[Duda] Siasat Merebut Istri Orang

[Duda] Siasat Merebut Istri Orang
Undangan Pernikahan


__ADS_3

Matahari terbit dari timur. Cahaya keemasannya memasuki celah-celah jendela kamar. Membangunkan seorang wanita yang terlelap di atas sofa. Freya tidak tidur di kamarnya, semalam setelah Jimmy mengobati dan menginfus Ozan. Wanita itu tetap tinggal di sana, karena takut kalau Ozan butuh apa-apa. Tidak ada siapa-siapa di sana.


Freya bangkit duduk bersandar di sandaran sofa. Wanita itu mengucek matanya. Dia terkejut melihat Ozan sudah bangun dan sekarang pria itu sedang memangku laptop dan bekerja.


Padahal tangan kanannya terdapat jarum infus di sana. Wajahnya masih pucat, namun pria itu tetap bekerja.


"Kamu … sangat menyusahkan! Lagi sakit bukannya istirahat, malah kerja," dengus Freya dengan nada kesal. Dia hanya bersimpati pada Ozan saja. Tidak ada perasaan lebih apapun, karena hatinya kini sudah diisi oleh Mark.


Ozan meliriknya sekilas. Lalu kembali menatap layar laptop, tangannya sangat lincah menari di keyboard.


"Beginilah kehidupan orang kaya. Orang-orang sepertimu tidak akan mengerti, tahunya orang kaya cuma hidup enak tanpa usaha," ujar Ozan dengan nada dingin, meski suaranya terdengar lemah.


Semalam Ozan dihajar habis-habisan oleh sang ayah, karena produk elektronik yang diluncurkan oleh perusahaan nya tidak masuk ke dalam nominasi top 10 produk terbagus.


Ozan sedang mencari kekurangan produknya. Pria itu ahli di bidang produk elektronik dan game. Perusahaan Ozan bergerak di bidang elektronik dan game. Dia ahli mendesain produk elektronik baru, dia juga ahli menciptakan game bagus yang sering didownload oleh kalangan GenZ.


Freya terdiam mendengar ucapan Ozan. Terdapat makna menyakitkan dalam kata-kata Ozan. Benar apa yang dikatakan oleh pria itu, orang-orang miskin akan mengira orang kaya hidupnya enak. Padahal, setiap hari mereka memikirkan bagaimana cara mempertahankan posisi mereka agar tidak dilengserkan.


Ozan selalu memutar otak agar perusahaan nya terus maju. Banyak kepala keluarga yang bergantung di bahunya. Beban yang dia pukul amatlah berat, belum lagi tekanan dari kedua orang tuanya yang selalu menuntut Ozan untuk sempurna.


Freya memilih bangkit berdiri. Dia merenggangkan ototnya tak lupa dia melihat jam di dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Untung saja hari ini libur, sehingga wanita itu tidak terlambat datang ke kantor.


"Terserah kamu saja. Yang jelas aku sudah memperingati mu. Jaga kesehatan mu!" Setelah mengatakan itu Freya keluar dari kamar meninggalkan Ozan yang tersenyum getir.


"Bagaimana bisa aku menjaga kesehatan ku disaat orang tuaku sendiri membuat kesehatan ku terganggu … sungguh menggelikan nasehat seperti itu ditujukan untuk manusia menyedihkan sepertiku," gumam pria itu pelan.


Hatinya terasa sedih dan kosong. Ingin sekali mengakhiri hidupnya, namun tak bisa, karena banyak orang yang bergantung padanya.


Ingin membalas kejahatan kedua orang tuanya, Ozan tak sanggup, meski tubuh dan tenaga Ozan lebih besar dari orang tuanya.


Trauma itu ada. Trauma bisa membuat orang kuat menjadi lemah dan bagi Ozan orang tuanya adalah trauma bagi Ozan. Setiap kali bertemu mereka, jantung Ozan seperti ingin keluar dari tempatnya. Dia merasa sangat sakit, keringat dingin membasahi keningnya. Bahkan, kakinya bisa bergetar.


Sama halnya seperti manusia bertemu dengan hewan buas atau makhluk mengerikan. Tentu saja akan terasa menakutkan bagi manusia tersebut.


Tak berselang lama pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.


"Masuk," titah Ozan dingin.


Angel masuk ke dalam kamar tersebut dengan raut wajah ketakutan. Dia berusaha memberanikan dirinya untuk masuk ke dalam kandang singa.

__ADS_1


Freya memberinya tugas untuk mengantarkan sarapan untuk Ozan. Angel melangkahkan kakinya pelan untuk masuk ke dalam kamar.


"Selamat pagi, Pak."


Angel menyapa Ozan. Pria itu tahu kalau pelayannya sedang basa-basi. Dia melirik sekilas ke arah Angel yang sedang meletakkan nampan makanan di atas meja dekat kasurnya.


"Ibu menyuruh saya mengantarkan sarapan untuk, Bapak. Jangan lupa dihabiskan."


Setelah mengatakan itu Angel berjalan cepat ingin segera keluar dari kamar Ozan. Bulu kuduknya merinding berada lama-lama di kamar Ozan yang bernuansa gelap.


Terlebih lagi pria itu bertelanjang dada. Hanya ada perban yang melilit luka Ozan.


Angel menggenggam gagang pintu ingin segera keluar dari sana. Akan tetapi, Ozan lebih dulu bersuara memecahkan keheningan.


"Tolong ganti perban saya!" titah Ozan dengan nada dingin tak ingin dibantah membuat tubuh Angel membeku.


Gleg.


Dia menelan ludahnya kasar. Sepertinya Dewi Fortuna tidak berpihak padanya. Buktinya pria itu menginginkan dirinya berada di sana lebih lama.


Ya Tuhan … tolong selamatkan hamba, Ketut Angel dalam hati. Dia terus berdoa agar kejadian tempo lalu tidak terulang lagi. Bersyukur saat itu Ozan masih waras sehingga tidak memperkosa nya.


"Sa-saya akan memanggil Ibu untuk membantu, Bapak," balas Angel pelan berusaha menolak secara halus membuat pria itu tersenyum sinis.


Dia menatap Angel dengan sorot mata sinis dan tajam membuat gadis itu menelan ludahnya kasar. Lagi dan lagi dia sangat ketakutan melihat Ozan marah.


"Saya maunya kamu. Bukan dia." Ozan kembali bersuara membuat bulu kuduk Angel benar-benar berdiri.


"Huff … tenang, Angel … tenang … anggap saja kamu sedang naik wahana untuk memacu adrenalin kamu. Setelah selesai kamu bisa cepat-cepat pergi dari sini dan meninggalkan majikan monster mu itu," batin gadis itu berusaha memotivasi dirinya agar tidak takut pada Ozan.


Dia menganggap Ozan seperti wahana menakutkan saja.


"Baik, Pak." Angel terpaksa mengalah. Dia kembali mendekati Ozan membuat pria itu tersenyum samar.


Sepertinya dia menemukan mainan baru untuk mengusir rasa bosannya.


*


*

__ADS_1


Lain Ozan, maka lain juga Mark. Pria itu tersenyum cerah sedari bangun tidur. Dia merapikan penthouse nya agar saat Freya datang wanita itu nyaman di dalam sana. Dia juga telah menyusun sebuah rencana untuk membuat wanita itu mau menerima dirinya.


"Ku harap rencana ku kali ini berhasil," gumam Mark pelan.


Seperti biasanya. Bila hari libur Freya mendatangi kediaman Mark untuk berlatih. Dia memakai bra sport seperti biasanya dengan cardigan untuk menutupi tubuhnya dari luar.


Suara bel berbunyi membuat Mark tersenyum lebar. Dia segera membuka pintu dan sosok Freya sudah muncul di hadapannya.


"Selamat pagi," sapa Freya ramah. Hari ini wanita itu memakai riasan yang cukup elegan dan natural. Namun, dapat menambah kecantikan nya.


Entah kenapa saat melihat Jessica kemarin membuat Freya ingin tampil cantik dan muda seperti gadis itu.


Bisa dikatakan Freya sangat cemburu melihat kedekatan Mark dengan Jessica.


"Pagi juga, Freya," jawab Mark setelah terdiam beberapa saat. Dia sangat terkejut melihat wajah Freya hari ini tampak lebih segar dan cantik.


Pria itu langsung mempersilahkan Freya masuk. Wanita itu tersenyum manis, Mark mempersilahkan dirinya duduk di sofa.


*Kamu duduk dulu, kita sarapan bareng. Kebetulan aku baru selesai memasak nasi goreng dan di kulkas juga ada kimchi buatan mamaku," kata Mark membuat Freya tergiur.


Wanita itu sangat menyukai kimchi.


"Baik," jawab Freya semangat.


Namun, tubuhnya menegang saat tak sengaja melihat tiga undangan pernikahan dengan desain berbeda-beda. Bukan undangan nya yang membuat Freya terkejut. Melainkan nama yang tertera di sana adalah nama Mark dan Jessica.


"Mereka … akan menikah," lirih Freya dengan suara pelan dan bergetar.


*


*


Yuhuu author up lagi. Panjang kan?? Yukk jangan lupa kopi nya 🌹🥰


Mau up lagi? Yuk vote dan kopi nya.


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰

__ADS_1


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️


__ADS_2