
Setelah puas berkeliling melihat lukisan. Melihat Yuka terus mengipas wajahnya, Bobby berpikir jika Yuka sedang merasakan kehausan. Bobby mengarahkan tangan kirinya ke koridor sebelah kiri, "Nona muda tunggu saya di sini ya! saya akan ke kantin sebentar untuk membeli minuman buat nona."
"Jangan lama," sahut Yuka datar.
"Sip" Bobby menunjukkan jempol tangan kanannya. Bobby berbalik badan, kedua kaki dengan cepat melangkah menuju kantin.
"Daripada bengong sendiri, lebih bagus aku berkeliling lagi," gumam Yuka berbalik badan. Namun saat Yuka berbalik badan dahi nya kepentok dengan bidang dada seorang pria.
Bam!
"Aduuh!! siapa sih yang menaruh tembok di sini!" keluh Yuka mengelus dahinya.
"Aku perhatikan dari tadi nona muda sendirian saja," ucap seorang pria tampan memakai setelan jas berwarna coklat tua. Pria tersebut adalah Rajendra, saingan bisnis Valdes.
Yuka mundur dua langkah, "Kamu pasti Om-om jahat yang ingin menculik aku kan!" tuduh Yuka.
"Ha ha" tawa kecil terdengar dari mulut tipisnya, tangan kanan hendak mendekati puncak kepala Yuka. Namun dengan cepat Valdes datang dan menepis tangan Rajendra.
"Jangan pernah sentuh Yuka dengan tangan kotor Anda itu!" tegas Valdes.
Rajendra menunduk sambil mengangguk, "Tuan Valdes," Rajendra menengadah, "Apa ini gadis kecil yang sudah membuat kamu hampir gila selama 7 hari lamanya?" sambung Rajendra mengingat waktu Yuka pergi selama 7 hari tanpa kabar. Dan Valdes terus berkunjung ke rumahnya menanyakan apakah Yuka ia sembunyikan di dalam rumahnya.
Valdes merangkul Yuka, "Tidak usah dengarkan omongan pria satu ini," Valdes mengajak Yuka berbalik badan, "Sesuai janjiku, mari kita pergi berkeliling di kota Surabaya," ajak Valdes mengabaikan Rajendra.
"Tapi Bobby masih di kantin," ucap Yuka teringat jika Bobby masih pergi ke kantin untuk membeli minum.
"Yah, aku diabaikan lagi!" gumam Rajendra.
Yuka melirik ke belakang, "Pasti Oom orang jahat makanya Valdes mengabaikan Oom," ucap Yuka polos.
Rajendra mendekati Valdes, "Katanya kamu ingin berkeliling di kota Surabaya. Apa benar gadis kecil?" tanya Rajendra berhenti di hadapan Yuka.
"Benar!" sahut Yuka semangat.
"Aku bisa mengajak kamu berkeliling. Kemana kamu ingin pergi, aku akan membawa kamu!" Rajendra mengulurkan tangan kanannya, "Apa kamu bersedia berkeliling denganku?" sambung Rajendra bertanya dengan bibir tersenyum penuh makna.
Baru saja ketegangan akan di mulai, Bobby segera berlari dengan kedua tangan membawa jus di dalam gelas plastik kecil, "Nona muda...."
__ADS_1
Yuka segera melepaskan rangkulan tangan Valdes, kedua kaki berjalan kecil menuju ke Bobby. Melihat jus segar, Yuka mengabaikan Valdes dan Rajendra, "Kenapa kamu sangat lama?"
Valdes dan Rajendra tercengang. Kedua bola mata mereka mengikuti langkah kaki Yuka.
Bobby menghentikan langkahnya, kedua tangan mengulur ke depan, "Saya tadi bingung harus memilih buah apa yang cocok buat nona. Karena nona muda tidak suka makanan dan minuman yang terlalu manis, jadi aku membelikan jus belimbing dan juga jeruk."
Yuka membuang mukanya, kedua tangan di lipat di depan dada, "Apa kamu pikir aku sedang diet dan sedang mengalami penyakit kolesterol!" ketus Yuka tidak suka dengan minuman asam.
Bobby mengangkat cup berisi jus, "Sepertinya saya tidak berpikir seperti itu saat membelinya!" gumam Bobby menatap jus berada di dalam genggaman kedua tangannya.
"Sudahlah. Terimakasih!" Yuka menyambar jus jeruk. Karena haus Yuka langsung menyeruput jus tersebut, dengan kedua kaki melangkah keluar dari gedung.
Sruuuppp!!!
"Sepetinya gadis kecil itu lebih suka dengan tangan kanan kamu, daripada....tuan Valdes!" ucap Rajendra.
"Itu bukan urusan Anda!" sahut Valdes dingin. Melihat Yuka dan Bobby sudah hilang dari pandangan, Valdes segera membawa kedua kakinya ikut berjalan mengejar Yuka dan Bobby.
Valdes menghela nafas saat melihat Yuka dan Bobby menunggu dirinya di teras gedung. "Aku pikir Yuka beneran ingin meninggalkan aku sendiri dan berdua di dalam mobil dengan Bobby," gumam Valdes pelan.
Yuka melambai, "Kami di sini!"
"Kenapa harus berlari?" tanya Yuka menatap Valdes berdiri di sisi kirinya.
"Jika aku tidak mengejar-mu, maka akan ada orang lain yang mendahului ku!"
Bola mata Yuka melirik ke belakang, "Oh! maksud kamu...pria itu!" tunjuk Yuka ke Rajendra berjalan di belakang Valdes.
Valdes dan Bobby segera melirik ke belakang.
Rajendra melambai, "Aku pikir kalian sudah pergi. Karena aku tidak ditemani oleh asisten pribadiku. Apa aku boleh ikut pergi bersama dengan kalian?" tanya Rajendra berhenti di belakang Yuka.
Yuka menggeleng, "Tidak bisa. Oom jahat tidak perlu ikut pergi bersama kami!"
Rajendra memegang dadanya, "Sakit sekali ketika ada anak kecil mengatakan aku ini adalah Oom yang jahat," mimik wajah Rajendra berubah menjadi sedih, "Padahal gadis itu baru mengenalku, tapi perkataanya sungguh menusuk ke dalam hati!"
Bug!
__ADS_1
Satu kepalan tinju mendarat di perut kotak-kotak Rajendra.
"Akh!!" Rajendra langsung meringis, kedua tangan memegang perutnya.
"Kha..kha!" Yuka memberi nafas hangat di kepalan tangannya.
"Aku tidak menyangka jika tenaga gadis kecil itu sangat kuat," ucap Rajendra menahan denyut di perut.
Prok!!!prok!
Bobby teluk tangan, kedua jempol diberikan buat Yuka, "Nona muda memang hebat!" puji Bobby.
Yuka menundukkan tubuhnya, "Terimakasih."
Valdes segera menggenggam tangan Yuka, "Mari kita pergi!" tegas Valdes membawa Yuka pergi.
"Jangan kasar-kasar dong!" rengek Yuka karena genggaman tangan Valdes sangat kuat.
Valdes melirik tajam ke Yuka. Valdes semakin mempercepat langkah kakinya karena hari sangat terik dan membuat baju kemeja nya sedikit basah akibat keringat. Langkah kaki Valdes dan Yuka terhenti di samping pintu mobil penumpang. Saat Valdes membuka pintu buat Yuka, ada satu hal mengejutkan dilihat langsung oleh kedua mata Valdes. Hal itu adalah kemana bayangan Yuka menghilang?
"Kenapa wajah kamu seperti itu?" tanya Yuka melambaikan tangannya ke wajah Valdes.
Valdes kembali tersadar, "Ti-tidak kenapa. Cepat masuk karena perutku mulai keroncongan," ucap Valdes mengelus perutnya sendiri.
Yuka segera masuk. Begitu juga dengan Bobby dan Valdes.
Valdes memasang seatbelt milik Yuka, "Tali ini harus di pasang dengan benar. Tali ini berfungsi untuk membuat tubuh kamu tetap aman di posisinya saat terjadi kecelakaan atau hal buruk lainnya."
"Oohh" sahut Yuka mengangguk.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Bobby sedikit melirik ke belakang.
"Ke tempat biasa!" tegas Valdes memberi perintah kepada Bobby.
"Siap!" sahut Bobby patuh. Bobby segera menghidupkan mesin mobil dan pergi meninggalkan parkiran gedung tersebut.
Valdes diam-diam melirik Yuka. Kedua kelopak matanya teringat dengan sebuah foto yang di kirim Bobby sewaktu menemani Yuka bermain di taman. Waktu itu Valdes juga melihat Yuka tidak memiliki bayangan di atas rerumputan. Sedangkan bayangan dari bangku dan kupu-kupu bisa terlihat jelas.
__ADS_1
Siapa Yuka? dan kenapa dirinya tidak memiliki bayangan?
...Bersambung ...