![[Duda] Siasat Merebut Istri Orang](https://asset.asean.biz.id/-duda--siasat-merebut-istri-orang.webp)
Waktu bergulir dengan cepat. Siang berganti malam, awan gelap berganti awan putih. Bintang bergelantungan di atas langit telah digantikan oleh mentari di pagi hari.
Sama halnya dengan keadaan Marcel. Dia sudah merasa lebih baik, bocah itu sudah bisa bangkit duduk. Dokter mengatakan kemungkinan Marcel sudah bisa pulang dua hari lagi.
Orang tua Mark telah pulang dari Korea. Mereka langsung menuju ke rumah sakit guna mengunjungi Marcel.
Pintu ruangan terbuka menampilkan sepasang suami istri paruh baya. Freya yang sedang menyisir rambut Marcel terkejut bukan main.
"Assalamualaikum." Keduanya memberi salam dengan ramah. Mark yang baru keluar dari toilet langsung tersenyum lebar melihat kedatangan orang tuanya.
"Wa'alaikumussalam, Ma, Pa. Apa kabar?" tanya Mark seraya berjalan menghampiri kedua orang tuanya.
Pria dewasa itu segera memeluk erat ibunya. Naima menciumi seluruh wajah Mark, wanita paruh baya itu amat menyayangi putra keduanya ini.
"Mama baik. Kamu apa kabar?"
Mereka mengobrol ringan untuk beberapa saat. Mark juga memperkenalkan Freya sebagai calon istrinya. Naima dan Jack ikut bahagia melihat Mark telah berhasil menemukan pengganti masa lalunya.
Namun, mereka berdua terkejut saat melihat wajah Marcel yang sangat mirip dengan Mark. Keduanya hanya bisa saling pandang, hidup bersama berpuluh-puluh tahun membuat keduanya mampu berbicara menggunakan mata.
Jack mengangguk kepalanya, memberi kode pada sang istri. Seolah berkata, "Aku akan mencari tahu."
Naima langsung bertanya pada Freya dan Mark tentang pernikahan mereka berdua.
"Kalian berencana untuk menikah kapan?" tanya Naima serius pada Freya.
"Saya ikut keputusan Mark aja, Tante," jawab Freya sungkan.
Naima menghela nafas berat. Dia menggenggam tangan Freya lembut.
"Sayang, sebentar lagi kamu akan menjadi bagian dari kami. Jadi, panggil kami Mama dan Papa. Sama seperti Mark memanggil kami," ujar Naima lemah lembut membuat hati Freya tenang.
Wanita itu tersenyum tulus. Matanya berkaca-kaca, tidak menyangka bila sikap Naima sangat baik dan ramah. Berbeda dengan mantan mertuanya dulu.
"Baik, Ma."
Jack menatap lekat wajah Marcel. Bocah itu tampak salah tingkah ditatap oleh pria paruh baya itu.
"Kamu sudah makan siang, Nak?" Jack bertanya dengan ramah pada Marcel.
Kebetulan bocah tampan itu belum makan siang. Dia menjawab dengan jujur.
__ADS_1
"Belum, Kek," balas Marcel mememanguil Jack dengan panggilan kakek.
Ada rasa hangat menjalar dalam hatinya. Baru dua orang yang memanggilnya kakek, yaitu Arsyila anak angkat David dan sekarang Marcel; calon anak tiri Mark.
"Kamu mau makan apa?"
Marcel menundukkan wajahnya. Dia sangat ingin memakan pizza, terlalu membosankan bila makan masakan rumah sakit.
"Pizza," jawabnya pelan.
Freya sebagai ibu sontak menolak, karena tak ingin anaknya kenapa-kenapa.
"Tidak boleh, Sayang. Kamu harus makan bubur," bantah Freya halus.
Cairan bening meluncur dari pelupuk mata Marcel turun membasahi pipi tirusnya. Bocah itu menangis bukan tanpa alasan, selama di rumah sakit dia hanya makan bubur saja. Sudah hampir seminggu seperti itu.
Biasanya Marcel akan patuh pada perintah ibunya. Tetapi, hari ini dia amat sangat ingin menyantap pizza.
"Tapi,aku bosan, Ma. Marcel bosan makan bubur dan obat tiap hari. Marcel nggak minta aneh-aneh … cuma pizza," jawab bocah itu diiringi tangisan kecil.
"Marcel …." Freya kembali memanggil anaknya yang mulai bertingkah di depan tamu. Hendak menegur sang putra, namun dirinya yang lebih ditegur oleh Naima.
"Tidak apa-apa, Frey. Marcel bisa kok makan pizza sekarang. Lagian dia udah hampir seminggu dirawat. Lukanya juga hampir pulih dan berdasarkan keterangan Mark. Luka Marcel tidak terlalu parah, karena peluru itu tidak mengenai jantung."
Naima menjelaskan dengan lembut. Freya ingin bertanya, namun Mark lebih dulu berkata.
"Mama dulu dokter, Frey. Jadi, mama lebih tahu keadaan Marcel dari kita," potong Mark membuat Freya terhenyak. Ternyata keluarga Mark benar-benar terpandang dan pendidikannya bukan kaleng-kaleng.
Naima menghempaskan bokongnya di atas ranjang rumah sakit. Dia menghapus jejak air mata yang berada di pipi Marcel.
"Marcel mau makan pizza dengan topping apa?" tanya Naima seraya tersenyum manis membuat Marcel nyaman bersamanya.
Bocah tampan itu langsung tersenyum cerah.
"Pakai toping jamur tiram, sosis, jagung, daging barbeque dan saus, Nek," jawab Marcel semangat.
"Pakai parutan keju juga?"
"Jangan, Ma. Marcel alergi keju," potong Freya cepat membuat wajah Naima, Jack dan Mark terkejut.
Tak lama kemudian Mark tersenyum lebar.
__ADS_1
"Berarti kamu sama dengan papa, Boy. Papa juga alergi keju. Pernah waktu kecil papa makan pizza yang ada kejunya di rumah sepupu papa, papa langsung sesak dan masuk ke rumah sakit."
Mark menceritakan sedikit masa kecilnya pada Marcel. Pria itu sangat senang memiliki kesamaan dengan calon anak tirinya.
Kalian perlu tahu bila Marcel sudah memanggil Mark dengan sebutan papa. Bukan lagi paman. Semua itu atas permintaan Mark.
Mendengar hal itu, Jack segera keluar sebentar dari ruangan. Dia tak sabar untuk mencari tahu hubungan Mark dan Marcel.
"Jika tebakanku benar, anak itu harus diberi pelajaran! Sudah tanam benih sembarangan dan dia malah lupa. Ck … perasaan waktu muda, aku tidak sepertinya. Senakal-nakal anak zaman dulu palingan curi mangga tetangga. Bukan malah tanam benih di rahim anak gadis orang," gerutu Jack sepanjang lorong rumah sakit.
Dia berniat menemui dokter guna melakukan tes DNA antara Mark dan Marcel.
*
*
Sudah tiga hari berlalu pasca kedatangan Naima dan Jack ke rumah sakit. Hari ini adalah hari kepulangan Marcel ke rumah. Untuk saat ini Freya bisa hidup tenang tanpa gangguan dari keluarga Pratama.
Keluarga Pratama benar-benar sudah hancur. Kekayaan yang dimiliki Ozan adalah milik pria itu. Para paman dan bibi Ozan berusaha merebut harta Ozan. Namun, mereka tidak berhasil, karena ada Jimmy yang melindungi hak Ozan.
Terlebih lagi publik terus memantau pergerakan mereka.
Begitu tragis nasib Ozan. Orang tuanya telah meninggal, selepas Amir pergi untuk selamanya. Istrinya mengalami serangan jantung dan berakhir naas di rumah sakit.
Sampai saat ini pria itu tidak mengetahui hal itu.
Kembali lagi pada Jack yang kini telah berada di rumah sakit. Tangannya bergetar membaca hasil tes DNA.
"99% cocok. Itu artinya Marcel memang cucuku. Dia adalah anak kandung, Mark … ya Tuhan … ingin rasanya ku tenggelamkan anak kedua ku itu sungai Nil. Bagaimana bisa dia hidup tenang, sedangkan wanita yang menanggung benihnya hidup menderita," umpat Jack dengan nada kesal.
Dia akan menghukum Mark bila sudah sampai di rumah nantinya.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
Salam aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
__ADS_1