
Mulai dari sekarang, Yuka beneran tidak di perbolehkan pergi bersekolah oleh Valdes. Dan Yuka hanya boleh mengikuti kemanapun Valdes pergi sampai waktu itu tiba. Sebelum berangkat pergi menuju rapat, Valdes menyuruh Bobby untuk singgah ke sekolah Yuka.
“Kenapa kita turun di sini?” tanya Yuka penasaran.
“Aku ada urusan dengan pihak sekolah. Kamu sebaiknya tunggu aku di sini,” ucap Valdes. Valdes membuka pintu mobil, dan turun.
“Aku ikut. Izinkan aku bertemu dengan teman-temanku,” pinta Yuka.
“Tidak boleh, kamu akan tetap di dalam mobil sampai aku kembali. Kalau kamu merindukan teman-teman kamu, kamu boleh mengundang mereka untuk berkunjung ke rumah,” tegas Valdes.
“Kalau di rumah tidak seru nantinya,” sahut Yuka mengigat akan pengawasan ketat dari Bobby dan juga Valdes.
“Nona muda tenang saja, jika mereka datang pasti bakalan kita buatkan permainan seru kok,” sambung Bobby melirik dari kaca spion tengah.
“Baiklah,” sahut Yuka nurut.
“Kalau begitu aku titip Yuka,” ucap Valdes ke Bobby. Kedua kaki Valdes pun melangkah memasuki halaman sekolah dan meninggalkan Yuka dan Bobby di dalam mobil.
Bola mata Bobby sesekali melirik ke kaca spion tengah, banyak pertanyaan ingin disampaikan oleh Bobby kepada Yuka. Tapi Bobby bingung mau di mulai darimana. Bobby hanya bisa melirik, dan memutuskan untuk menyimpan pertanyaan itu rapat-rapat di dalam hatinya.
“Bobby, kita mau ke mana?” tanya Yuka penasaran.
“Kita akan pergi ke sebuah rapat penting yang tak jauh dari sini,” sahut Bobby.
“Apakah tidak masalah jika membawa aku pergi bersama kalian?” tanya Yuka penasaran.
“Tidak, kenapa nona muda bertanya seperti itu?” tanya Bobby kembali.
“Karena aku…tunggu dulu, bukannya itu…” ucapan Yuka terhenti saat melihat Bimo keluar dari mobil mewah.
“Kenapa nona muda?” tanya Bobby heran.
Saat melihat Bimo turun dari mobil mewah, Yuka segera mendekatkan tubuhnya ke bangku Bobby, jari tangan mengarah pada mobil berhenti di depan mobil mereka, “Itu, dia adalah siswa baru di kelas kami. Tapi kenapa mobilnya terlihat sangat mewah. Apa kamu mengenal pria itu?” tanya Yuka penasaran.
Bobby memperjelas pandangannya, kedua bola matanya membulat sempurna saat melihat ada Rajendra sedang duduk di dalam mobil, “Dia adalah adik dari tuan Rajendra. Apa dia juga satu kelas dengan nona muda?” tanya Bobby serius.
“Iya, dan dia juga meminta untuk duduk sebangku denganku di kelas,” sahut Yuka.
'Bukannya dia sudah tamat kuliah. Kenapa dia bisa masuk ke sekolah SMP nona muda Ada hal aneh ini,' batin Bobby. Bola mata Bobby melirik ke Yuka, "Apa ada hal lain yang sudah tuan muda itu ketahui tentang nona muda?” tanya Bobby mulai gelisah.
Yuka menundukkan pandangannya, “Dia melihatku tanpa bayangan,” sahut Yuka datar.
__ADS_1
“Gawat!”
“Apanya yang gawat?” tanya Yuka histeris.
Bobby merubah mimik wajahnya menjadi manis, “Ti-tidak ada nona muda. Nona muda mau kemana sehabis kita pulang rapat. Main ke gunung mau?” tanya Bobby mengalihkan pertanyaan.
“Pergi saja sendiri,” ketus Yuka tidak senang.
“Eh, itu tuan Valdes sudah kembali, mari segera berangkat,” ucap Bobby menghidupkan mesin mobilnya ketika melihat Valdes berjalan keluar dari gerbang.
“Tunggu dulu, kenapa Bimo mendekati Valdes. Apa mereka saling kenal?” tanya Yuka saat melihat Bimo berjalan mendekati Valdes. Valdes juga berjalan mendekati Bimo.
Bobby menundukkan kepalanya, “Ketahuan sudah,” gumam Bobby.
“Ketahuan kenapa? Apa yang sedang kamu sembunyikan dariku. Jawab aku, Bobby!” tegas Yuka.
“Baiklah saya akan katakan jika Bimo itu adalah adik dari tuan Rajendra. Tentang kenapa Bimo bisa bersekolah di sini saya tidak tahu. Mungkin ada sesuatu yang mereka rencanakan untuk menjatuhkan tuan Valdes,” sahut Bobby mengingat jika Rajendra adalah musuh bebuyutan Valdes.
“Menjatuhkan! Gimana maksud kamu?” tanya Yuka penasaran.
“Sepertinya ini bukan saatnya untuk membahas hal itu,” ucap Bobby membuka seatbelt saat melihat ada seorang pria perlahan keluar dari mobil.
“Nona muda…nona!” panggil Bobby menatap kepergian Yuka.
Yuka tak memperdulikan teriakan Bobby, kedua kaki Yuka terus berlari mendekati Valdes dan berdiri di sampingnya.
“Kamu ternyata adalah adik dari Rajendra. Apa maksud kamu bersekolah di sini?” tanya Yuka spontan kepada Bimo.
“Tentu saja bukan urusan kamu!” sahut Bimo datar.
“Kalian sudah saling kenal?” sambung Valdes bingung.
“Tidak,” sahut Yuka dan Bimo serentak.
“Baguslah kalau seperti itu,” Valdes menggenggam tangan Yuka, “Mari kita pergi,” ajak Valdes melangkahkan kaki kanannya.
“Tunggu!” tahan Bimo memegang tangan Yuka satu lagi.
Valdes melirik tajam pada genggaman tangan Bimo, “Beraninya kamu memegang tangan Yuka,” ucap Valdes segera menepis tangan Bimo.
“Yuka mau ke mana kamu?” tanya Bimo datar.
__ADS_1
“Apa urusannya dengan kamu!” Yuka menarik tangan Valdes, “Mari kita pergi,” ajak Yuka melangkahkan kedua kakinya.
“Yuka, aku sengaja bersekolah di sini karena aku ingin dekat sama kamu. Tapi kenapa kamu malah tidak memperdulikan hal itu. Apakah kamu sangat membenciku? Atau karena kamu malu karena aku mengetahui rahasia kamu?”
Langkah kaki Yuka terhenti, perlahan ia melirik ke sisi kiri, “Berulang kali aku katakan jika aku tidak membutuhkan perhatian kamu, berulang kali pula aku sudah katakan jika aku tidak meminta kamu untuk berteman baik kepadaku. Jika kamu bersekolah di sini karena ku, maka kamu adalah orang yang bodoh. Jika kamu bertanya aku sangat membenci kamu! Maka aku katakan iya, aku sangat membenci kamu karena kamu adalah saudara dari Rajendra,” sahut Yuka dingin.
“Kita sudah terlambat, mari kita pergi,” sela Valdes membawa Yuka kembali masuk ke dalam mobil.
Yuka dan Valdes sudah masuk ke dalam mobil. Mobil mereka juga sedang membanting stir ke sisi lain meninggalkan sekolah Yuka.
Rajendra menepuk bahu Bimo, “Kamu tenang saja, rencanakan kita tidak akan gagal sampai di sini.”
Bimo mengepal kedua tangannya, kedua bola matanya menatap mobil Valdes dan Yuka sudah berada jauh di pandangan mata. Kedua bola mata itu pula teringat dengan pertemuan mereka waktu itu. Saat Yuka dan Valdes pergi rapat waktu itu.
.
#POV BIMO
Karena Bimo sudah lulus kuliah, ia memutuskan untuk pulang sejenak mengunjugi kampung halamannya. Sebelum pergi rapat Rajendra menyempatkan diri untuk menjemput Bimo, dan membawanya pergi rapat sekaligus ingin mengajarkan bagaimana caranya berbisnis.
Merasa bosan dengan rapat sedang berlangsung lama, Bimo memutuskan untuk keluar ruangan, dan berkeliling di dalam gedung sambil melihat-lihat lukisan. Saat menikmati lukisan sejarah kuno, kedua telinga Bimo terusik dengan suara Yuka saat bercerita tentang lukisan Ibu dan anak sedang berada di depan kendi dengan tungku api menyala.
“Gadis itu sangat manis,” gumam Bimo melihat Yuka dari samping.
“Di sini kamu rupanya,” sambung Rajendra memecah pikiran Bimo.
“Kenapa?” tanya Bimo dingin.
Melihat Bimo terus memandang Yuka, Rajendra mulai bertanya, “Apa kamu mengagumi gadis manis itu?”
“Bukan urusan kamu!”
“Aku tahu siapa pemiliknya, jika aku bisa mempertemukan kamu dengannya. Maka kamu janji akan membantu ku. Bagaimana?”
“Aku terima penawaran kamu.”
.
#POV END
Dari situlah awal mula Bimo mendekati Yuka.
__ADS_1