
Malam ini Valdes ingin menghabiskan waktu berdua dengan Yuka. Valdes juga sudah memilih tempat tujuan untuk mereka menghabiskan waktu berdua. Tempat itu adalah tempat kekinian anak muda. Valdes memilih tempat itu karena Valdes ingin membuat Yuka senang dan tempat tersebut juga sangat cocok untuk remaja seusia Yuka. Tempat tersebut adalah alun-alun Jogja.
“Ini di mana?” tanya Yuka menatap ke jendela.
“Apa kamu suka tempat ini?” tanya Valdes menghentikan mobilnya di parkiran.
“Suka,” sahut Yuka mengangguk.
“Kalau gitu mari kita turun,” ucap Valdes membuka seatbelt milik Yuka.
Yuka dan Valdes pun turun dari mobil miliknya. Kedua bola mata Valdes terus memandang ke tangan mungil Yuka. Valdes ingin menggenggam tangan Yuka tapi takut Yuka salah paham dan marah kepadanya. Valdes akhirnya memutuskan untuk bertanya langsung kepada Yuka.
“Di sini sangat ramai, apa aku boleh menggandeng tangan kamu?”
“Tidak usah, aku takut orang salah paham dengan kita nantinya,” sahut Yuka menolak halus.
“Di sini sangat ramai, jadi biarkan aku menggandeng tangan kamu,” ucap Valdes menggenggam tangan Yuka.
“Baik,” sahut Yuka patuh.
“Mari kita pergi mencari makanan ringan buat kamu,” ajak Valdes.
Grrr!!!
Perut Yuka berbunyi.
“Sepertinya aku lapar,” ucap Yuka memegang perutnya.
“Kalau gitu kita pergi ke haluan lain. Sebaiknya kita cari tempat Ngopi, katanya di sini banyak tempat Ngopi dan makan enak,” sahut Valdes membawa Yuka kembali masuk ke dalam mobil.
Mobil dikendarai Valdes dan Yuka memutar arah ke alun-alun sisi Utara. Kini mobil Valdes terhenti di depan tempat Ngopi dengan cirri khas penyajian kopinya terbalik. Valdes dan Yuka segera turun.
“Kita makan disini?” tanya Yuka.
“Iya,” Valdes menggenggam tangan Yuka, “Sudah jangan banyak tanya lagi, mari kita masuk,” ucap Valdes membawa Yuka masuk.
“Kita duduk di sana saja,” tunjuk Yuka ke meja nomor tiga.
“Ya sudah,” ucap Valdes membawa Yuka menuju meja tersebut.
Pelayan datang, “Mau pesan apa?”
Hanya melihat menu makanan terlihat enak, Yuka langsung mencatat beberapa menu makanan dan minuman di kertas. Yuka juga memesan makanan dan minuman milik Valdes.
“Nggak pakek lama ya,” ucap Yuka memberikan pesanannya.
“Di tunggu ya Dek,” ucap pelayan kepada Yuka. Setelah itu membawa kedua kakinya melangkah pergi.
“Kamu tadi membuat pesanan apa untukku?” tanya Valdes penasaran.
__ADS_1
“Karena kamu lebih tua dariku, maka aku memesan menu seumuran dengan kamu,” sahut Yuka.
“Emang aku terlihat begitu tua di mata kamu?” tanya Valdes datar.
“Tentu saja. Seharusnya pria seumur kamu sudah memiliki anak, atau kekasih. Tapi kamu malah lebih memilih hidup sendiri dengan seorang bocah seperti aku!”
“Apa kamu sangat menginginkan aku mempunyai kekasih?”
“Tentu saja.”
“Apa kamu tidak menyesal?”
“Kenapa aku harus menyesal.”
“Kalau gitu berpacaran lah denganku,” ucap Valdes serius.
“Eh”
“Kenapa?”
“Ma-maksud aku, kamu cari wanita lain yang seumuran dengan kamu. Bukan denganku,” ucap Yuka mendadak gugup.
“Maka aku akan menunggu kamu sampai 17 tahun,” sahut Valdes serius.
“Berarti itu 5 tahun lagi?” tangan kanan melambai, “Jangan buang waktu kamu untuk hal yang tidak pasti.”
“Kalau menjaga jodoh sendiri sudah pasti bakalan pasti,” ucap Valdes yakin.
“Baiklah aku tidak akan menunggu kamu. Tapi aku akan langsung melamar kamu sampai waktu itu tiba. Dan satu pintaku, tetaplah di sisiku,” ucap Valdes serius.
“Silahkan saja,” sahut Yuka santai. Padahal di dalam hati Yuka, ‘Rasanya aku ingin katakan kepada jika aku bukanlah manusia sempurna seperti manusia pada umumnya. Rasanya aku juga ingin katakana jika hidupku di perpanjang di dunia ini karena aku masih punya janji kepada pemilik tubuh ini untuk membalaskan dendamnya. Setelah itu aku sudah tidak berhak lagi hidup di sini. Tapi ingin sekali aku katakan padanya jika aku ingin bereinkarnasi kembali menjadi manusia pada umumnya. Dan aku juga akan katakan, jika aku sudah tiada di dunia ini maka carilah seorang wanita yang sama persis sifat dan sikapnya seperti aku. Ingin sekali aku katakan hal pahit itu kepada kamu.’
Dari kejauhan terlihat ada seorang pria berkemeja rapih menuju meja Yuka dan Valdes. Pria tersebut menarik kursi di samping Yuka.
“Rajendra!” ucap Valdes terkejut.
Rajendra memutar arah duduknya menghadap Yuka, tangan kanan memegang dagu Yuka, “Selamat malam gadis kecil milik tuan Valdes,” sapa Rajendra.
Mencium wangi begitu familiar di tangan Rajendra. Yuka langsung menepis tangan Rajendra, “Jauhkan tangan kamu yang berbau pemutih pakaian,” ucap Yuka keceplosan.
Rajendra menarik tangannya, “Oh…sepertinya kamu sudah hafal dengan wangi tersebut,” ucap Rajendra menyelidik.
Bola mata Yuka spontan melirik ke Valdes, ‘Mampus. Pakek keceplosan segala aku. Mana kedua bola mata Valdes terlihat hendak lepas dari porosnya. Habislah aku.’
“Yuka, urusan kita nanti di rumah!” tegas Valdes ke Yuka.
“Baik,” sahut Yuka menunduk lesu.
“Katakan apa tujuan kamu?” tanya Valdes serius.
__ADS_1
“Ingin berteman,” sahut Rajendra sembari melirik ke buku menu.
“Aku tidak butuh teman seperti kamu!”
“Kejam sekali ucapan Anda. Apa Anda yakn tidak ingin berteman dengan ku?”
“Aku tanya kamu mau apa kemari?” tanya Valdes sedikit menekan nada suaranya.
Di tengah-tengah ketegangan antara Valdes dan Rajendra, datang pelayan membawa makanan dan minuman pesan milik Yuka dan Valdes.
“Mohon maaf sudah menunggu lama,” ucap pelayan meletakkan minuman dan makanan di atas meja.
“Tidak masalah,” sahut Valdes dingin.
Melihat wajah Valdes tampak dingin dan suram. Pelayan langsung meletakkan dengan cepat pesanan milik Yuka dan Valdes. Pelayan mundur satu langkah ke belakang, “Ka-kalau gitu saya permisi pamit pergi,” ucap pelayan gugup.
Yuka mengambil jus miliknya, “Aku minum du…”
Rajendra langsung mengambil jus dari tangan Yuka dan menyeruputnya, “Sruupp!!!”
Rasa lapar Yuka perlahan menghilang, kepala tertunduk sambil menahan emosi. Begitu juga dengan Valdes.
“Ini aku cuman meminumnya sedikit saja,” ucap Rajendra mengembalikan kembali gelas Yuka.
Yuka mengambil gelas jus dan mengguyur minuman tersebut ke kem-eja milik Rajendra.
Byur!!
Rajendra spontan berdiri, “Hei! Apa yang kamu lakukan?”
“Aku sudah muak berusaha baik di sini. Aku sudah mulai muak berusaha menjadi gadis manis di sini. Kamu tahu kenapa aku melakukan hal ini kepada kamu? Itu semua karena kamu selalu mengganggu ketenangan ku!” ucap Yuka sedikit meninggikan nada suaranya di kalimat terakhir.
Valdes tercengang saat melihat sikap Yuka tampak berbeda dari biasanya. Valdes mendekati Yuka, “Yuka, sadarlah!” ucap Valdes berpikir kalau Yuka sedang diselimuti emosi.
Grep!!
Rajendra langsung menggenggam ba-ju bagian depan Yuka.
“Berani sekali kamu menumpahkan noda di baju kemeja ku. Apa kamu tidak tahu berapa nilai nya?” tanya Rajendra meninggikan nada suaranya di hadapan Yuka.
Bam!
Satu bog-em mentah Yuka beri buat Rajendra.
“Jangan pikir aku akan takut sama kamu! Asal kamu tahu ya, aku….”
“Sudah cukup Yuka!” bentak Valdes menahan kepalan tinju hendak melayang kembali.
“Mari kita pulang,” ajak Valdes menarik tangan Yuka, dan membawa Yuka pergi dari tempat tersebut.
__ADS_1
“Dibaikin malam ngelunjak. Tunggu saja pembalasanku,” gumam Rajendra menatap kepergian Yuka dan Valdes.
...Bersambung...