
Karena hari mulai larut dan Yuka sangat mengantuk. Yuka membaringkan tubuhnya di atas kursi bangku taman tak jauh dari Vila. Baju serba hitam, dan penerangan kurang membuat tubuh Yuka menjadi tumbal buat nyamuk.
Pok! Pok!
Beberapa pukulan terus mendarat di wajah dan tubuh lainnya.
“Arrghh” teriak Yuka sedikit emosi karena nyamuk terus menggigit kulitnya. Yuka duduk, kedua tangan menggaruk kulit merahnya, “Apa kalian tidak kasihan samaku! Sudah aku tidak makan apa pun, eh…kelen nyamuk-nyamuk Iblis malah datang mengambil darah milikku dengan mudahnya. Sungguh menyebalkan,” Yuka berdiri, “Daripada aku terus di sini lebih baik aku menyelesaikan tugasku,” Yuka melangkahkan kedua kakinya meninggalkan taman menuju Vila milik Caprio.
Karena jarak taman tidak jauh dengan Vila, Yuka hanya menghabiskan jarak waktu tempuh kurang lebih 5 menit. Kini Yuka sedang mengintip ke dalam Vila dari balik gerbang, melihat beberapa penjaga sedikit kurang terjaga. Yuka segera melangkahkan kedua kakinya tanpa mengeluarkan suara. Dengan lihainya Yuka masuk dengan memanjat dinding gerbang.
Kreek!
Karena salah satu sepatunya menginjak ranting kering dan membuat kebisingan di dalam keheningan. Yuka segera menggelindingkan tubuhnya seperti bola, dan bersembunyi di balik semak.
“Siapa di sana?” tanya dua orang penjaga bertubuh kekar berlari mendekati semak. Kedua mata liar menatap sekeliling, “Cepat keluar!” ucap penjaga sekali lagi serentak.
“Meow!” tidak ingin membuat kekacauan secepat ini, Yuka mengelabuhi kedua penjaga dengan membuat suara anak kucing.
“Ternyata hanya anak kucing,” ucap penjaga pertama, tangan kanan menyikut, “Ayo pergi!”
“Tunggu dulu. Kok suara anak kucingnya berbeda?” tanya penjaga kedua.
Karena Yuka telah gagal mengelabuhi kedua penjaga, Yuka pun keluar dari tempat persembunyiannya. Kedua kaki melompat, serentak dengan kedua tangan memu-kul tengkuk kedua penjaga.
Plak!!
Bam!
Kedua penjaga spontan pingsan ke depan.
Yuka menepuk kedua tangannya seperti sedang membersihkan debu, “Kalau aku buat suara kucing seharusnya kalian berdua harus yakin. Jadi aku tidak perlu repot-repot membuat kalian berdua pingsan,” ucap Yuka kepada kedua penjaga sudah tergeletak di atas tanah. Yuka merogoh saku jaket kedua penjaga, “Kita lihat apakah ada minuman di sini?” tanya Yuka bergumam sendiri. Tangan kanan keluar dari saku, dan berhasil mengambil tempat minuman kecil berisi alcohol. Senyum manis menatap botol tersebut, “Akhirnya aku bisa melepaskan dahaga dan juga rasa lapar ku,” dengan cepat Yuka membuka tutup botol dan menenggak habis minuman untuk menyegarkan tenggorokannya.
Brang!
Yuka membuang botol minuman, tangan kanan menyeka kasar sisa air minuman di sekitar bibirnya. Tatapan waspada Yuka arahkan ke sekeliling halaman rumah, “Ternyata mereka semua sedikit mengantuk. Waktunya aku harus membereskan semuanya,” Yuka mengayunkan kedua kakinya dengan cepat mendekati para penjaga.
Bug! Bug!!
Bam!!
Bam!!
Seperti kata pepatah mengatakan, 'sekali mendayung dua pulau terlampaui'. Sambil berlari seperti ninja, Yuka mengayunkan kedua tangannya untuk melumpuhkan para penjaga. Hanya dalam waktu 10 menit semua penjaga di luar Vila tergeletak di atas lantai. Kini Yuka sedang berdiri di depan pintu, tangan kanan perlahan membuka pintu, kedua mata perlahan melirik dari balik pintu. Yuka kembali menutup pintu karena melihat banyak orang di dalam sedang sibuk menyusun tumpukan kardus. Dan banyak orang juga memegang senjata cukup lengkap.
__ADS_1
“Karena aku harus segera bertemu dengan Valdes, maka aku akan beralih ke rencana Z,” Yuka menatap sekeliling dinding untuk melancarkan aksinya, kedua matanya terhenti di sekring lampu, “Sebaiknya aku matikan itu saja. Tapi sebelum aku matikan sekring lampu, aku pinjam dulu senjata para Paman bodoh ini,” gumam Yuka pelan, kedua tangan dengan cepat mengambil beberapa senjata, dan menyimpan senjata-senjata tersebut di dalam lingkar ikat pinggangnya. Setelah senjatanya merasa cukup untuk melawan semua musuh di dalam, Yuka segera melompat tinggi untuk mematikan sekring.
Ctak!
Semua lampu padam seketika.
Yuka segera bersembunyi di balik tiang. Kesempatan emas sudah di depan mata, sesuai perkiraannya. Melihat beberapa anak buah berlari keluar, Yuka menyelinap masuk ke dalam. Karena waktu tidak banyak, Yuka memainkan pisau belatinya. Kini 6 pisau belati sudah terselip di masing-masing jari kanan/kiri.
Jlub!!
“Akkh”
Jlub!!
“Akkkhhh”
Swiisshh!!
“Aaakhh"
“Akkhh”
Jlub!!!
Tap!tap!
Yuka berlari seperti ninja menuju ruangan rahasia, dimana dulu ruangan itu adalah milik Estella. Dengan nafas terengah-engah Yuka kini sudah berhasil masuk ke dalam ruangan cukup gelap, hanya lilin menyala di atas meja, dan satu orang pria sedang tersenyum kejam menatap lurus ke pintu. Melihat Yuka sedang berdiri di depan pintu.
Ctak!
Sesuai dugaan, lampu kembali menyala dan Yuka berhasil masuk
Terlihat seorang pria paruh baya yaitu Caprio beranjak dari kursi besarnya, berjalan ke arah Yuka masih berdiri di depan pintu dengan baju dan kulit bersimbah darah. Kedua tangan pria itu mengembang, “Selamat datang kembali Iblis kecil,” sambut Caprio.
“Hentikan omong kosong kamu!” Yuka mengarahkan senjata api lurus ke arah Caprio, “Kali ini kamu akan merasakan apa yang aku rasakan dulu,” jari telunjuk mulai membidik.
“Tunggu dulu, kenapa kamu sangat terburu-buru. Tidak bisakah kita berbicara sambil minum teh di sana!” tunjuk Caprio mengalihkan perhatian Yuka.
Blam!
Satu jebakan turun dari langit dan mengurung tubuh Yuka.
“Brengsek!” teriak Yuka kepada Caprio karena tubuhnya kini sedang terkurung di dalam sangkar besar. Yuka berjalan mendekati sangkar tersebut, tangan kanan masih memegang senjata api kini Yuka arahkan ke Caprio masih terus berjalan santai ke arahnya, “Pergilah kamu ke Neraka…”
__ADS_1
Dor!
Tebakan Yuka meleset saat ada salah satu algojo berlari cepat dan menepis senjata milik Yuka.
“Ha ha ha” tawa renyah dan kejam keluar dari bibir Caprio. Tangan kanan Yuka di tarik dan di pelin-tir oleh Caprio, “Rasakan ini.”
Krak!
“AAAA” teriak Yuka kesakitan saat lengannya dipelin-tir oleh Caprio.
.
.
💫💫Di Dunia lain💫💫
Deg!!!
Jantung Valdes tiba-tiba berdetak kuat.
Valdes sedang mengerjai Dokumen penting tiba-tiba teringat Yuka. Valdes menghentikan pekerjannya, tatapan serius mengarah kepada Bobby sedang berdiri di depan mejanya.
Valdes berdiri, “Sepertinya aku harus menemui Yuka ke rumah Paman dan Bibinya,” ucap Valdes berpikir jika kepergian Yuka selama tiga hari ini adalah ke rumah Paman dan Bibi.
“Baik tuan,” sahut Bobby patuh.
Bobby dan Valdes segera melangkah pergi meninggalkan ruangan kerja menuju garasi mobil. Sesampainya di dalam mobil, hati Valdes mulai merasa tidak tenang. Jantungnya terus berdetak kuat dan hatinya tiba-tiba merasa cemas.
“Cepat jalankan mobilnya. Aku sangat yakin kalau Yuka sedang dalam bahaya,” ucap Valdes kepada Bobby dengan wajah cemas.
Bobby pun segera meluncurkan mobilnya dengan cepat keluar dari kediaman rumah Valdes menuju rumah Paman dan Bibi.
Bobby melirik Valdes dari balik kaca spion tengah. Merasa ikut cemas dengan kepergian Yuka secara mendadak, Bobby pun mulai mengeluarkan isi hatinya, dan bertanya kepada Valdes, “Kenapa tuan baru sekarang menyadari jika nona muda tidak ada di rumah, dan kenapa baru ini tuan mencari nona muda. Kenapa tidak dari awal ketika saya katakan nona muda menghilang dan belum kembali kita langsung mencarinya?” ucap dan tanya Bobby mengingat tiga hari lalu saat Yuka izin ingin lari sore tapi setelah itu Yuka tidak kunjung pulang. Saat Bobby bertanya dan memberitahu Yuka tidak kunjung kembali. Valdes hanya berkata , 'Mungkin dia sedang berkunjung ke rumah Paman dan Bibi nya'. Padahal seharusnya Valdes tahu jika jarak mereka tidak lagi tinggal di Jakarta.
“Diam! Apa kamu tidak tahu kalau pekerjaan aku sangat banyak, dan aku hanya berpikir jika kepergiannya pasti ke rumah Paman dan Bibinya,” sahut Valdes tidak ingin disalahkan oleh Bobby.
Cit!
Bobby menghentikan mobilnya. Bobby memutar arah tubuhnya sedikit ke samping kiri, menatap serius wajah cemas Valdes, “Apa tuan lupa jika rumah Paman dan Bibi, nona muda itu ada di kota Jakarta bukan di kota Jogja?”
“Kenapa kamu tidak bilang. Putar! Cepat putar mobilnya dan siapkan Helikopter pribadi untuk ke sana!”
...Bersambung...
__ADS_1