![[Duda] Siasat Merebut Istri Orang](https://asset.asean.biz.id/-duda--siasat-merebut-istri-orang.webp)
Freya mengipasi wajahnya dengan tangan. Wanita itu sangat gugup, karena ketiga bocah kematian itu menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Mereka seperti sedang menilai Freya. Jujur saja wanita itu sangat ingin mencubit pipi ketika bocah itu.
Mereka tampak sangat menggemaskan. Hanya saja wanita itu berusaha bersikap biasa-biasa saja, agar ketiga bocah itu nyaman dengannya.
Ketiga bocah itu tersentak kaget saat sang paman menampar bokong mereka satu persatu. Wajah menggemaskan itu berubah galak lalu menatap tajam ke arah Mark membuat pria dewasa itu berdecak sebal.
"Uncle?! Kenapa tampar pantat kami?" tanya Richo galak seraya mengelus bokongnya.
Pria dewasa itu berdecih sinis. Dia gemas melihat tiga keponakannya memandang Freya dengan sorot mata selidik.
"Karena kalian nakal, cara pandang kalian bertiga membuat calon istri Uncle tidak nyaman!" tukas Mark kesal.
Richo mengerucutkan bibirnya. Dia lalu mendekati Freya yang sedang duduk tegak di sofa tunggal. Dengan entengnya bocah tampan itu mengatakan sesuatu yang mampu membuat Mark terpukul harga dirinya.
"Aunty … kok, bisa jadi calon istri Uncle? Padahal Aunty cantik loh. Cocoknya jadi istri kedua papaku," celetuk Richo membuat Mark dan Freya tersedak ludah. Bisa-bisanya bocah itu mengatakan hal seperti itu.
Andai saja ada ibunya pasti akan menjewer telinga Richo.
Mark yang tak tahan langsung menjewer telinga Richo. Pria itu ingin memberi pelajaran pada sang keponakan agar tidak salah berbicara, sehingga membuat orang lain salah paham atau tersinggung.
"Kamu ya?! Kalau ngomong nggak pernah difilter. Kalau sampai mama kamu dengar apa yang kamu bilang tadi, gimana? Emang kamu mau lihat mama kamu sedih, karena papa kamu nikah lagi?"
Mark mengomeli Richo membuat bocah itu berdecak sebal. Dia menatap tajam Mark dengan mata sipit seperti sang ayah.
"Mama nggak bakal sedih! Karena nanti istri kedua papa bakal urus kami, sedangkan mama bisa terus bersama papa. Lagian kata pak ustadz, laki-laki bisa punya istri maksimal empat! Papa baru ada satu!" celetuk Richo dengan wajah tanpa dosa.
Mark hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia tidak menyangka kalau bocah di hadapannya ini bisa berkata demikian. Kebanyakan anak-anak paling anti dengan ibu baru atau istri baru ayahnya.
Lah, ini malah ingin ayahnya menikah lagi? Benar-benar aneh si Richo.
Richo melawan membuat Mark tak lagi menjewer bocah pintar itu.
"Richa, Richi. Kalian berdua jangan ikuti sikap konyol kakak kalian, ya! Kalian boleh minta adik banyak-banyak sama papa kalian. Tapi, jangan minta mama baru!" tegas Mark mengajari adik-adik Richo, alhasil Richa dan Richi saling pandang.
"Tapi, kami juga ingin punya mama banyak, Uncle! Kayak papanya Juna punya tiga istri," celetuk Richa polos tak tahu bagaimana rasanya dimadu oleh suami.
__ADS_1
Ketiga bocah itu hanya mendengar cerita teman mereka yang bernama Juna kalau punya tiga ibu itu menyenangkan.
Mark mengusap wajahnya kasar. Sudah geram dengan tingkah ketiga anak manusia di hadapannya.
"Lebih baik kalian bertiga sekarang bobo siang. Biar nanti malam kita jalan-jalan ke pasar malam," cetus Mark dengan nada kesal membuat ketiga bocah itu tersenyum cerah.
Mereka bersorak senang, karena memang sangat suka dengan pasar malam.
"Yeee … siap Uncle. Kalau begitu kamu tidur dulu. Aunty cantik … kalau Uncle makan mulut Aunty lagi. Teriak saja, biar nanti aku telepon polisi tidur," ujar Richi polos membuat Freya tertawa kecil. Dia mengacak-acak rambut Richi.
Para bocah itu langsung menghilang dari sana. Mereka bergegas menuju kamar Mark, karena di penthouse Mark hanya memiliki dua kamar. Satu kamar tamu dan satu kamar Mark.
"Uncle … kami numpang bobo siang di kamar, Uncle ya. Terima kasih!" Ricka langsung menutup pintu kamar tanpa menunggu jawaban dari Mark.
Padahal Mark baru saja ingin mengatakan sesuatu.
"Dasar bocah," umpat Mark dengan nada kesal, karena merasa jengkel.
"Mereka sangat menggemaskan ya. Beda banget sama Marcel," ujar Freya lembut teringat putranya yang sering murung dan pendiam.
Bocah itu seperti punya banyak beban pikiran. Meski tidak bercerita pada Freya, sebagai seorang ibu. Wanita itu bisa melihat makna dari sorot mata Marcel.
"Marcel anak baik dan pintar. Aku yakin dia pasti baik-baik saja, karena dia adalah anak wanita kuat sepertimu."
Mark berkata bijak, berharap hati sang kekasih menjadi tenang. Dia tahu kalau Freya sedang memikirkan keadaan Marcel.
Meski tak ayal kalau Mark juga tahu betul kalau Marcel punya trauma berat. Bocah itu tumbuh menjadi anak pendiam, karena kedua orang tuanya terlibat hubungan toxic.
Mark mengajak Freya duduk kembali. Pria itu ingin tahu banyak hal tentang Freya. Mereka berdua baru saja saling mengungkapkan perasaan.
Hari ini adalah hari istimewa bagi keduanya. Suasana kembali ceria seperti bunga yang baru saja mekar. Rona bahagia tercetak jelas di pipi Mark dan Freya.
Mark berdehem pelan untuk mencairkan suasana.
"Ekhm … maafin keluarga kecil adikku, ya. Mereka emang seperti itu. Di mana saja mereka berada pasti suasana jadi ribut, karena tiga bocah itu sangat cerewet dan ekstrovert. Padahal papa mereka dulu orangnya pendiam dan pemalu!"
__ADS_1
Mark berkata dengan nada santai membuat Freya nyaman. Wanita itu tersenyum ramah.
"Mereka bertiga kembar?"
"Iya, kembar … adik iparku itu kembar. Jadi, gen dia menurun ke anak-anaknya."
Mark bercerita tentang keluarga kecil Zayyan. Sesekali keduanya tersenyum dan tertawa, karena tingkah keluarga kecil Zayyan memang sangat lucu dan ceria.
"Ahh … aku juga pengen punya anak kembar," cetus Freya tanpa sadar membuat Mark langsung tersenyum lebar dengan pipi merona.
Freya tersadar. Wanita itu langsung memberi klarifikasi agar Mark tidak salah paham.
"Eh … maksudku, seru kali ya kalau punya anak kembar," ralat Freya cepat. Wajahnya merah padam saking malunya karena telah keceplosan.
"Pasti seru, karena proses pembuatan anak kembar juga sama-sama enak," celetuk Mark mengeluarkan sisi mesumnya membuat Freya melebarkan matanya sempurna.
Wanita itu langsung memukul lengan sang kekasih. Wajah Freya berubah cemberut. Wanita itu tidak suka kalau Mark menjalin hubungan dengannya sekedar untuk tidur bersama.
"Kamu jangan aneh-aneh, deh. Hubungan kita ini masih abu-abu dan tabu, karena aku masih istri orang dan kamu juga seorang duda."
Freya berkata dengan nada tegas. Dia paham ke arah mana Mark berbicara, namun Freya tetap ingin menjaga marwahnya.
Dia tidak mau mengulang kisah masa lalu yaitu tidur dengan pria asing, sehingga lahirlah Marcel.
"Eh, kamu salah paham. Tadi aku hanya bercanda sekaligus berharap, kalau nanti kita menikah, aku ingin kita ikut program hamil anak kembar," jelas Mark cepat saat melihat wajah sang kekasih merah padam.
"Emang kapan kita akan menikah?" tanya Freya ambigu.
"Aku akan mengurus perceraianmu," jawab Mark serius membuat Freya terkejut.
*
*
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️