![[Duda] Siasat Merebut Istri Orang](https://asset.asean.biz.id/-duda--siasat-merebut-istri-orang.webp)
Mark dan Marcel melangkah masuk ke dalam rumah Ozan. Kali ini Freya tidak ikut, karena wanita itu masih memiliki trauma besar. Takut bertemu dengan Ozan dan mertuanya. Banyak luka yang didapatkan saat masih berada di rumah itu.
Seperti biasa, anak kecil tampan itu berlari dalam rumah mantan ayah tirinya. Dia tersenyum cerah menuju kamar Angel.
"Kak Angel! Aku pulang …!" teriaknya keras penuh semangat.
Mark hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Marcel. Bocah itu masih polos, tak banyak yang ia ketahui tentang kejamnya dunia.
"Hati-hati, Marcel. Jangan lari-lari, nanti kamu jatuh dan mamamu marah!" larang Mark dengan nada tegas.
Marcel yang mendengarnya pun berhenti berlari. Dia berjalan cepat menuju kamar Angel.
Mark tak punya kuasa untuk mengikuti Marcel, karena dia hanya tamu di rumah megah Ozan.
Kedatangannya untuk membawa Angel ikut bersamanya.
"Mari ke ruang tamu, Tuan Mark," ajak Feng ramah.
Pria itu tersenyum ringan. Dia mengikuti Feng dari belakang. Setelah dipersilahkan untuk duduk, barulah pria itu mengistirahatkan tubuhnya di sofa panjang.
Tak lama kemudian Amir keluar dari ruang kerjanya. Wajah pria itu masih saja dingin. Aura permusuhan dapat keluar dari tubuhnya, tatapan Amir sangatlah tajam.
"Untuk apa kau kemari anak muda?" tanya Amir dingin dengan gaya bangsawannya.
"Saya datang ke sini untuk menjemput pengasuh Marcel."
Mark menjawab dengan nada yang tak kalah dingin. Dia menatap Amir dengan sorot mata penuh arti.
"Dia sudah pulang kampung dua hari yang lalu," bohong Amir masih memasang ekspresi yang sama. Sepertinya pria itu terbiasa berbohong, sehingga wajahnya sudah ditebak.
Mark menaikkan sebelah alisnya. Dia menatap lekat wajah tua Amir, pria itu tampak serius.
Susah sekali mendeteksi kebohongan. Akan tetapi, hati kecilnya merasa aneh. Dimulai saat Feng menyambutnya di depan pintu tanpa menyuruhnya masuk. Terlebih lagi saat Marcel ingin langsung memasuki rumah. Feng melarang.
"Si tua Bangka ini sangat susah ditebak. Feeling ku mengatakan kalau sesuatu telah terjadi. Tapi, aku tidak punya bukti. Kalau hanya menduga bisa saja aku salah. Apa yang harus aku lakukan?"
Mark bermonolog dalam hatinya. Pria itu berpikir keras mencari jawaban dari dugaannya di dalam hati.
Terdengar suara derap langkah menuju ke arah mereka. Mark menoleh ke kanan, tampak Marcel berjalan ke arahnya. Raut wajah bocah laki-laki itu suram. Matanya berkaca-kaca seperti lampu taman yang hampir pecah.
"Om, Kak Angel nya nggak ada di kamar. Aku cari di halaman belakang gak ada. Di dapur juga nggak ada," keluh Marcel dengan suara serak.
Mark menghela nafas berat. Dia mengusap puncak kepala Marcel penuh kelembutan.
Entah mengapa setiap bersentuhan dengan Marcel ada desiran aneh menjalar dalam hatinya. Seperti sebuah ikatan batin.
"Ternyata Kak Angel sudah pulang kampung, Sayang," balad Mark lembut.
Marcel menengadah. Dia mengerutkan keningnya. Tak percaya apa yang dikatakan oleh Mark, karena dia melihat pakaian Angel masih ada di dalam lemari.
"Nggak mungkin Kak Angel pulang tanpa bawa pulang baju-bajunya, Om. Apalagi tadi foto mendiang ibu Kak Angel masih ada di sana."
__ADS_1
Marcel bercerita pada Marcel kalau Angel sangat menyayangi ibunya. Itulah mengapa foto sang ibu dipajang pada dinding kamar.
Angel juga pernah mengatakan foto tersebut satu-satunya peninggalan sang ibu. Ke manapun dia pergi pasti akan membawanya.
Wajah Amir berubah tegang. Namun, hanya sesaat. Pria tua Bangka itu mengepalkan tangannya erat. Dia geram dengan Marcel yang berpotensi menggagalkan rencananya.
"Bocah itu … ingin sekali dia ku tenggelamkan ke sungai Nil," umpat Amir dalam hati.
Mark langsung menatap tajam ke arah Amir. Hatinya semakin yakin bila sesuatu telah terjadi.
Baru saja Mark membuka mulut. Hendak mengatakan sesuatu, ponselnya berdering.
Pria itu mengerutkan keningnya saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
"Jimmy," gumamnya pelan terdengar oleh Amir membuat pria itu terkejut.
*
*
Sebelum Mark dan Marcel masuk ke dalam rumah.
Jimmy tersenyum lebar saat mengetahui Mark datang. Sepertinya takdir berpihak padanya. Pria itu akan meminta bantuan Mark untuk menolong Angel.
"Lepaskan Angel, Tuan. Saya janji tidak akan menceritakan hal ini kepada siapapun!" pinta Jimmy dengan nada tegas. Raut wajahnya tampak amat serius.
Saat ini dia hanya ingin Angel terbebas dari belenggu Amir.
"Orang mati memang tidak akan bisa bercerita!" desis Amir seraya menyeringai kejam.
Sontak saja Jimmy terkejut mendengarnya. Jantung pria itu berdetak kencang, dia melupakan sesuatu.
Ya, sesuatu yang amat penting.
Saat ini dia sedang berhadapan dengan pria licik dan psikopat.
Pria muda itu hanya bisa membeku di tempatnya. Pintu ruangan terbuka, barulah Jimmy tersadar kalau anak buah Amir telah masuk.
"Lepaskan saya!" sentak Jimmy berusaha memberontak. Meski tenaga Jimmy besar, namun dia tetap kalah bila berhadapan empat pria yang ahli ilmu bela diri.
Terjadi perkelahian antara Jimmy dan empat anak buah Amir. Hanya berlangsung beberapa menit. Setelahnya Jimmy jatuh tak sadarkan diri saat tengkuk lehernya di pukul.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah!" titah Amir dingin.
"Baik, Tuan."
Mereka membawa Jimmy ke ruang tanah. Tak lupa mereka mengikat kaki dan tangan Jimmy. Ponsel pria itu disita.
"Pak Jimmy."
"Pak Jimmy."
__ADS_1
"Pak …."
"Bapak …!"
"Bangun, Pak!"
Samar-samar Jimmy mendengar seseorang memanggil namanya. Pria itu membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah ruangan tak terurus.
Ingin bergerak, namun tak bisa. Kedua tangan dan kakinya diikat silang.
"Syukurlah Bapak sudah sadar," gumam Angel pelan.
Jimmy menoleh ke kiri. Tampak Angel juga diikat sama sepertinya.
Pria itu bergidik ngeri saat melihat wajah Angel babak belur. Rasa iba dalam hatinya semakin besar saat matanya menatap cairan merah yang sudah kering di telinga Angel.
"Ya Tuhan, Angel. Kamu tidak apa-apa? Berapa lama kamu di sini?" tanya Jimmy bertubi-tubi membuat Angel sedih.
Gadis itu menundukkan kepalanya. Teramat sesak mengingat musibah yang menimpanya. Seharusnya dia pergi saja saat Marcel juga pergi.
"Sudah tiga hari, Pak," jawab Angel parau.
Jimmy ingin bertanya banyak hal. Namun, dia mengurungkannya. Teringat bila Mark sedang berkunjung di rumah ini. Berharap pria itu bisa membantu dirinya.
"Ponselku," gumam Jimmy pelan.
"Sudah diambil tadi sama anak buah Tuan besar," ujar Angel membuat Jimmy menghela nafas berat.
Sejenak pikirannya buntu. Berusaha sekuat mungkin mencari jalan keluar. Hingga sebuah ide terlintas dalam benaknya. Jimmy melihat ke arah tangan kirinya.
Senyuman manis terpasang di wajah. Pria itu bersyukur, karena Tuhan sangat baik padanya.
Jam tangan mahal masih melingkar di sana. Untung saja anak buah Amir tidak melepas jam tangan tersebut.
Jam tangan tersebut kegunaannya sama seperti ponsel.
"Hei Siri, tolong hubungi Tuan Mark CEO Bumi Gas Grup!" titah Jimmy tenang.
Tak butuh waktu lama, status memanggil berubah menjadi panggilan terhubung.
Mark : Halo.
Jimmy : Tuan, tolong saya dan Angel. Kami berdua disekap dalam ruang bawah tanah.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️