Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)

Yuka (Hidup Kedua Demi Dendam)
BAB 27. Dimana Yuka?


__ADS_3

Jugujug!!!!


Helikopter milik Valdes mendarat di kediaman rumah utama di kota Jakarta. Valdes segera turun bersama dengan Bobby. Di luar landasan Helikopter, ada beberapa anak buah miliknya sudah siap bersedia di samping mobil sudah siap jalan.


Valdes melangkah terlebih dahulu menuju mobil, di susul Bobby. Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Valdes segera memberi perintah kepada anak buah untuk jalankan mobil ke rumah Paman dan Bibi. Karena mobil akan segera bergerak, Bobby mulai memberi perintah kepada seseorang untuk mengatur jalan agar mobil dikendarai Valdes bisa sampai tanpa terhambat.


Mobil kini terus meluncur dengan cepat menuju rumah milik Paman dan Bibi. Entah kenapa jantung Valdes semakin berdebar kuat, dan pikirannya bertambah cemas. Tidak ingin terlihat lemah di mata para anak buahnya, Valdes terus menatap jalan gelap dari dalam jendela, wajahnya bertambah suntuk saat mendengar Yuka tidak ada di manapun. Baik di sekolah ataupun di rumah Grace, Rado dan juga Bianca. Hanya satu harapan Valdes, yaitu menemukan Yuka di rumah Paman dan Bibi.


‘Kemana Yuka, dan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa aku bisa sebodoh ini tidak menyadari jika dirinya sudah tiga hari tidak pulang ke rumah. Aku pria yang tidak berguna, sudah berjanji tidak akan membuat dirinya terluka dan di sakiti oleh orang lain. Kini malah aku sendiri yang sudah mengabaikan keberadaannya. Aku terlalu sepele dengan semua kenyamanan yang aku berikan kepadanya. Aku juga sudah terlalu egois dengan kesibukan ku sendiri. Kini gadis malang itu pasti sangat ketakutan. Aku sangat yakin jika dirinya pasti sangat takut. Debaran jantungku ini pasti adalah debaran jantung dirinya. Yuka….tunggu aku pasti akan menyelamatkan kamu.’


Ciit!!


Mobil Valdes terhenti di depan gerbang rumah milik Paman dan Bibi.


Bobby dan supir pribadi segera turun membuka pintu buat Valdes.


“Tuan apa yakin jika nona muda ada di sini?” tanya Bobby serius.


“Tidak ada yang tidak mungkin di Dunia ini,” sahut Valdes dingin. Tatapan suram menatap wajah Bobby, “Cepat masuk!” perintah Valdes tegas kepada Bobby.


Bobby mengangguk, kedua kaki berjalan terlebih dahulu mendekati pintu gerbang. Karena kedatangan mereka pukul 03:00 dini hari pagi dan sudah pasti Paman dan Bibi masih tertidur pulas. Tidak ingin dianggap maling oleh tetangga, Bobby menekan tombol bel berada di tiang gerbang.


Din dong!


Bobby terus menekan tombol sebanyak tiga kali. Melihat pintu tidak terbuka, Valdes nekad ingin memanjat gerbang tapi ditahan oleh Bobby karena akan menimbulkan masalah nantinya. Terlebih lagi tidak ingin membuat nama baik Valdes tercemar.

__ADS_1


“Sebaiknya kita tunggu selama 5 menit, dan saya akan menekan tombol bel nya kembali,” sahut Bobby agar Valdes bisa lebih tenang sedikit saja. Bobby kembali menekan tombol.


Ding dong!


Pintu rumah terbuka, terlihat Paman dan Bibi dengan baju tidur, dan wajah masih mengantuk berjalan mendekati gerbang. Karena tadi jarak pandang tidak terlalu jelas dan waktu masih sangat gelap, Paman dan Bibi sempat tidak mengenal Valdes. Begitu Paman dan Bibi membuka pintu gerbang, barulah terlihat jelas wajah Valdes dan juga Bobby.


Paman dan Bibi langsung menundukkan sedikit tubuhnya, “Selamat datang tuan muda Valdes,” sambut Paman dan Bibi serentak.


Tanpa basa-basi Valdes menerobos masuk melewati Paman dan Bibi. Kedua kaki Valdes terus melangkah cepat menuju rumah. Bobby, Paman dan Bibi juga mengikuti langkah kaki Valdes sudah sampai di ruang tamu.


“Ada apa ini?” tanya Paman ke Bobby.


“Apa nona muda Yuka ada di sini?” tanya Bobby mewakili Valdes.


Paman menatap Bibi sejenak, kemudian menatap Bobby, “Tentu saja tidak ada. Bukannya aku sudah menyerahkan dirinya kepada kalian berdua. Dan buat apa aku menerima gadis sialan itu lagi,” sahut Paman sedikit merendahkan Yuka.


Melihat Valdes naik tanpa izin. Bibi ikut berlari dan naik mengikuti langkah Valdes. Tangan kanan Bibi mengulur ke depan sambil berkata, “Yuka tidak ada di sini. Kenapa Anda keras kepala sekali!” ucap Bibi sedikit meninggikan nada suaranya menatap punggung Valdes.


Valdes menghentikan langkah kakinya tepat di depan sebuah pintu kamar dengan kertas kecil menempel nama ‘YUKA’. Tatapan tajam mengarah ke Bibi, sedangkan tangan kanan mengulur dan membuka pintu kamar.


Saat kaki kanan Valdes hendak melangkah masuk, Bibi seger berlari, tangan kanan mengulur, dan berkata, “Jangan masuk!”


Teriakan Bibi tidak dipedulikan Valdes. Kini kedua kaki Valdes sudah masuk ke dalam kamar milik Yuka. Kedua mata Valdes membesar seakan dirinya tidak percaya jika dulu Yuka tinggal di kamar seperti di dalam tahanan. Serta kamar cukup bau apek dengan sarang laba-laba memenuhi seisi langit kamar. Dan banyak bolongan besar memenuhi langit kamar.


Valdes berbalik badan tatapan semakin suram saat mengetahui betapa mirisnya dulu keadaan Yuka. Dan ternyata itu alasannya kenapa tubuh Yuka sangat kecil serta banyak beberapa bekas luka lama menghiasi tubuhnya.

__ADS_1


Kedua kaki Valdes melangkah mendekati Bibi masih berdiri di depan pintu kamar dengan wajah cemas. Tangan kanan Valdes menunjuk ke belakang, “Kemana Yuka? Dan apa kamu bisa menjelaskan sedikit kenapa kamar ini sangat begitu tidak layak di tempati. Dan apa yang sebenarnya kalian lakukan kepada Yuka selama sisa hidupnya tinggal bersama kalian berdua?” tanya Valdes dingin. Karena merasa kesal Valdes mencengkram kerah baju tidur bagian depan Bibi, “Sepertinya kamu tidak perlu menjelaskannya. Dan aku juga sangat yakin jika Yuka tidak mungkin akan pernah kembali lagi ke Neraka tempat dia di besarkan.”


Bibi hanya diam, membuang wajah gugupnya ke sisi kiri.


“Saya sudah sangat yakin jika nona muda tidak akan mungkin kembali ke sini. Saya rasa nona muda di culik. Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini dan lebih baik kita mencari keberadaan nona muda. Izinkan saya untuk menurunkan semua pasukan khusus untuk mencari keberadaan nona muda Yuka,” tegas Bobby mengingatkan Valdes jika kehilangan Yuka kemungkinan adalah korban penculikan.


Valdes melepaskan tangannya. Tatapan suram mengarah ke Bibi dan Paman, “Masalah kita belum selesai!” tegas Valdes.


“Kemana Yuka rupanya?” tanya Paman menahan pergelangan tangan kiri Valdes.


Valdes segera melepaskan kasar tangan Paman, sambil berkata, “Bukan urusan kamu!” Valdes menatap Bobby, “Mari kita tinggalkan tempat kotor ini,” ucap Valdes memberi perintah kepada Bobby. Kedua kaki melangkah terlebih dahulu di susul oleh Bobby.


.


.


✨✨Di Dunia berbeda (1968)✨✨


Yuka sedang tertidur di ranjang terbuat dari semen. Kedua kaki Yuka di belenggu dengan rantai. Serta tangan kanan sedikit membengkak, akibat dipeli-ntir oleh Caprio.


“Yuka…bangun Yuka!” terdengar suara Adair memenuhi sel tahanan bawah tanah.


Kedua kelopak mata bengkak terdapat bekas darah kering perlahan bergerak. Yuka mengedipkan kedua mata bengkaknya. Karena kedua mata bengkak Yuka tidak mampu melihat dengan sempurna. Yuka langsung terduduk, kedua mata bengkak menatap liar sekeliling ruangan.


“Karena kamu sudah bangun. Ini saatnya kamu memulihkan sebagian luka yang kamu dapat. Terutama tangan kanan kamu yang terkilir. Kamu bacakan saja mantra rahasia yang pernah aku berikan kepada kamu. Cepat lakukan itu Yuka, sebelum mereka kembali datang,” ucap Adair tergesa-gesa.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2