
Setelah membalas rasa sakit Yuka kepada Paman dan Bibinya. Mobil milik Valdes dan Bobby beranjak pergi dari kediaman rumah Paman dan Bibi.
Sepanjang perjalanan Bobby terus memandang Valdes dari kaca spion tengah, 'Kenapa tuan Valdes melakukan hal ini. Apa yang sebenarnya terjadi dengan pikirannya, dan kenapa tiba-tiba Valdes mendadak berubah menjadi hewan buas. Sungguh membuat aku sangat-sangat penasaran.'
"Pasti kamu terus bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal ini, bukan?" tanya Valdes seolah mengetahui isi hati Bobby.
"Ti-tidak, mana mungkin saya berani melakukan hal i...."
"Jangan berusaha membuat aku seperti orang bodoh. Kamu dan aku sudah tinggal bersama cukup lama. Aku tahu kamu, dan kamu juga pasti sudah tahu aku. Jadi, katakan apa yang ingin kamu tanyakan kepadaku!" tegas Valdes datar.
Bobby menunduk, "Baiklah, saya akan bertanya," Bobby mengangkat wajahnya, bola mata itu kembali melirik ke kaca spion tengah, "Kenapa tuan repot-repot mengotori kedua tangan tuan untuk orang tidak berguna seperti mereka?" tanya Bobby serius.
"Kamu tadi sudah mendengarnya. Pasti kamu juga sudah mengerti kenapa aku melakukan hal tersebut. Awalnya aku memang tidak ingin ikut campur mengenai masalah pribadi Yuka. Tapi setelah kenangan beberapa bekas luka terus menghantui diriku. Bukan hanya bekas luka, tapi ucapan mereka yang menganggap Yuka adalah anak pembawa sial sangat menyakiti hatiku," bola mata Valdes melirik ke depan, "Lantas, apakah aku harus diam saja saat aku mengingat mereka mengambil keuntungan dengan Yuka. Kamu pasti paham maksud keuntungan itu apa," sambung Valdes sedikit menyinggung tentang uang anda jual-beli.
"Saya sangat mengerti. Tindakan Anda tidak salah," Bobby kembali melirik ke kaca spion tengah, "Karena urusan susah selesai, apakah kita akan kembali pulang?" tanya Bobby memberi saran.
"Tidak, kita kembali ke rumah lama. Aku ingin menenangkan sedikit diriku di sana, sambil aku melihat beberapa proyek di sini," ucap Valdes sedikit berbohong. Alasan Valdes sebenarnya adalah tidak ingin menyentuh Yuka dengan kedua tangan kotornya setelah melakukan perbuatan keji kepada Paman dan Bibi. Valdes juga masih bingung harus berkata apa kepada Yuka jika keputusan sepihak di buat olehnya akan diketahui oleh Yuka dari Paman dan Bibinya.
"Apa Anda yakin membiarkan Yuka tanpa pengawasan antar saya dan tuan. Bukannya tuan tahu kalau tuan muda Rajendra ada di kota Yogya. Bagaimana jika tuan muda Rajendra memanfaatkan Yuka sebagai alat balas dendam?" tanya Bobby cemas.
"Kenapa kamu membuat aku ikut cemas!" ucap Valdes sedikit meninggikan anda suaranya.
"He He, karena nona muda sangat imut. Nona muda juga tidak pantas untuk disakiti oleh siapapun," sahut Bobby tanpa bersalah.
Ctak!!
Valdes memberi satu ketukan manis di puncak kepala Bobby.
"Aduh!" keluh Bobby mengelus puncak kepalanya, kedua bola mata melirik ke Valdes, "Kenapa tuan memukul kepala saya?" tanya Valdes bingung.
"Karena mulut kamu sudah mengatakan jika Yuka itu imut. Aku jelaskan sama kamu. Orang yang boleh mengatakan Yuka itu imut hanya aku! Presdir Valdes, paling tampan, banyak uang dan bisa melakukan apa pun yang dia inginkan!" ucap Valdes cemburu pada Bobby.
__ADS_1
Bobby menggaruk kepala tak gatal, "Iya-ia. Baru kali ini aku melihat tuan Valdes cemburu sama seorang wanita."
"Apa aku tidak boleh cemburu?" tanya Valdes meninggikan nada suaranya.
Tangan kiri Bobby melambai, "Tentu saja boleh. Tapi kenapa tuan Valdes harus cemburu kepada seorang gadis remaja yang kita tidak tahu apakah gadis itu sudah memiliki kekasih di luar sana. Saya bukan membuat hati Anda panas, tapi saya...."
Grep!!
Mendengar ucapan Bobby hati Valdes menjadi panas. Tangan kanan segera menyergap jenjang leher Bobby dari belakang, "Sekali lagi kamu berkata seperti itu. Maka aku akan membuat kamu menjadi rempeyek di sini. Tidak ada yang boleh mendekati Yuka kecuali aku!" ucap Valdes menekan nada suaranya.
"I-Iya, ampun tuan. Saya hanya bercanda loh!" sahut Bobby memukul pelan lengan Valdes.
Valdes melepaskan tangannya, kedua tangan merapihkan rambut dan baju kemeja, "Kalau gitu, mari kita pulang," perintah Valdes malu-malu.
"Baik," sahut Bobby patuh, mobil terus melaju kencang menuju landasan helikopter.
.
.
💫 KEDIAMAN PAMAN DAN BIBI 💫
Paman dan Bibi sedang mengobati luka-luka mereka dengan obat yang ada.
"Akh....akh..pelan dikit kenapa! apa kamu ingin membuat aku kembali terluka?" tanya Paman meninggikan nada suaranya.
Blam!!
Bibi melemparkan kapas ke wajah Paman, "Bawel amat sih! aku sudah lembut kenapa kamu terus rewel seperti anak kecil seperti itu. Apa kamu tidak tahu jika aku juga terluka?" Bibi mengarahkan jari telunjuk ke atas, "Lihat rambutku yang indah sudah separuh hilang karena ulah anak buah pria itu?!" sambung Bibi mengeluh kepada Paman karena rambut panjangnya di buat Bobby sedikit botak.
__ADS_1
... ILUSTRASI ...
"Ha ha ha" tawa renyah dari bibir Paman melihat Bibi dengan rambutnya.
"Ketawa kamu!"
"Habisnya kamu lucu. Nggak sekalian saja kamu botak seluruh rambut rusak kamu itu," ucap Paman memberikan saran dengan bibir masih tertawa ringan.
"Awas saja sih Valdes. Aku akan membuat dirinya merasakan apa yang aku rasakan," kedua tangan Bibi mengelus rambutnya, "Malunya aku keluar dengan rambut yang akan botak seperti bola. Bakalan hilang wajah cantikku jika aku menghabiskan rambutku," keluh Bibi membayangkan dirinya berambut botak.
Paman merangkul Bibi, "Kamu akan tetap cantik kok," ucap Paman mengkhayal indah tentang Bibi.
...ILUSTRASI CANTIK DI MATA PAMAN ...
"Kamu bohong. Nanti kamu melihat wanita di luar sana," ucap Bibi tidak percaya.
"Wanita di luar memang cantik-cantik. Tapi, wanita memiliki hati Iblis demi mendapatkan uang itu hanya kamu!" sahut gemas Paman.
"Emang aku sejahat itu?" tanya Bibi.
"Jadi! hanya kamu wanita yang tegas melakukan hal keji kepada keponakan sendiri. Dan satu lagi, apa kamu tadi tidak menyerap kata-kata mereka. Sepertinya Yuka sudah kembali, bukannya ini pertanda baik untuk kita. Kita manfaatkan saja kesalahan Valdes demi mendapatkan uang. Bagaimana menurut kamu?" tanya Paman ternyata punya niat lain di balik pujian buat Bibi.
"Kamu benar," Bibi mengelus kepala botaknya, "Aku akan botak habis, dan aku juga akan meminta uang banyak untuk pertanggungjawaban atas dicukurnya rambut indah ku!" tegas Bibi penuh keyakinan.
"Berarti kamu setuju kita membuat rencana baru untuk meminta uang kepada Yuka?" tanya Paman memastikan.
"Tentu saja. Mereka harus merasakan apa yang aku rasakan. Yuka juga harus menanggung malu atas perbuatan Valdes dan tangan kanannya itu!" ucap Bibi semangat.
"Kalau gitu kita akan berangkat ke Jogja. Apa kamu setuju kita memakai uang terakhir buat rencana baru kita?" tanya Paman serius.
__ADS_1
"Setuju!"
...Bersambung ...