![[Duda] Siasat Merebut Istri Orang](https://asset.asean.biz.id/-duda--siasat-merebut-istri-orang.webp)
Jantung Freya berdegup kencang. Takut sekali mendengar fakta yang akan diberitakan oleh sang dokter. Hatinya bisa saja berhenti berdebar bila ketakutannya menjadi benar.
"Mohon maaf, keadaan pasien cukup parah. Akibat pendarahan membuat pasien kekurangan darah. Sayangnya stok bank darah kami sedang habis. Apakah di antara orang tua pasien memiliki golongan darah A?"
Sang dokter bertanya pada sepasang kekasih yang sedang dilanda konflik itu. Raut wajah Freya begitu kentara menunjukkan rasa sedihnya.
Teringat golongan darah yang ia miliki tak cocok dengan Marcel. Ingin mencari ayah kandung ayahnya dia tak tahu harus ke mana.
"Golongan darah saya A, Dok. Ambil saja darah saya sebanyak yang dibutuhkan putra kami!" tegas Mark penuh harap. Hatinya sedikit tenang, karena setidaknya dia punya sesuatu yang bisa menyelamatkan nyawa Marcel.
Rasa bersalah dalam hatinya sedikit berkurang. Meski tak ayal dia masih saja takut.
Takut sang kekasih terus membenci dirinya.
Freya menatap wajah Mark. Sedikit rasa bersalah dalam hatinya, karena telah membentak Mark tadi.
"Baik, silahkan ikuti saya untuk menjalani serangkaian tes."
Sang dokter memberi perintah membuat Mark bergegas. Saat pria itu melangkah, Freya mencekal tangannya. Pria itu menoleh ke belakang, dia melihat Freya menatapnya dengan sorot mata kesedihan.
"Tolong selamatkan, Marcel," pinta wanita itu dengan nada lirih.
Mark tersenyum manis. Berharap sekali dia bisa menolong Marcel. Pria tampan itu tak mampu menahan diri untuk memeluk Freya.
Mark mengeratkan pelukan sesaatnya. Dia mengecup kening Freya berkali-kali, mencurahkan kasih sayangnya.
"Aku berjanji akan berusaha menolong Marcel. Jangankan darah, jantung pun akan ku beri untuknya, karena dia adalah anakmu dan tentunya anakku juga."
Mark berkata dengan nada lembut. Setelah itu, dia pergi meninggalkan Freya dan mengikuti sang dokter dari belakang.
Hati Freya terasa hangat mendengar ucapan Mark. Dalam hatinya dia berharap, sang putra selamat.
"Tuhan … tolong selamatkan Marcel," gumam Freya berdoa penuh harap.
*
*
Serangkaian tes telah Mark jalani dan untungnya Mark tidak ada riwayat operasi selama enam bulan sebelumnya dan pria itu tidak memiliki penyakit menular. Mark sehat bugar.
Setelah selesai mendonorkan darah. Tubuh Mark terasa lemah, pria itu terlelap di atas brankar. Mungkin jiwanya juga lelah, karena tadi bertengkar dengan Freya.
Freya menghampiri perawat yang baru saja keluar dari ruangan Mark.
"Di mana dia?" tanya Freya penasaran.
Dia tak sabar menunggu Mark untuk berterima kasih.
"Beliau sedang beristirahat di dalam. Sepertinya jiwa beliau terguncang, karena melihat anak kecil ditembak di depan mata beliau," ujar sang perawat berdasarkan diagnosa dokter.
Freya yang mendengarnya merasa bersalah. Harusnya tadi dia tidak memarahi Mark dan mengatakan kata-kata jahat.
__ADS_1
"Kalau begitu, apa boleh saya menjenguknya?"
Sang perawat menganggukkan kepalanya cepat. Tak mau menunggu lama, Freya segera masuk ke dalam ruangan. Dia melihat Mark terlelap di atas brankar. Keringat dingin membasahi kening kekasihnya.
"Maafin aku, Mark," lirihnya pelan seraya membelai pipi sang kekasih.
"Jangan pergi, Freya … Marcel … jangan pergi. Jangan tinggalkan aku …."
Mark mengigau dalam tidurnya. Pria itu sangat tertekan dengan ancaman Freya sebelumnya, sehingga terbawa mimpi.
Hati Freya berdesir. Dia merasa bersalah pada sang suami. Andai saja tadi Freya bisa mengontrol amarahnya, pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi.
Mark tetap tenang bersamanya. Segera dia mengusap kening sang kekasih, berharap bisa menenangkan Mark yang sedang resah dalam tidurnya.
"Sutt … tenanglah, Mark. Aku tidak akan meninggalkanmu," lirih Freya pelan di dekat telinga Mark.
Sangat ajaib, Mark langsung tenang. Kerutan di keningnya tidak ada lagi.
*
*
Operasi Marcel berjalan dengan lancar. Semuanya telah baik-baik saja, peluru di dada Marcel juga telah lama dikeluarkan. Kondisi bocah tampan itu tak lagi sekarat, saat ini Marcel telah dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP.
Hati Freya menjadi tenang setelah mendengar penjelasan dokter terkait keadaan putranya yang tak lagi kritis. Mungkin tunggu beberapa hari Marcel akan sadar.
Suasana di dalam ruangan VVIP itu mendadak canggung. Mark dan Freya sama-sama diam, keduanya tidak ada yang bersuara.
Mark takut bila Freya mengabaikannya. Sedangkan, Freya merasa bersalah pada Mark.
"Halo, Yu."
Mark mendengar dengan seksama laporan dari bawahannya. Senyuman lega terbit dari wajah Mark. Pria itu menganggukkan kepalanya paham.
Setelah selesai, ia akhiri panggilan tersebut sepihak.
Freya yang penasaran pun langsung bertanyalah.
"Ada apa?" tanya Freya gugup.
Mark menoleh ke arahnya. Hati pria itu sedikit tenang mendengar suara kekasihnya yang bersedia memulai percakapan.
"Tadi orangku melaporkan kondisi keluarga besar Pratama. Amir telah dikebumikan, sedangkan istrinya masuk rumah sakit, karena serangan jantung akibat musibah yang menimpa mereka."
Freya yang mendengarnya tersenyum cerah. Tidak ada rasa iba dari raut wajahnya. Penderitaannya selama bertahun-tahun di rumah Ozan ternyata telah berakhir.
Mereka yang jahat telah mendapatkan hukuman. Ternyata Tuhan telah menjawab doanya.
"Akhirnya … badai telah berlalu," gumam Freya pelan terdengar oleh telinga Mark.
Pria itu langsung menggenggam tangan kekasihnya. Freya menatap Mark begitu dalam.
__ADS_1
"Kamu masih mau menikah sama aku, 'kan? Aku tahu aku salah, karena gagal melindungi, Marcel. Tapi … tapi aku tidak berniat mencelakainya. Tadinya aku berlari ke arah Marcel saat Amir menembaknya, tapi … peluru itu begitu cepat melesat ke dada, Marcel. Aku … aku …."
Ucapan Mark terpotong saat Freya membungkam bibirnya. Ciuman sesaat itu berakhir.
"Aku yang salah … bukan kamu. Maafin aku ya …."
Freya mengakui kesalahannya. Dia langsung meminta maaf pada Mark guna mengakhiri pertengkaran mereka.
Setetes air mata mengalir dari pelupuk matanya. Pria itu segera memeluk erat tubuh Freya lalu menumpahkan segala rasa sakit yang dirasa.
*
*
Seorang gadis muda mendatangi sebuah rumah sakit jiwa elite. Berbeda dengan rumah sakit lain, di sana pasiennya berasal dari kalangan atas.
"Permisi, saya mau berkunjung untuk menemui pasien yang bernama Ozan Pratama," lapor gadis muda itu pada resepsionis.
"Maaf sebelumnya, Nona. Pasien yang bernama Ozan Pratama sedang tidak baik-baik saja. Saat ini beliau berada di ruangan isolasi, karena sering mengamuk dan memanggil nama Angel berulang kali," jelas sang resepsionis lembut dan ramah.
Jantung gadis muda itu berdenyut sakit. Tidak menyangka bila hal menyakitkan itu dialami oleh pria yang dulunya gagah dan tampan.
"Saya yang bernama Angel," ujar gadis itu membuat sang resepsionis terkejut.
"Boleh saya lihat KTP Anda, Nona?"
Angel segera memperlihatkan kartu tanda penduduknya pada sang resepsionis. Setelah memastikan yang di hadapannya benar Angel. Sang resepsionis menuntun Angel ke ruangan Ozan.
"Lepasin … aku mau Angel! Angel … aku mau Angel."
Terdengar suara Ozan berteriak memberontak. Untung saja kaki dan tangannya diikat sehingga tidak bisa menyakiti orang lain atau dirinya sendiri.
"Bapak," lirih Angel penuh rasa prihatin melihat keadaan Ozan yang sangat berantakan dan menyedihkan.
Pintu ruangan terbuka. Angel tanpa rasa takut segera masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Bapak!" panggil Angel keras guna menyadarkan Ozan yang telah meracau tak jelas.
Ozan tersadar. Dia menoleh ke kanan, matanya langsung berair melihat gadis yang amat dirindukannya ada di depan mata.
"Angel …! Angel … bawa aku pergi dari sini … aku tidak gila … aku tidak gila, Angel!" tangis Ozan pecah seperti anak kecil yang amat merindukan ibunya.
Gadis muda itu tak mampu menahan dirinya lagi. Segera dia menindih tubuh Ozan dan memeluk Ozan.
*
*
Mau season dua novel ini nggak? Kalau mau awab di kolom komentar yah 🥰 kalau banyak author buat tentang Ozan dan Angel 🌹
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏