pergi.


"Mari saya hantarkan," ucap Bobby membuka pintu kamar.


"Terimakasih, Bobby tampan," puji Dokter Josep berjalan melewati Bobby.


"Kalau gitu kamu juga harus tidur," Valdes menggenggam pergelangan tangan kiri Yuka, dan membawanya menuju ranjang. Valdes membuka selimut, "Cepat naik dan tidur," tegas Valdes.


"Aku sudah tidak mengantuk," sahut Yuka duduk di tepian ranjang.


"Jangan membantah. Aku bilang tidur...ya harus tidur!" tegas Valdes menggendong tubuh Yuka dan membaringkannya di atas ranjang.


"Aku bilang, aku ...."


Mendengar Yuka terus memberontak dan dirinya juga masih sangat mencemaskan keadaan Yuka. Valdes naik ke atas ranjang, merebahkan tubuhnya dengan posisi miring, "Jangan banyak bicara!" tegas Valdes memutar tubuh Yuka ikutan tidur miring. Valdes juga menyelipkan tangannya ke perut Yuka, "Tidur cepat!" tegas Valdes menutup kedua kelopak mata Yuka.


"Aku bukan anak kecil, dan jangan temani tidur aku seperti ini. Aku bukan anak kecil lagi dan aku juga bukan anak kamu!" keluh Yuka, kedua tangan berusaha melepaskan pelukan Valdes dari perutnya. Tapi Valdes semakin mengeratkan tangannya.


"Kamu benar, kamu bukan anakku dan juga kamu bukan anak kecil lagi. Tapi suatu saat kamu juga akan memiliki anak dari seorang pria."


Yuka langsung terdiam, 'Anak. Kenapa aku tidak pernah terpikirkan tentang hal itu? dan apakah aku akan terus hidup sampai memiliki anak. Tapi jika aku mati nanti, aku berharap bisa bereinkarnasi. Aku juga ingin hidup lebih lama lagi dengan Valdes.'


Rrggghh!!!


Terdengar suara dengkuran keras dari mulut Valdes. Tangan menutup kedua kelopak mata perlahan terlepas.

__ADS_1


Yuka melirik, memutar tubuh menghadap Valdes dan membenamkan wajahnya di dada bidang, "Dari dengkuran aku bisa merasakan jika kamu sulit untuk tidur nyenyak," kedua kelopak mata perlahan terpejam, "Tubuh yang hangat dan pelukan yang sangat nyaman," gumam Yuka perlahan tertidur.


...Bersambung ...


__ADS_2