
Setelah perjalanan memakan waktu sampai 1 jam. Mobil Valdes akhirnya berhenti di sebuah gedung putih. Gedung kecil dengan taman luas dan bunga-bunga indah menyapa di sekeliling gedung tersebut.
“Apa kamu akan melakukan rapat di sini?” tanya Yuka.
“Iya, indah bukan tempatnya?”
Yuka mengangguk.
“Karena kamu suka, mari silahkan turun,” ajak Valdes membuka pintu mobil Yuka dari dalam.
“Baik,” sahut Yuka melangkahkan kaki kananya turun dari mobil. Kedua bola mata memandang luas ke depan, “Indahnya,” gumam Yuka merasa kagum melihat taman dengan banyak kupu-kupu dan burung terbang.
“Apa kamu ingin bermain?” tanya Valdes sudah berdiri di samping Yuka.
Yuka mengangguk, “Iya.”
“Kalau gitu pergilah, tunggu kami di bangku taman sebelah sana!” tunjuk Valdes ke bangku di bawah pohon mangga.
“Apa kamu yakin membiarkan aku bermain sendiri?” tanya Yuka.
“Tentu, kenapa aku tidak yakin,” sahut Valdes tanpa ragu.
“Baiklah, aku akan pergi ke sana,” ucap Yuka membawa kedua kakinya berlari menuju taman.
“Apa tuan yakin membiarkan nona muda sendirian di sana?” tanya Bobby.
“Tentu saja tidak. Buat apa ada kamu di sini,” kedua bola mata Valdes menatap lekat wajah Bobby, “Sekarang kamu pergi ke sana, dan jaga Yuka untukku. Soal rapat aku bisa sendiri,” tegas Valdes.
“Ini materinya tuan,” ucap Bobby memberikan tumpukan Dokumen ke tangan Valdes.
“Aku rasa kamu sepertinya sangat senang saat melihat aku pergi rapat sendiri. Awas, jangan macam-macam sama kamu sama Yuka!” ancam Valdes.
“Saya sadar diri kok tuan,” sahut Bobby santai.
“Kalau gitu aku masuk dulu. Ingat jaga Yuka!” tegas Valdes sekali lagi.
Bobby mengangguk.
Karena rapat akan segera di mulai, Valdes membawa kedua kakinya melangkah menuju gedung putih. Sedangkan Bobby melangkah mendekati Yuka.
__ADS_1
Melihat Bobby berjalan ke arahnya, Yuka segera berlari mendekati Bobby, “Kenapa tidak ikut masuk?” tanya Yuka penasaran kenapa Bobby tidak ikut masuk bersama dengan Valdes.
“Soalnya ada anak kecil masih senang bermain di luar sini,” sahut Bobby.
“Aku!” tunjuk Yuka ke dirinya sendiri.
“Tentu saja siapa lagi,” sahut Bobby.
Yuka menggenggam tangan Bobby, “Apa kamu pernah memetik mangga?”
“Pernah,” sahut Bobby semangat.
“Kalau gitu petik mangga itu untukku,” pinta Yuka mengarahkan tangannya ke buah mangga dengan pohon cukup tinggi.
Glek!
‘Gawat, ini pohonnya cukup tinggi. Bagaimana bisa aku memanjatnya. Bisa-bisa ada yang patah di tubuhku nanti,’ batin Bobby.
Yuka menarik tangan Bobby, “Ayo dong!”
Wajah Bobby mendadak berubah panik, “Anu…nona muda…anu…”
“Anu apa?” sela Yuka.
Saat Bobby sedang menjelaskan jika dirinya tidak bisa memanjat, kedua bola mata Yuka disuguhkan dengan pemandangan tak biasa. Pemadangan itu adalah sepasang suami-istri sedang berjalan melewati gerbang gedung tersebut.
Yuka melepaskan tangan Bobby. Kedua kakinya berlari menuju gerbang, sembari berkata, “Paman…Bibi.”
“Paman, Bibi? Jangan-jangan,” ucap Bobby mengingat panggilan Paman dan Bibi di kusus kan hanya pada Paman dan Bibi Yuka. Kuatir akan hal buruk menimpa Yuka, Bobby pun ikut berlari mengejar Yuka.
Sesampainya di luar pagar, Bobby melihat Yuka sedang berhadapan dengan Paman dan Bibinya. Saat melihat Bibi hendak memeluk Yuka. Bobby segera mempercepat langkah kakinya, menarik tubuh Yuka dan menyimpannya di belakang tubuhnya.
“Lain kali nona muda tidak boleh berlari seperti ini lagi,” tegur Bobby pelan.
“Maaf,” ucap Yuka dengan raut wajah sedih. Yuka melirik Paman dan Bibi dari balik tubuh Bobby, “Kenapa Paman dan Bibi bisa sampai di sini?” tanya Yuka penasaran kenapa Paman dan Bibi bisa sampai ke kota Jogja sedangkan rumah mereka berada di Jakarta.
Bibi membuka selendangnya, “Lihat, apa yang sudah mereka lakukan ke Bibi,” ucap Bibi menunjukkan kepala botaknya.
Bukannya bersedih atau histeris. Yuka malah tertawa hingga terpingkal-pingkal.
__ADS_1
“Ha ha ha ha”
Melihat Yuka tertawa, Bobby pun ikut tertawa geli di balik bibir terkuncinya.
Bibi segera memasang selendangnya, “Sudah puas kamu melihat kepala Bibi seperti ini?” tanya Bibi meninggikan nada suaranya.
Paman terlihat tidak senang saat meliat tawa bahagia terukir di raut wajah Yuka. Paman segera mendekati Yuka. Tangan kanannya hendak melayang. Namun dengan cepat Bobby menangkis tangan Paman.
“Berani Anda menyentuh kulit nona muda, maka saya akan membuat lengan Anda menjadi 10 cabang!”
“Ck. Hanya menjadi keset milik Valdes saja kamu sudah sombong,” ucap Paman sombong.
Bobby tidak menghiraukan ucapan Paman. Bobby malah memilih berbalik badan, tangannya mengenggam tangan Yuka, “Nona muda mari kita kembali ke dalam,” ajak Bobby sopan.
Mengingat jika Yuka masih punya janji kepada pemilik tubuh untuk membalaskan dendam kepada Paman dan Bibinya. Yuka mulai merencakan hal baru untuk mempermudah aksinya. Rencana Yuka saat ini adalah ingin menerima mereka untuk sementara waktu tinggal bersama dengan Valdes, agar semua perjanjian dendam bisa terbalaskan.
Yuka menarik lengan jas Bobby, membuat Bobby memiringkan tubuhnya ke sisi kiri. Dengan kedua kaki menjijit Yuka mulai membisikan sesuatu di telinga Bobby. Setelah itu Yuka dan Bobby saling menunjukkan jempol tangan mereka, dengan senyum penuh makna terukir di bibir mereka berdua.
“Apa yang sedang kamu rencanakan Yuka?” tanya Paman penasaran.
Yuka dan Bobby serentak berbalik badan. Senyum manis pun mereka tampilkan untuk Paman dan Bibi.
“Kenapa kalian tersenyum Yuka?” tanya Bibi penasaran.
“Bibi, kepala kamu ‘kan botak. Jadi aku tadi meminta kepada Bobby untuk mengajak Paman dan Bibi tinggal bersama kami sampai rambut Bibi tumbuh kembali. Apakah Paman dan Bibi menyetujui hal itu?” tanya Yuka memberikan penawaran.
Paman dan Bibi saling melempar pandangan satu-sama lain. Salah satu alis mereka menaik, dengan sudut bibir tersenyum penuh makna.
‘Bagus. Kalau seperti ini ceritanya rencana kami akan berhasil untuk kembali mendapatkan uang tanpa harus melakukan apa pun,’ batin Paman.
‘Aduh, keponakan ku sayang. Kenapa kebodohan dan kepolosan kamu tidak pernah hilang sih. Apa kamu tidak takut kami berbuat kasar kembali kepada kamu. Dan kenapa kamu tidak sepertinya tidak takut jika kami akan melakukan hal yang sama dengan kamu. Tapi ya sudahlah, yang penting uang dan perawatan untuk menumbuhkan rambut,’ batin Bibi.
“Kalau gitu mari ikut saya,” ajak Bobby memecah pikiran Paman dan Bibi.
Tidak ingin terlihat terlalu rendah di mata Bobby dan Yuka. Bibi melambaikan tangannya, “Tidak perlu repot-repot. Bibi dan Paman masih memiliki uang untuk melakukan perawatan rambut. Paman dan Bibi juga masih punya uang untuk tinggal beberapa hari di sini,” ucap Bibi di luar mulut. Padahal di dalam hatinya, ‘Ayo Yuka, rayu lagi kami dan memohonlah di hadapan kami agar kami mau tinggal bersama kamu.’
“Yakin tidak mau ikut dengan kami?” tanya Bobby memperjelas maksud mereka.
“Kalau mereka tidak mau ikut maka kita pergi saja,” sambung Yuka dengan sengaja menakut-nakuti Paman dan Bibi.
__ADS_1
'Sial Kenapa tidak terpengaruh,’ batin Bibi.
...Bersambung ...